My Experiences in Batam – Jujur

Tinggalkan komentar

Juli 30, 2012 oleh kikisenyo

Jujur

            Salah satu pengajaran yang selalu ditanamkan kepada anak-anak autis adalah “Katakan yang kamu inginkan agar orang-orang tau apa keinginanmu”. Ini bertujuan agar mereka tidak mengamuk tanpa diketahui alasannya. Makanya, orang-orang di sekitar juga harus menanyakan apa yang diinginkan oleh anak-anak autis tersebut.

Oke, disini gue juga mau jujur tentang apa yang gue rasakan. Bukan apa yang gue rasakan tentang orang-orang Batam. Tapi tentang orang-orang di Padang. Tulisan ini bukan berisikan kalimat-kalimat rindu gue pada orang-orang Padang. Tapi sebuah ketidaksanggupan dan ketakutan tidak menepati janji.

Setiap hari, gue dapat mention di Twitter. Setiap hari, gue dapat SMS. Dan setiap hari pula, gue dapat chat Facebook, yang isinya minta oleh-oleh.

Gue bukan bermaksud pelit atau nggak mau membelikan oleh-oleh untuk orang-orang di Padang.Tapi gue dapat tekanan batin saat mereka terus menagihnya, sementara status gue di Batam ini adalah sebagai volunteer, yang berarti gue bekerja sukarela tanpa bayaran untuk menangani anak-anak autism!

Dikatakan kalau disini gue liburan, memang nggak sepenuhnya salah. Karena gue memang menikmati hari-hari gue disini. Dapat sehari waktu bebas kerja di hari Minggu memang gue manfaatkan untuk keliling Batam. Tapi, jujur, gue lebih memilih untuk tidak mengeluarkan biaya, karena belanja yang diberikan keluarga gue selama disini tergolong “sangat” sedikit.

Hampir dua minggu gue disini, dan gue baru membelanjakan Rp20.000,- dari seluruh belanja gue. Ini gue lakukan karena selama disini gue nggak dibayar atas seluruh jerih payah gue. Gue ikhlas, karena memang tujuan gue untuk beramal, berbakti, dan membantu anak-anak autism untuk sembuh dari penyakitnya.

Gue memang punya host family, tapi jelasaja gue segan minta uang ke mereka. Diterima di tengah-tengah keluarganya aja udah syukur. Dapat kamar bagus, makan sahur, dan buka puasa juga ditanggung, udah lebih dari cukup. Dan yang paling gue syukuri adalah pengalaman yang mungkin cuma sekali ini gue dapat seumur hidup. Disini gue bisa belajar lebih mandiri, disiplin, dan toleransi. Makanya, gue ngerasa segan ‘banget’ minta uang ke mereka, terlebih dengan alasan “beliin teman-teman oleh-oleh”. Gue ngerasa nggak etis dengan hal itu.

Makanya, kalau ada yang minta oleh-oleh, gue cuma bisa jawab “insya Allah”. Yang  artinya gue memang nggak terlalu janji untuk memberikan mereka cinderamata khas Batam. Ya, bukannya gue nggak peduli dengan teman-teman di Padang, tapi gue memang nggak punya uang untuk merealisasikannya.😦

Untung-untung nanti kalau misalnya gue dapat Tunjangan Hari Raya (THR) dari SLB Putrakami tempat gue volunteering. Yang kalau uangnya cukup “insya Allah” akan gue belikan untuk oleh-oleh.

Maksud gue membuat tulisan ini adalah untuk minta maaf ke teman-teman kalau gue nggak bisa memenuhi permintaan kalian untuk oleh-oleh. Gue ngerasa ada tekanan batin setiap kali gue ingat nggak punya uang untuk kalian. Kalau ada kesempatan, “insya Allah” gue belikan oleh-oleh dari sini. Karena kalau gue berjanji, dan gue nggak bisa menepatinya, gue takut dosa.😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: