Dia Butuh Nafas

Tinggalkan komentar

September 4, 2013 oleh kikisenyo

Tangannya masih mengepal, keras, tak bisa digerakkan. Tubuhnya kaku, keringat terus bercucuran. Dia tak bisa merasakan kakinya. Baju lusuhnya sudah basah, oleh keringat, oleh liur, oleh air matanya. Dia lumpuh, tak bisa bergerak.

Tenggorokan dan bibirnya sakit. Ada sebuah luka di dalam sana. Dia terluka, dia kesakitan, dia menangis, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan. Tangannya tak bisa menyeka air matanya, dari mulutnya keluar liur dan darah menjijikkan. Dia terus menangis, membiarkan air mata, liur, dan darah mengalir bebas di wajahnya. Membuat genangan kotor di alas kasurnya.

Ada masalah di kepalanya. Dia lupa pada masa lalunya. Dia lupa masalah yang terjadi padanya. Otaknya tak memberi respon pada apapun yang terjadi. Otaknya mengeras, memberikan rasa sakit yang tak bisa ditahannya. Pun tangannya tak bisa bergerak, dia tak tahu dimana kakinya, air mata bak mata air, darah bau menghiasi bibirnya. Ada apa?

Bantal guling di sampingnya hanya memperhatikannya. Tak memberikannya pelukan, tak menyeka air matanya, tak membersihkan darahnya, tak menghiburnya. Tatapannya membawa kekosongan, bantal yang menyedihkan.

Nafasnya mulai sesak karena terlalu lama menangis. Dia sesenggukan. Darah di tenggorokannya masuk ke kerongkongan, membuatnya tersedak. Dadanya sakit, tapi tangannya sendiri tak bisa memberikan elusan.

Ia ingin berteriak, meminta tolong atas nafasnya yang tersengal. Tapi tak ada suara yang keluar. Otaknya tak memperbolehkannya bersuara, mulutnya gelagapan, darah di tenggorokannya terus tertelan dan beberapa terus salah jalur ke kerongkongan.

Bantal guling itu masih menatapnya kosong. Kenapa ia tidak memberikan bocah itu nafas buatan?

Dadanya naik turun, mencari nafas yang masih tersedia. Mencoba bergerak dengan kekuatan yang masih ada. Terus berusaha mengeluarkan suara yang hilang entah kemana.

Handphone­-nya berbunyi, ada panggilan masuk, entah dari siapa. Ringtone yang bagus, Rindukan Dirimu – Rio Stevano. Itu panggilan yang mengirimkan doa kematian!

Bila kau harus pergi meninggalkan diriku, jangan lupakan aku..

Semoga dirimu disana kan baik-baik saja, untuk selamanya..

Disini aku kan selalu rindukan dirimu, wahai sahabatku..

Air matanya semakin deras. Ringtone sialan. Hatinya mengutuk doa-doa itu. Hatinya mengutuk si penelepon. Hatinya mengutuk tangannya yang tak bisa menjawab panggilan itu. Hatinya mengutuk otaknya yang terasa semakin mengeras dan membuatnya sakit. Hatinya mengutuk waktu. Hatinya mengutuk rasa sakit yang dirasakannya. Hatinya marah. Ia ingin membanting handphone yang terus mendoakan kematian padanya.

Matanya sudah merah. Hidungnya juga sudah banyak mengeluarkan hingus. Bajunya sudah kuyup, begitu pula dengan alas kasurnya. Orang di ujung sana terus saja meneleponnya, membuat handphone terus bernyanyi lagu mengenaskan itu, membuat hatinya semakin panas, membuat radiasi terus dikirimkan ke kepala lemahnya.

Bocah jelek itu benar-benar cengeng. Seberapa sakit sih, berlebihan sekali. Aku benci pada orang yang norak sepertinya. Dia terlalu melebih-lebihkan, minta dikasihani. Dia lelaki kesepian, dia banci, dia tak punya harga diri. Setiap saat selalu saja menangis. Katakan saja kalau ingin dipeluk, ingin diperhatikan! Tidak perlu menangis dan pura-pura kesakitan. Aku tidak akan tertipu pada akting picisan, murahan, dan rendahan seperti itu!

Dia selalu saja terlihat lemah saat di depanku. Apa maunya sih? Cih, menjijikkan sekali melihat darah itu! Dia pun bau, tak bisa menjaga kebersihan diri. Ketiaknya yang berbulu itu juga sangat bau. Pantas tak ada yang mau berteman dengannya.

Anak itu pun selalu mencari perhatian dimanapun dia berada. Pingsan di tempat umum, minta digendong ke tempat medis, ingin semua orang tahu keadaannya. Gayanya pun menjijikkan, sok keren, sok ganteng, sok asik, selalu menunjukkan kalau dia bisa banyak hal. Benar-benar menjijikkan.

Ah, tapi dia sudah hampir mati. Katanya, otaknya mengeras. Omong kosong macam apa ini? Dia pikir aku akan tertipu untuk kesekian kalinya? Tapi, biarkan saja. Aku tidak peduli dengan hidupnya. Kalau dia mati, sekolah akan libur dalam sehari untuk pemakamannya. Itu yang kutunggu, dan aku akan sangat berterimakasih atas kematiannya, aku dan teman-teman akan terbebas dari pelajaran membosankan dalam sehari.

Semoga saja tidak ada lagi si pencari sensasi yang menggantikannya setelah dia dipanggil sang Kuasa. Aku benci melihat guru-guru memintanya selalu tampil menjadi pembawa acara, aku benci melihat adik-adik kelas mencarinya untuk bertanya banyak hal. Dasar manusia haus ketenaran.

Teleponku tak diangkatnya. Sepertinya penyakitnya sedang meradang. Bagaimana, masih bisa bernafas? (*)

Padang, 4 September 2013

Dia meneleponku

«

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: