Jerit.

Tinggalkan komentar

September 4, 2017 oleh kikisenyo

Tidak pernah kumengerti tentang apa yang sebenarnya ada di pikiranku. Tentang hal-hal yang selalu muncul di bayang angan-anganku. Tentang teriakan-teriakan yang sayup-sayup terdengar di balik kegelapan. Tentang semua gemeretak dan ketakutan yang kurasakan. Tentang makhluk-makhluk tak kasat mata yang selalu mengganggu halusinasiku. Tentang tekanan dari orang-orang dan pikiran negatif yang mengikutinya.
 
Tentang segala hal absurd yang semakin lama semakin tidak jelas, semakin lama semakin menggila, semakin lama semakin mencekamku, dan semakin lama di dalam sana, membuatku terus menggeliat – ingin meminta tolong, lalu sedih tak berdaya membayangkan senyuman-senyuman manis yang akan menghilang jika pertolongan datang.
 
Terlalu panjang menjelaskan hal yang tidak pernah jelas.
Terlalu terperinci untuk memahamkan hal yang sebenarnya tidak pernah ada – namun mampu membuatku ingin bunuh diri hampir setiap hari, di setiap saat aku memikirkan hal itu.
 
Lalu satu per satu orang tertawa – entah menertawakan apa. Yang jelas, aku tidak akan pernah diterima di akal sehat mereka. Mereka tidak mau bersama orang sampah sepertiku, yang terus bersembunyi di balik senyuman dan postingan-postingan menyenangkan. Yang membuatku muak dengan semua kepalsuan yang kubuat sendiri.
 
Dengarlah! Aku tidak pernah nyaman dengan diriku sendiri. Aku tidak pernah bisa menerima keadaan diriku sendiri. Aku tidak pernah bisa untuk menjadi lebih baik lagi. Aku tidak pernah ingin berlama-lama menjalani ketidaknyaman ini. Aku tidak pernah mau untuk bangun lagi keesokan hari – hanya untuk kembali berpura-pura. Pernahkah kau pikirkan itu? Pernahkah kau menanyakan itu? Pernahkah kau mengajakku duduk bersama lalu memelukku erat sambil mendengarkan isi hatiku? Tidak.
 
Rasakanlah! Kecamuk dalam diriku yang terus membuatku seperti orang gila setiap harinya. Teriakan-teriakan ketakutan yang berusaha kusembunyikan dalam gelak tawa. Keinginan untuk menyayat tanganku sendiri dan membiarkan seluruh darah mengalir bersama nyawaku yang tinggal hitungan menit. Pernahkah kau tau tentang itu? Pernahkah kau berbicara dari hati ke hati denganku? Menanyakan apa yang sebenarnya ada di dalam diriku? Menanyakan apa yang seharusnya kau lakukan untuk membantuku? Menanyakan pengorbanan yang bisa kau berikan untuk kembali membuatku bersemangat menjalani hidup? Pernahkah? Tidak.
 
Lihatlah! Aku yang selalu ada untuk membuatmu tertawa. Aku yang selalu berusaha untuk membuat orang-orang di sekitarku senang. Aku yang selalu berusaha terlihat sehat walaupun tidak tidur berhari-hari. Aku yang menangis dalam diam, dalam gelap. Aku yang tidak ingin membuat kau terluka. Aku yang terus mencari cara untuk membahagiakanmu dan orang-orang di sekitarmu. Pernahkah kau menyadari itu? Pernahkan kau menggenggam tanganku, memberikanku semangat, memberikanku kekuatan, memberikanku motivasi, yang jelas akan memberikan umur tambahan padaku? Pernahkah? Tidak.
 
Ingatlah! Segala hal yang pernah kau lakukan padaku – dan hal-hal yang pernah kau katakan padaku? Tentang diriku, tentang perangai burukku, tentang pola pikirku, tentang sudut pandangku, tentang keluargaku, tentang pekerjaanku, tentang apapun yang muncul di otakmu dan langsung kau lontarkan tanpa berpikir panjang. Pernahkah kau menyesali itu? Pernahkah kau berubah menjadi lebih baik? Pernahkah kau memperbaiki dirimu? Pernahkah? Tidak.
 
Lalu kau, dan semua orang di belakangmu, mereka yang di sekelilingmu, yang berada di bawah pengaruhmu, mencercaku dalam ekspresi-ekspresi bahagia – namun mengejekku dalam hati busuk mereka. Mereka, orang-orang yang mengajakku tertawa, adalah orang-orang jahat yang sebenarnya menertawaiku, yang terus menganggapku bodoh karena pilihan hidupku.
 
Lalu kau, mengatakan sumpah serapah menjijikkan yang pada akhirnya harus kutelan bulat-bulat, mengangguk, dan mengatakan diriku bodoh, untuk kesekian kalinya, di setiap harinya.
 
Lalu mereka, sudahlah. Aku pun tidak peduli lagi dengan riweuh suasana di sekitarku.
 
Lalu aku, masih terus merasa kecil, karena sebenarnya, aku tidak pernah diterima, kan?
Batam, 4 September 2017
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: