Cerita Si Pemuda

Tinggalkan komentar

Agustus 10, 2016 oleh kikisenyo

Ada sebuah cerita tentang anak muda yang menyukai berbagai macam hal, menyenangi semua orang, melakukan semua aktivitas, dan bersemangat menunggu hari esok. Hal itu dilakukannya semata-mata hanya karena ia tidak ingin memikirkan dirinya sendiri, karena ia tidak menyukai senyumnya yang manis itu, karena ia tidak menyetujui semua hal yang dipikirkannya, dan karena ia tidak tahan untuk selalu berkata terus terang mengenai hidupnya.

Ada sebuah cerita mengenai seorang remaja yang sangat disayangi oleh orang tuanya, didukung lahir batin oleh saudara-saudaranya, diberikan semangat oleh sahabat-sahabatnya, dan dipercaya oleh orang disekitarnya. Tapi hal itu tidak mengena di hatinya, tidak masuk ke pemikiran sehatnya, tidak tertampung di dalam sudut pandangnya, dan tidak terpatri dalam sanubarinya.

Ada sebuah cerita tentang anak lelaki yang patah hati ditinggal kekasihnya, kehilangan semangat hidupnya, menangis dalam hatinya, dan terus bertahan hidup dari godaan untuk membunuh dirinya sendiri. Hal itu tidak diketahui oleh orang lain, tidak dimengerti oleh sahabatnya, tidak terdengar dalam doanya, dan tidak mendapat pencerahan dari orang tuanya.

Ada sebuah cerita tentang dia – si anak muda lelaki, yang berusaha mencari keberadaan Tuhannya, dari berbagai doa dan cerita nabi, hingga diskusi dengan ustad, pastur, biksu, pendeta, dan bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang hilang dari dirinya? Apa ada Tuhan di dalam dirinya? Apa yang membuat dirinya merasa kurang? Apa yang seharusnya yang ia lakukan? Mengapa Tuhan menjadi arogan untuk menunjukkan diriNya yang sebenarnya?

Ada sebuah cerita tentang si pembuat cerita, tentang berbagai hal yang terus dicari tahunya, tentang berbagai syair yang berusaha dipahaminya, tentang semua lagu yang didengarkannya, tentang semua hal yang mengusik pikirannya, tentang semua jenis makanan, kisah cinta, pengalaman hidup, dan usaha menjelajahi dunia.

Pernahkah ada yang mengerti tentang hidup si pemuda?

Pernahkah ada yang berusaha mendekati dirinya dan bertanya “apa yang terjadi pada dirimu?”

Pernahkah ada yang mencoba mencari celah dalam hatinya dan berusaha menjadi sosok yang menyempurnakannya?

Pernahkan hal yang katanya ‘mimpi’ itu menjadi nyata?

Pernahkah ia akhirnya puas atas hasil kerja kerasnya?

Pernahkah ia menjadi orang yang mendengarkan ucapanmu?

Apakah ia mengacuhkan semua ucapan dan menjadi pengacau untuk semua mimpi-mimpimu?

Apakah ia menjadi sangat tertutup dan tidak menceritakan apapun kepadamu?

Apakah ia – si pemuda, mampu menggoyangkan hati dan menggetarkan jiwamu?

Semuanya kembali pada cerita yang mengangkat tema kehidupan si pemuda, mengenai berbagai alur dan liku kehidupannya. Semua hal yang terlihat bahagia namun tidak dirasakannya, karena ada hal yang kosong dalam dirinya, yang bahkan ia pun tidak mengerti cara menjelaskannya.

Ia – si pemuda yang berkata kasar di sosial media, adalah sosok teladan di sekolahnya. Ia – si pemuda yang berjalan angkuh menuju panggung bercahaya, adalah orang yang tidak dipuja. Hidup memang tidak adil. Ketika kau menjadi sosok yang kasar dan menerjang semua hal yang tidak kau suka di sosial media, semua orang menjauhi dan menekanmu. Pun saat kau menjadi orang yang baik di dunia nyata, dikembalikan lagi pada pernyataan buruk yang telah kau sesali.

Lalu si pemuda menjadi orang yang pendiam, dan kemudian menangis di sudut kamarnya. Padahal dulu ia sangat periang. Lantaran pilihan hidupnya, ia menyesalinya karena semua orang tidak dapat menerimanya. Apa salahnya menjadi orang yang salah? Kau pikir, apakah itu salah?

Si pemuda tidak dapat menjelaskan apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang ia tahu, ia salah. Yang ia tahu, hal yang dilakukannya tidak benar. Yang ia tahu, orang tuanya akan membunuhnya jika mengetahui kesalahannya. Yang ia tahu, negaranya tidak membenarkan perbuatannya. Yang ia tahu, Tuhan akan menghukumnya. Yang ia tahu, ia membenci dirinya.

Kembali lagi pada semua hal yang dilakukannya. Ia terus berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Ia terus menebarkan senyum terbaiknya. Ia menjadi orang yang peduli pada sesamanya. Tapi tidak ada yang tahu, si pemuda membutuhkan perhatian lebih dan orang yang mampu membaca pikirannya. Si pemuda membutuhkan orang yang memberikan pelukannya, dan menjadi tempat paling dipercayanya,

Lalu ketika seseorang menawarkan bantuan dan kepercayaan muncul, si pemuda merasa bahagia dan mulai memperbaiki dirinya. Sialan, ternyata hatinya semakin dihancurkan oleh si pemberi bantuan yang mengkhianatinya. Sialan, ternyata ia kembali melakukan kesalahan fatal yang semakin disesalinya. Sialan, si pemuda harus kembali memakai topengnya, berbahaya jika orang sekelilingnya mengetahui kegundahan hatinya. Sialan, orang itu memang menyebalkan.

Tentang ketampanannya, siapa yang tidak tergoda? Tentang cara bicaranya, siapa yang tidak percaya? Tentang kemapanannya, siapa yang tidak tergiur? Tentang prestasinya, siapa yang tidak iri?

Jelas si pemuda memercayai orang tersebut. Tapi sialan.

Sialan.

Sialan.

Sialan.

Si pemuda tahu batas kemampuannya. Bertahun-tahun dalam kegelisahan yang sama. Bertahun-tahun mendoakan hal yang sama. Bertahun-tahun mencari kenyamanan yang sama. Bertahun-tahun.

Bertahun-tahun.

Bertahun-tahun.

Ya, bertahun-tahun!

Pernahkah kau mendengar cerita si pemuda yang mendapatkan banyak gelar dan kebanggaan yang merupakan pencapaian yang disenanginya? Pernahkah kau mengikuti kehidupan si pemuda dari berbagai cerita dan dari akun sosial medianya? Pernahkah kau tahu tentang penderitaan yang dituliskannya melalui diary-nya? Pernahkah?

Pernahkah?

Pernahkah?

Pernahkah?

Lalu si pemuda berusaha untuk memahami dirinya. Tapi, ia benar-benar tidak memahami dirinya. Bahkan sedikitpun ia tidak menemukan motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Walaupun harapan itu ada.

Walaupun harapan itu nyata.

Kini, kau memahaminya, ‘kan?

 

7 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: