Ada Tulisan Buatanku di Buku Tragedi Gempa Padang!

Tinggalkan komentar

September 30, 2012 oleh kikisenyo

Hari ini adalah peringatan tiga tahun gempa besar yang meluluhlantakkan Kota Padang dan sekitarnya pada 30 September 2009 lalu. Peringatan gempa ini dilaksanakan di Monumen Gempa, Jalan Gereja, Kawasan Taman Melati Padang.

Pada peringatan yang dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Walikota dan Wakil Walikota Padang, beberapa elemen masyarakat serta keluarga korban gempa ini, juga dilaksanakan peluncuran buku tragedi gempa yang dibuat oleh Pemerintah Kota Padang.

Buku ini berisi kisah duka para korban gempa dan biografi korban selama hidupnya hingga ajal menjemput. Alhamdulillah, di dalam buku itu, juga berisi tulisanku, tentang kisah Bu Marnis yang turut menjadi korban jiwa di Pasar Impres lantai 2 Pasar Raya Padang. Tulisan ini aku buat bersama 4 orang temanku yang lain, Yulia Oksi Yulanda, Rani Aulia Dwi Nanda, Harpha Nanda, dan Ayu Putri Andira. Kami berlima ditunjuk Bu Monalisa, Kepala Sekolah SMAN 3 Padang, untuk membuat kisah duka Pak Nasir, suami korban, setelah ditinggalkan sang istri.

Di dalam buku tersebut, memang tidak ada nama kami berlima. Karena kami mengatasnamakan tulisan tersebut dengan nama Kepala Sekolah kami, Dra Monalisa, M.Pd, SMAN 3 Padang.🙂

Penasaran dengan tulisan kami? Ini dia:

Antah Bilo Ka Basuo Jo Ummi Lai (Marnis)
Oleh: Dra. Monalisa, M.Pd, Kepala SMAN 3 Padang

Ummi Marnis

Ummi Marnis

Sorot dari mata tuanya masih saja menerawang, mengilas balik kejadian yang sangat membekas baginya, mungkin bukan hanya dia namun juga sebagian besar penduduk kota ini.

Nasir, begitulah panggilan akrab bagi pria berumur 64 tahun ini. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang ojek di sekitaran Jalan Gadjah Mada. Berkeliling mencari penumpang meski ia sudah tak muda lagi.

Dahulu, sebelum menjadi tukang ojek, Nasir adalah seorang pedagang di Pasar Raya Padang. Sehari-harinya ia menjual sarang katupek[1] dan daun pisang untuk dijadikan pembungkus makanan bagi pembeli. Namun, semuanya berubah semenjak kejadian itu, kejadian yang merenggut nyawa orang yang ia sayang.

Ditemui di kediamannya, Selasa, 4 September lalu, Nasir dengan singlet putih dan celana panjang biru gelapnya bercerita mengenai kejadian gempa 30 September 2009 lalu. Nasir ditemani Fitri, anak keempatnya, dan Safira serta Adelia, dua cucunya, kembali menerawang masa lalu kelam yang dihadapinya. Beliau duduk di pale-pale[2] depan rumahnya sambil menghisap  rokok dan ditemani secangkir kopi.

Nasir menyambut kedatangan kami dengan ramah, meski ia tahu kedatangan kami ini akan mengorek luka lamanya, luka yang ia simpan baik-baik di relung hatinya. Dengan ketegaran ia mulai mengurai cerita tentang kejadian itu.

[1] Ketupat
[2] Tempat duduk yang berada di halaman depan rumah. Terbuat dari kayu, biasanya digunakan sebagai tempat bersantai.

Rabu, 30 September 2009 lalu. Subuh itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hawa pagi itu terasa sangat sejuk dan ayam berkokok seperti biasanya, pertanda mentari akan bersinar. Berdua, Nasir dan istrinya, Marnis, memulai hari menuju Pasar Raya Impres 1 Padang, mencari rezeki dari dagangannya. Berharap helaian dedaunan itu berubah menjadi lembaran uang. Hasilnya cukup untuk sekedar mengepulkan asap di dapur.

Tidak hanya dirinya dan istri, tetapi anak sulungnya juga berjualan dagangan yang sama, hanya berbeda lokasinya saja, masih dalam kawasan lantai 2 Pasar Impres.

Hari itu berjalan normal seperti biasanya. Nasir bahkan tidak memiliki firasat akan terjadi suatu hal buruk menimpanya. Begitu pula dengan Marnis, dia tidak merasa ada yang aneh pada hari itu.

“Biaso se sadonyo nyo. Ndak ado nan taraso babeda di hari Rabu do.”[3] Ucap Nasir dengan logat Minangnya yang kental.

Tetapi ternyata perasaan aman yang dirasakan Nasir bertolak belakang dengan kehendak Tuhan. Ranah Minang digoncang dengan gempa hebat berkekuatan 7,9 SR pada pukul 17.24 WIB. Gempa itu meluluhlantakkan seluruh penjuru Kota Padang tanpa ampun. Seketika seluruh orang dilanda kepanikan, tangisan, kecemasan, dan perasaan takut. Dalam sekejap gelak tawa anak-anak berubah menjadi derai air mata. Rumah-rumah berubah menjadi puing-puing, gedung-gedung tinggi ambruk memakan korban, dan jalanan rusak parah menyebabkan kemacetan panjang. Kehilangan anggota keluarga memberikan kecemasan yang luar biasa di dalam jiwa, ketakutan dilanda tsunami memperburuk keadaan. Semua orang memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tidak ada pikiran lain. Gempa hebat itu menghancurkan Padang Kota Tercinta dalam waktu tidak lebih dari satu menit. Memberikan harapan atas segala kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa. Sungguh, Allah Maha Tahu Segalanya.

Ketika gempa masih mengguncang, Nasir yang sedang berada di Pasar Impres 1 lantai 2 langsung meloncat ke bawah tepat di detik-detik sebelum bangunan itu rubuh. Alhamdulillah, beliau jatuh tepat di atas sayur-sayur dagangan tanpa terluka sedikitpun. Ia kalud. Nasir segera berkeliling mencari anak dan istrinya. Ia ingat, beberapa saat sebelum gempa tadi, istrinya meminta izin untuk membeli kebutuhan dapur.

“Wakatu tu, nan Apak pikia’an indak ibuk do. Tapi anak-anak Apak. Jadi pai lah bakaliliang mancari anak Apak dulu”.[4] Ucap Nasir terus menerawang.

[3] “Semuanya biasa saja. Tidak ada yang terasa berbeda hari Rabu itu.”

[4]“Saat itu, yang Bapak pikirkan bukan Ibu. Tetapi anak-anak Bapak. Maka, Bapak berkeliling mencari anak Bapak dahulu.”

Suasana di sekeliling Nasir berubah kacau, sangat kacau. Balok-balok bangunan jatuh menimpa apa saja yang ada di bawahnya. Dagangan, kursi, meja bahkan manusia sekalipun.

Teriakan minta tolong korban terhimpit terdengar sangat menyayat hati. Teriakan dan tangisan mereka benar-benar menggambarkan kesakitan dan ketakutan. Ditemani itu semua, Nasir terus berkeliling mencari anaknya yang hilang. Lama berkeliling dengan hasil nol, beliau akhirnya memutuskan untuk pergi ke Poltabes Imam Bonjol, dengan harapan bisa menemukan anak dan istrinya di sana.

Harapannya memang terkabul, ia menemukan Arnayenti, anak sulungnya di sana, tetapi tidak dengan istrinya.

Dari Poltabes ia melihat gumpalan asap yang menjunjung tinggi dari arah Pasar Raya tanda api mulai mengamuk. Ia langsung bergegas menuju lokasi kebakaran dengan perasaan sangat cemas.

Disana ia menemukan Onang, wanita paruh baya penjual tepung yang ditemukan masih bernyawa dengan kondisi kaki yang terjepit balok bangunan. Sementara, dibelakangnya api terus merambat melalui barang-barang plastik dagangan di bawahnya. Melihat kondisi seperti itu, Nasir langsung meminta Onang bersedia merelakan kakinya untuk diamputasi dengan alat-alat sederhana.

“Nang, baa? Api alah mulai menggadang juo di bawah, di amputasi se baa Nang?”[5] ucap Nasir dengan cemas.

Onang menolak tawaran itu. Ia lebih memilih mati di tempat itu daripada hidup tanpa satu kaki. “Indak do da, bialah ambo mati disiko daripado punyo ciek kaki.”[6] balas Onang keukeuh dengan pilihannya. “Laillahaillah, allahuakbar! Aaaahh, sakik bana kaki ambo nyo! Astaghfirullah…”[7]

Berkali-kali dibujuk, tetap saja Onang menolak tawaran penyelamatan itu. Nasir menyerah meminta Onang untuk merelakan salah satu kakinya. Tak lama berselang api mulai naik ke lantai 2, dengan mata kepalanya sendiri Nasir melihat Onang hangus terbakar dan mati perlahan. Onang berteriak kesakitan, sedangkan Nasir tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

[5] “Bagaimana, Nang? Di bawah api sudah semakin membesar. Bagaimana jika diamputasi saja?”

[6] “Tidak, Da. Lebih baik saya mati disini daripada memiliki satu kaki”

[7] “Laillahaillah, allahuakbar! Aaaahh, sakit sekali kaki saya! Astaghfirullah…”

Perasaan takut mulai menghantui jiwa Nasir. Ia sudah tidak berdaya sejak melihat Onang terbakar hingga menjadi abu. Ia cemas dan merasa tertekan melihat orang-orang terdekatnya banyak menjadi korban. Kemudian beliau berbalik arah ke Poltabes untuk mengantarkan Arnayenti kembali ke rumah. Selama di perjalanan pulang, gundah hati Nasir memikirkan keadaan sang istri yang belum juga ada kabar.

Sampai di rumah, Nasir lebih memilih beristirahat di teras Surau Jambak depan rumahnya. Dengan perasaan letih ia menatap lurus tanpa arah, berharap bahwa semua yang terjadi sore itu hanya mimpi. Hanya mimpi.

“Wakatu tu apak se pulang maantaan anak adulu. Tapikia dek Apak kalau ibuk tu mungkin alah dibaok ka rumah sakik. Soalnyo ibuk tu punyo panyakik jantuang. Kalau takajuik saketek se langsuang nyo pingsan. Makonyo rencana Apak bisuak harinyo ka mancari ibuk ka rumah sakik-rumah sakik.”[8] Ceritanya dengan nada lirih.

Esoknya entah karena terlalu letih atau tidak sanggup menerima kenyataan terburuk nantinya, Nasir meminta anak dan tetangganya untuk mencari Marnis. Setelah pencarian yang melelahkan akhirnya pada Jum’at tanggal 2 Oktober 2009 tepat jam 10.00 pagi Marnis ditemukan dengan kondisi terbujur kaku dalam posisi berpelukan dengan temannya. Meski dapat dikenali, tubuhnya melepuh terkena hawa panas dari kobaran api yang melahap habis Pasar raya. “Kulik ibuk alah bantuak ikan baka.”[9] Lanjut Nasir lagi. Jasadnya dikebumikan pada hari yang sama di Gunung Pangilun.

Tangis tentu tak tertahankan lagi. Tetapi Nasir mengaku tidak trauma dengan kejadian gempa ini. “Apak indak trauma. Karno Ibuk maningga dek manolong kawannyo yang punyo panyakik rematik. Paliang indak Ibuk alah punyo pahalo untuk menghadap Illahi. Ibuk mati syahid.”[10]

Menurut anak keempatnya, Fitri, firasat yang ada sebelum almarhumah pergi untuk selamanya ditunjukkan Safira, cucunya yang saat kejadian itu masih berumur 6 bulan. Saat itu, Safira memegang tas almarhumah saat beliau pulang dari Pasar, seminggu sebelum kejadian. “Safira indak pernah bantuak itu sabalunnyo do. Pas hari tu lo nyo bantuak itu nyo.”[11]  Begitu tuturnya mengisahkan firasat cucu Marnis berhubungan dengan kepergian sang nenek.

[8]  “Saat itu Bapak pulang mengantarkan anak terlebih dahulu. Menurut Bapak, mungkin Ibu sudah dibawa ke rumah sakit. Karena Ibu mengidap penyakit jantung. Kalau terkejut sedikit, bisa langsung pingsan.
Makanya, Bapak berencana untuk mencari Ibu ke beberapa rumah sakit esok harinya.”

[9] “Kulit Ibu sudah seperti ikan bakar.”

[10] “Bapak tidak trauma. Ibu meninggal karena menolong temannya yang mengidap penyakit reumatik. Paling tidak Ibu sudah memndapatkan pahala untuk menghadap Illahi. Ibu mati syahid. ”

[11] “Safira tidak pernah seperti itu sebelumnya. Hanya pada hari itu saja dia seperti itu.”Fitri juga menyampaikan pesan terakhir Ummi (Almarhumah dipanggil dengan sebutan Ummi di keluarga) seminggu sebelum ia menghadap sang Kuasa. “Kalau Ummi maningga bisuak, karpet yang Ummi punyo ko tolong dibantangan untuak urang-urang yang pai  manjanguak Ummi yo.” [12] Ucapnya menirukan pesan terakhir sang Bunda.

Nasir pun melihat ada sesuatu yang berbeda dari sikap Almarhumah sehari sebelum ajalnya. Almarhumah terlihat tidak bersemangat pada hari Selasa, beliau lebih memilih tidur-tiduran ketimbang bekerja. “Hari tu ibuk maleh mangarajoan sadoalahannyo.” [13] Ucap Nasir.

Takdir sudah menjadi suratan yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti aturan main yang sudah ditentukan. Saat ajal menjemput, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak bisa mengingkari bahwa kita adalah makhluk yang lemah.

Ketika ditanya bagaimana Almarhumah dalam kesehariannya, Nasir menuturkan bahwa Marnis adalah seorang wanita yang berani dan bertanggung jawab. Almarhumah memiliki keinginan menyekolahkan anak bungsunya yang masih duduk di kelas 1 SMA, di SMA Negeri 12 Padang. Selain itu beliau juga ingin memperbaiki rumah mereka nan sederhana meski keinginan ini belum dapat tercapai hingga ajal menjeputnya pada peristiwa gempa 30 September itu. “Ibuk tu hobi mamasak. Kalau ka balanjo samba tu pasti ibuk mananyoan dulu ka apak samo anak-anak apo samba nan ka dimasak hari ko.”[14] Begitu kenang Nasir tentang hobi almarhumah.
Dimata tetangga pun Marnis adalah orang yang ceria, penyapa, dan giat bekerja. Tetangga pun merasa sangat kehilangan atas kepergian Marnis. “Ibuk Marnis tu tulang punggung keluarganyo. Ibo bana Ibuk mancalik anak-anaknyo kahilangan amaknyo.”[15] Tutur Ketua RT 01 di kediaman Nasir.

[12]  “Jika suatu saat Ummi meninggal, karpet yang Ummi punya ini tolong dibentangkan untuk alas duduk orang-orang yang melayat”

[13] “Hari itu Ibu malas untuk mengerjakan apapun”.

[14] “Ibu itu hobi memasak, kalau mau belanja kebutuhan memasak Ibu pasti menanyakan dahulu ke Bapak dan anak-anak, kami mau makan apa hari ini?”

[15] “Ibu itu tulang punggung keluarga, saya sangat merasa iba melihat anak-anaknya yang merasa sangat kehilangan Ibu Marnis.”Setitik air mata berkumpul di ekor mata Nasir maupun Fitri. Pandangannya terus menerawang, seakan berkata “Seandainya waktu bisa diputar kembali, tak akan kusia-siakan hari-hariku dengan orang yang kusayang.”. Mereka benar-benar merindukan sosok Marnis, dengan gulai cubadak yang selalu mengisi hari-harinya.

Nasir terlihat begitu merindukan sosok pasangan sahilia samudiak[16] dengannya, Marnis, yang selama ini berbagi kasih dengannya.

Nasir Melihat Photo Sang Istri

Nasir Melihat Photo Sang Istri

Semoga Marnis diterima semua amal dan ibadahnya oleh Allah SWT, serta ditempatkan di tempat paling mulia di sisiNya. Amin.

Nasir, Fitri, dan cucu-cucunya

Nasir saat diwawancarai bersama anak keempatnya, Fitri, dan dua orang cucunya

[16] Selalu bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: