Babi Periang yang Peraung

Tinggalkan komentar

September 5, 2013 oleh kikisenyo

Babi Periang yang Peraung

Di peternakan, babi senang bergumul di lumpur kotor di kandangnya. Hal itu menjadikannya sangat bau. Suaranya pun sangat buruk, tapi peternak sangat menyayanginya karena ia berbadan gembul.

Babi memiliki mimpi yang sangat tinggi. Ia ingin pergi ke bulan, bermain bersama bintang-bintang, menghangatkan dirinya dengan matahari, terbang menggunakan komet, dan kembali ke bumi bersama rintik-rintik hujan.

Leher yang dimiliki babi sangat pendek, sehingganya ia tak bisa menengadah untuk melihat bulan purnama, mengagumi bintang-bintang, menyapa matahari, menyaksikan komet, dan menyambut kedatangan hujan. Ia selalu mengandalkan genangan air di depan kandangnya, untuk memberi salam kepada mimpi-mimpinya itu.

Genangan air selalu merefleksikan langit kepadanya. Langit biru sangat indah, babi selalu tersenyum saat melihat ada langit di genangan air tersebut. Dia seringkali bercengkrama dengan burung, mengungkapkan keinginannya terbang di angkasa. Burung sudah mengelilingi dunia ini, dan ia berbagi kebahagiaan kepada babi yang tak pernah keluar dari peternakan.

Babi selalu menatap langit melalui genangan air. Pun melihat wajahnya sendiri, yang buruk rupa. Mengapa babi memiliki moncong yang panjang? Mengapa babi memiliki hidung yang petak? Mengapa babi memiliki badan yang besar dengan kaki yang kecil? Mengapa leher babi sangat pendek? Mengapa babi diciptakan seperti ini?

Peri datang memberi jawaban. Menyapa babi dengan senyuman manisnya. Memberikan jawaban yang menenangkan. Babi tertegun, mengapa peri cantik ingin berbicara padanya? Babi tersenyum, sembari mengucapkan terima kasih.

Di peternakan, babi bersahabat dengan kerbau dan monyet. Kerbau yang tinggi dan besar sering membantu babi yang pendek dan kecil. Kerbau sering melindungi babi dari hujan badai, membagi makanannya, dan mengajarkan babi cara mendengkur yang menyenangkan. Monyet juga begitu, ia membagi pisangnya untuk dimakan bersama. Monyet juga pandai memijat dan menggaruk, babi sangat menyukainya.

Malam ini hujan badai. Dingin sekali. Di kandangnya, babi ingin tidur di jerami, tetapi air masuk ke kandangnya dan membuat basah jeraminya. Kerbau dan monyet tak ada disini, peri pun tak kunjung datang. Babi yang kedinginan langsung terserang flu. Malam ini sangat berat dilalui, babi demam tinggi.

Peternakan banjir. Peternak kesulitan menyelamatkan ternaknya. Kucing dan kambing sakit karena lama berada di air. Anjing terus-terusan menyalak meminta tolong. Bulu domba basah kuyup. Kerbau dimana? Monyet dimana? Mereka dimana?

Malam tadi babi tak melihat bulan, bintang-bintang dan komet. Malam tadi babi tidak suka dengan hujan, karena dia ketakutan! Pagi ini babi tidak melihat langit dan matahari, gelap sekali. Genangan air di peternakan terlalu banyak, babi tidak suka dengan air. Burung-burung tidak terbang mencari makan, banjir menenggelamkan padi. Tikus-tikus keluar dari sarangnya, ular dan elang siap berburu!

Babi takut dengan kondisi yang kacau balau seperti ini. Mengapa Tuhan menurunkan hujan dan badai yang membuat susah seperti ini? Mengapa Tuhan tidak mempertemukan babi dengan kerbau dan monyet? Mengapa Tuhan menghancurkan mimpi-mimpi babi bersama bulan, bintang-bintang, komet, dan matahari? Mengapa rintik hujan yang membawanya kembali ke bumi malah menenggelamkan kandangnya? Mengapa langit tempat bernaung mimpi-mimpinya berwarna hitam? Babi ‘kan ketakutan. Kasihan babi, dia menangis, tapi suaranya yang buruk itu membuat kegaduhan dan peternak semakin panik karenanya.

Babi meraung-raung meminta tolong. Babi meraung-raung memanggil peri. Babi meraung-raung memanggil kerbau dan monyet. Babi meraung-raung minta dikembalikan semua mimpinya. Babi meraung-raung, dan terus meraung-raung. (*)

Padang, 5 September 2013

Penulis di kandang babi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: