My Experiences in Batam – Trip to Pulau Penyengat

Tinggalkan komentar

Agustus 28, 2012 oleh kikisenyo

            Satu perjalanan mengesankan lainnya yang nyaris gue lupa untuk diceritakan. It’s about my trip to Penyengat Island. Yuhuu, this journey was so amazing!😀

            Satu hari sebelum balik ke Padang, Kamis, 23 Agustus lalu, gue dan Bram serta Brian mengadakan perjalanan nekad ke salah satu pulau bersejarah di Kepulauan Riau, Pulau Penyengat. Pulau ini adalah pulau tempat peristirahatan terakhir raja-raja Melayu, dan juga banyak tempat bersejarah lainnya tentang kerajaan Melayu di Kepulauan Riau.

Dua orang remaja labil dengan seorang anak kecil melakukan perjalanan menyeberangi pulau-pulau, terdengar sedikit nekad, kan? Haha, tapi itulah kami, anak-anak yang mencintai petualangan!

Untuk ke Pulau Penyengat, terlebih dahulu kami ke Pelabuhan Punggur, Batam, membeli tiket kapal tujuan Tanjung Pinang. Dengan modal Rp. 40.000,-/orang, kami menyeberangi lautan dengan kapal Baruna. Terakhir gue naik kapal dua tahun yang lalu. Dan merasakannya kembali, sangat menyenangkan!

Lima puluh menit di atas kapal, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang. Kemudian kami langsung ke Dermaga Pulau Penyengat mencari pompong (perahu kecil) untuk ke pulau tujuan kami. Ke Pulau Penyengat memakan waktu dua puluh menit dengan biaya Rp. 5.000,-/per orang.

Cuaca hari itu nggak mendukung banget. Hujan lebat, dan pompong kami diterjang badai. Ombak gede banget, tapi itu jadi sensasi tersendiri untuk perjalanan ini. Hahahaha.

Sampai di Pulau Penyengat, kami langsung menyewa becak untuk keliling pulau dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kami memasuki Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, Perpustakaan Raja Ali Haji, Komplek Makam Raja-raja Melayu, Balai Adat Melayu Indera Perkasa, Planta Pulau Penyengat, dan Benteng Bukit Kursi.

Komplek Makam Raja-raja Melayu

Komplek Makam Raja-raja Melayu

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat

di salah satu rumah peninggalan kerajaan Melayu

di salah satu rumah peninggalan kerajaan Melayu

Perjalanan gue, Bram dan Brian paling lama di Benteng Bukit Kursi. Benteng Bukit Kursi adalah tempat perang, karena ditemukan banyak meriam dan tempat persembunyian. Seru!

Kami juga menghabiskan banyak waktu di Planta Pulau Penyengat. Karena dermaganya sampai ke tengah laut dan pemandangan yang menyejukkan, terlalu membuat kami menikmati hari.

Jam setengah lima sore, kami bertolak ke dermaga untuk kembali ke Tanjung Pinang. Di Tanjung Pinang gue sempat beli otak-otak, makanan khas Tanjung Pinang yang terbuat dari ikan. Bentuknya kayak lintah *eh, tapi enak banget! Hahaha.

Dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, kami naik kapal terakhir yang berangkat ke Batam. Alhamdulillah kami dapat kapal. Kalau nggak, mau tidur dimana malam itu? :p

di atas kapal mau balik ke Batam

di atas kapal mau balik ke Batam. Sunsetnya keren yaa…

Kami sampai di Pelabuhan Punggur Batam jam setengah tujuh malam. Malam itu pelabuhan udah kosong. Hahaha -___-

That journey was so amazing! I love Penyengat Island! I recommend you to come there! #VisitBatam #VisitPenyengat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: