Barong

Tinggalkan komentar

Desember 5, 2013 oleh kikisenyo

Barong

            “Seandainya Neverland tempat tinggal Peterpan itu benar-benar ada, pasti sangat menyenangkan tidak pernah menjadi tua.”

 Menikmati masa kecil yang tak pernah ada habisnya, menghabiskan waktu bermain selamanya, mencintai dunia sesukanya, tersenyum sepanjang waktu, dan hal itu pasti akan membuatku bahagia. Sedangkan menjadi tua, apa enaknya? Aku benci pada pikiran orang dewasa yang memusingkan, tak suka pada kisah asmara kompleks pada wanita kesukaan, terlebih pada beban pikiran mereka yang tidak ada habisnya. Intinya aku benci umurku bertambah!

            Orang-orang pasti suka dengan ulang tahun, mendapat banyak ucapan selamat, makan kue dengan krim, meniup lilin, dan meletuskan balon. Tapi aku tak terlalu suka dengan itu, terutama pada balon. Tak usah tanya alasannya, aku tak akan menjawabnya.

Lilin yang meliuk dan mati setelah ditiup, balon yang meledak setelah diletuskan, dan orang-orang yang menghilang setelah mengucapkan selamat. Huh, untuk apa mereka semua ada jika sesudahnya akan sirna? Untuk apa aku hidup jika setelahnya aku tak bisa menjadi apa-apa – mati?

Kenapa Tuhan tidak membuat Neverland dan menjadikannya Everland?

***

            “Seandainya waktu bisa dikembalikan, pasti menyenangkan tidak pernah bertemu dan kenal dengannya”

            Ulang tahun yang membuatku tua, membuat aku harus keluar dari zona aman, nyaman, dan bahagiaku. Menjadi tua sangat menyebalkan.

Aku merasa didiskriminasi saat harus pergi dari mereka – aku sudah tua!

Aku merasa disingkirkan ketika tidak lagi menjadi anggota mereka – aku sudah tua!

Aku merasa jauh saat mereka tertawa, dan tak ada aku disana – aku sudah tua!

Harapan untuk dapat memutar waktu dan tidak pernah bertemu dan mengenal mereka, menjadi semakin besar saat krim ulang tahun dioleskan ke wajahku. Krim itu hilang saat orang-orang disekitarku juga menghilang. Waktu memang tidak adil, kenapa jatahku hidup di dunia diambil semena-mena?

Dia – yang dulu ada untukku, yang ada di sampingku, yang memerhatikanku, yang menjagaku, dan mengasihaniku, juga sudah hilang di ulang tahun sialan ini. Sudah hilang dari peredaran dan muak dengan tatapanku, kemudian dia berputar-putar di langit dan muncul di antara para raksasa. Ah, memang sudah takdirnya dia akan menghilang dari pandanganku, dia kan juga menjadi tua!

Dia sudah punya yang baru ya? Pantas saja, dia kini berada jauh di utara, sedangkan aku di selatan. Aku tak bisa lagi melihatnya dari ujung rumahku. Hmm, aku sebenarnya buta arah, tapi kurasa mata angin yang kuberikan tadi memang benar.

Seandainya aku punya kekuatan untuk kembali ke masa lalu, aku ingin mengubah skenario kehidupan sehingga aku dan dia hanya sebatas teman.

***

“Seandainya mekanik masa bisa bekerja, aku ingin memesan saat barong itu terluka”

Lupakan sejenak keinginanku untuk menjadi sekedar temannya. Walau ingin melupakannya, aku tak ingin lupa pada luka yang ada pada barongku. Aku jatuh cinta pada luka sobekan itu. Biarkan sajalah barong hangat yang mesra, bahagia, bergelora, panas, dan bernafsu itu terluka, memang itu yang kuinginkan, memberikan kenangan pada pelukan, ciuman, dan cupang yang kulakukan pada “seseorang” di kandang babi, siang hari waktu itu.

Barong itu awalnya bahagia mendapatkan majikan sepertiku, yang walau berparas buruk tapi tak pernah mencari orang buruk untuk dipeluk. Maksudku, mengapa mencari orang buruk jika suatu hari nanti akan ditinggalkan juga karena menjadi tua? Kalau mendapat yang berparas elok, sangat menyenangkan kan?

Barong itu pun tak jauh berbeda denganku, dia juga buruk, malah menyeramkan. Karena gigi taringnya keluar dari kedua sisi mulutnya, dan matanya selalu melotot. Tapi bedanya, dia turun dari surga, bukan sepertiku yang dilahirkan seorang ibu.

Barong itu kuajak kemanapun, dia bahkan sering melihat tubuhku yang telanjang. Dia adalah satu-satunya saksi adegan pertempuran ranjang di kandang babi yang kulakukan dengan seseorang yang mulai kupanggil sebagai “orang-yang-melupakanku”. Barongku terluka kala itu karena diserang oleh orang sialan itu. Kasihan melihat Barong menyeramkan itu menangis, aku pun iba melihat dirinya terluka. Tapi saat itu aku memang benar-benar jatuh cinta pada “orang-yang-melupakanku” itu, sehingga menyepelekan tangisan Barong.

Sampai saat ini Barong masih terluka, dengan luka menganga yang tak bisa kusembuhkan. Sudah satu tahun Barongku merasakan sakit itu, dan aku selalu tertawa bahkan ingin melihatnya mendapat serangan lagi. Dan jika seandainya ada seorang mekanik masa yang mau membantuku, aku ingin lagi ke kandang babi itu.

***

Ketika ulang tahunku beberapa hari lalu, Barong yang kusekap di penjara menggonggong memanggilku. Sudah berapa bulan sejak terakhir kali aku memberinya makan, dan dia masih peduli padaku. Luka menganga di pinggang kirinya memberikan rasa sakit yang juga muncul dari dalam dadaku. Mengapa aku menjadi tua, dan orang yang bertempur denganku sudah tidak pernah lagi datang ke medan perang?

Barong menangis di hadapan cermin, dan itu jelas merefleksikan rasa sedih yang teramat. Aku sebagai majikannya pun ikut menangis, mengapa aku membiarkannya terluka oleh orang yang juga akan menjadi tua dan meninggalkanku? Mengapa aku bahagia karena nafsu ketika Barong terluka oleh dia yang tidak bertanggung jawab?

Esok harinya, hujan turun sangat deras dan aku bersembunyi dan menangis di balik air berkah itu. Barong sudah tidak bisa kembali ke surga karena salahku. Aku mengadopsinya tetapi tak menjaganya.

Barong sudah tidak berwarna merah cerah seperti dulu lagi. Aku juga tidak merah merona seperti dulu. Dan “orang-yang-melupakanku” itu selalu bersembunyi di balik warna merahku.

Oh ya, aku baru menerima ucapan “Selamat Tua” darinya hari ini. Ah, biarkan saja, dia juga akan meninggalkanku kok.

 

Padang, 5 Desember 2013

Salam sayang untuk Barong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: