Cerpen – Kisah Perjuangan

Tinggalkan komentar

Mei 25, 2014 oleh kikisenyo

Kisah Perjuangan

Hidup di zaman perang bukanlah suatu hal yang kuinginkan. Mati di medan tempur, kehilangan orang kesayangan, merasakan kelaparan dan ketakutan, serta derai air mata yang tak kunjung habis.

Tapi hidup di zaman modern seperti saat ini ternyata tidak pula hal yang menyenangkan. Bertemu dengan orang-orang apatis, jayus, masa bodoh, mau menang sendiri, sombong, tak mau mengalah, dan sikap-sikap lain yang tidak patriotis.

Bukannya aku menyalahkan takdir Tuhan, bukan pula aku tak menyukai hidupku. Tapi bertemu dengan orang-orang yang tetap sibuk membaca komiknya atau mengurusi rambutnya saat kau berbicara padanya adalah hal yang sangat menjengkelkan. Hei, aku berbicara padamu!

Saat listrik mati, aku selalu mencari lilin untuk penerangan. Saat seseorang terpeleset lantai basah, aku mengulurkan tangan untuknya. Saat beberapa ekor bebek menyeberang jalan, kuhentikan laju motorku karenanya. Lalu mengapa anjing tetangga terus menggonggong padaku?

Pernah suatu ketika anjing tetangga itu meminta makan padaku. Kuberikan ia makan, dengan syarat dia harus menuntunku berjalan saat mataku tak bias lagi melihat. Ia menyetujuinya, dan memakan dengan lahap makanan yang kuberikan.

Kini cahaya lilin yang kuhidupkan tak lagi bias kulihat. Kini saat aku terpeleset tak kutemukan tangan yang menjulur menolongku. Dan kini aku merasa seperti bebek yang takut tertabrak saat menyeberang jalan. Dimana anjing sialan yang dulu kuberi makan?

Lelah rasanya terus-menerus meraba perjalanan karena kebutaan ini. Ada banyak kerikil tajam yang kupijak, ada banyak duri dari mawar yang kupetik, dan sialnya, semakin banyak anjing yang menggonggong padaku.

Sekali lagi kutemui anjing yang kelaparan dan meminta makananku. Dasar binatang, setelah menggonggong padaku lalu dengan polosnya ia meminta makanan padaku. Niat hati ingin memberinya makanan, tapi sayang, aku tidak memiliki makanan kecil saat ini. Sialan, anjing itu menggigit kakiku dan segera berlari meninggalkanku.

Bayanganku seketika melesat ke medan tempur di masa lalu. Aku adalah seorang ksatria dan mataku kembali bisa melihat. Aku memegang senapan besar dan siap menembak target. Ajaibnya, salah satu target tembakanku adalah si anjing penggigit. Ingin rasanya aku menembaknya, tapi rasa iba terus menggerogoti hatiku. Aku tak mampu menembaknya, senapanku terjatuh.

Raja turun dari singgasananya untuk menemuiku. Ia memarahi tindakan bodohku. Ia mengatakan aku adalah seorang pengecut. Atas hal yang baru saja kulakukan itulah, raja menjatuhkan hukuman penggal padaku.

Algojo berbadan besar segera datang, dan menebaskan kapak besar yang dipegangnya hingga kepalaku langsung terpisah dari leherku. Darah melimpah ruah dari leherku, dan au segera tumbang karena hal itu. Mengapa ia dan sang raja tak menghargai hidupku? Padahal aku menghargai hidup si anjing penggigit!

Kini aku mengangkasa, melihat dunia dari atas langit. Merasa menjadi penguasa yang sangat hebat. Terbang kemanapun yang kuinginkan, bermain bersama burung-burung, dan mandi di lebatnya air hujan.

Aku menikmati rasa bahagia yang kurasakan disini. Sialnya, aku masih merasakan hal buruk di khayangan ini. Sebuah petir menembakku, menjatuhkanku kembali ke bumi.

Keterpurukanku kembali ke bumi membuatku rapuh. Sedih rasanya saat seorang malaikat menghampiriku dan memberitahu bahwa tempat tinggalku selanjutnya adalah di dalam tanah.

Kutinggalkan semua cerita yang selama ini kujalin. Mulai dari percintaan, pengkhianatan, kepercayaan, persahabatan, kesabaran, dan segala lainnya yang sudah diatur dengan sangat hebat oleh Tuhan.

Tubuhku akan dibalut oleh kain putih, itu yang diucapkan malaikat tadi padaku. Lalu ia mengatakan hal-hal yang sulit kuterima, antara kenyamanan dan kesengsaraan.

“Hidup ini adalah perjuangan.” Ujarku sebelum menutup mata. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: