My Experiences in Batam – Antara Gue, Antonio, dan Bu Indah

Tinggalkan komentar

Juli 30, 2012 oleh kikisenyo

Antara Gue, Antonio, dan Bu Indah

            Hari Jum’at adalah jadwal akhir Antonio setiap minggunya di Putrakami. Sebenarnya adalah jadwal gue untuk mengajarnya hari itu. Tapi karena terlalu capek mengajar sejak pagi, gue minta bantuan Bu Indah untuk mengajar Antonio.

Antonio bersekolah di salah satu SMP Kristen swasta di Batam, dan itu adalah sekolah untuk anak-anak normal. Hal itulah yang membuat Antonio kesulitan dalam belajar, karena kemampuannya tidak seperti teman-teman sebayanya. Ini adalah tahun keduanya di kelas 2 SMP, karena ia tinggal kelas di tahun ini.

Pelajaran yang diberikan pada Antonio Jum’at sore itu masih sama seperti sebelumnya, aljabar. Kompetensi yang dituju pada pembelajaran ini tidak sebanding dengan kemampuan otaknya. Makanya, gue dan Bu Indah berjuang cukup keras sore itu untuk membuatnya mengerti.

Untungnya, Antonio punya style tersendiri yang ngebikin gue dan Bu Indah gemes ngelihatnya. Dengan pribadinya yang cerewet, lebay, dan lucu itu, setidaknya membuat kami berdua tidak terlalu stress mengajarnya.

Sempat di tengah pengajaran gue dibuat terharu karena Antonio mengungkapkan perasaannya pada Bu Indah. “Bu, sekarang aku sudah sadar…” ucapnya.

“Apa?” balas Bu Indah.

“Sekarang aku sudah sadar, aku pasti sangat berarti ‘kan untuk Ibu? Walaupun aku anak yang bodoh, tapi Ibu tetap berjuang keras membuat saya paham pelajaran. Terima kasih Bu.” Ucap Antonio lagi.

Beberapa saat gue dan Bu Indah diam seribu bahasa. Kami sama-sama kagum dengan kejujurannya. Anak-anak normal aja sangat sulit untuk berterima kasih pada gurunya yang udah mengajarinya mati-matian. Lah, dia anak autis dengan kesadarannya mengucapkan kalimat itu!

Bu Indah senyum mendapat ucapan itu dari Antonio. “Yaiyalah kamu anak yang berarti buat Ibu. Kalau nggak, ngapain Ibu masih bertahan disini ngajarin kamu, sedangkan guru-guru lain udah pulang ke rumah untuk siap-siap buka puasa. Kamu punya potensi dan semangat yang tinggi dalam belajar, itu yang Ibu suka dari kamu.” Balas Bu Indah.

“Terima kasih Bu.” Ucap Antonio lagi.

Bu Indah ngangguk, “Ayo lanjut belajarnya!”

***

Nggak lama setelah itu, Antonio kembali berkicau. “Bu, sekarang aku sudah sadar…”

“Sadar apa lagi, Antoniii?” Bu Indah mulai gemes dengan sikapnya.

“Sekarang aku sudah sadar, karena Ibu puasa, nafas Ibu bau banget..”

Gue langsung ngakak keras banget. Sedangkan Bu Indah manggut-manggut malu sambil nutup mulutnya.

“Ibu jangan dekat-dekat aku lah. Nafas Ibu bau, aku bisa mati tercekik nanti kalau Ibu terus-terusan di dekat aku.” Ucap Antonio lagi. Gue makin cekikikan lihat muka Bu Indah merah padam.

“Bagaimana bisa Ibu ngajar kamu kalau saya harus jauh-jauh?” Bu Indah membalas untuk pertama kalinya.

“Yasudah, biarkan aku pergi dari sini…” Antonio mulai lebay. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan satu langkah. Kemudian dia berhenti dan menatap Bu Indah yang sudah dibelakanginya. “Bu Indah, biarkan aku pergi.” Ucapnya lagi. Gue makin gede ngakaknya. Hahahaha.

Bu Indah ikut-ikutan lebay saat itu. Tontonan yang ada di hadapan gue lebih kurang kayak sinetron jaman sekarang, yang lebaynya minta ampun. “Antonio, jangan pergi!” ucap Bu Indah.

Antonio kembali duduk, dan tetap menutup mulutnya. “Biarkan aku belajar dengan tetap menutup mulut Bu..” ucapnya.

“Iya deh iya” -_____- Bu Indah manggut-manggut

***

Setelahnya, gue keluar sebentar dari kelas. Pas masuk lagi, Bu Indah langsung bilang sesuatu yang bikin gue kaget. “Pak Kiki, ada yang kangen sama kamu loh!”

Gue dengan tampang cengo langsung nanya, “Siapa?”

Bu Indah nunjuk anak kelas 2 SMP disampingnya. Rasanya nano-nano, waktu tau orang yang dimaksud Bu Indah adalah siswa gue sendiri, Antonio.

Selama gue di WC, terjadi percakapan antara Bu Indah dan Antonio:

Antonio: Bu Indah, sayang ya aku cuma tiga kali seminggu kesini..

Bu Indah: Loh, emang kenapa?

Antonio: Iya, Pak Kiki kan cuma sebulan disini, kalau aku datang tiga kali seminggu, banyak hari yang aku lewatkan nggak ketemu Pak Kiki.

Bu Indah: Hahaha, ada-ada aja kamu!

Antonio: Iya Bu, aku pasti kangen Pak Kiki…

Bu Indah: Trus kamu nggak kangen sama Ibu?

Antonio: Iya, kangen juga. Tapi ‘kan Pak Kiki di Batam cuma sebentar. Pasti bakal kangen sama dia…

Bu Indah: Jangan-jangan kamu suka lagi sama Pak Kiki? Hehehe

Antonio: Iya, tapi sebagai teman aja kok Bu. Aku juga suka sama Ibu kok. Untuk pengakraban aja…

Bu Indah: Iya deh iya, nanti Ibu kasih tau Pak Kiki ya?

Antonio:  Ssstt, diam aja Bu! Ini kan rahasia kita berdua, cukup kita berdua aja yang tahu, ya Bu?!

Bu Indah: Dewasa banget kalimatmu, Nak!

***

            Gue tahu percakapan ini setelah Antonio pulang, jam 4 sore. Gue ngakak banget dapat kalimat-kalimat kayak gitu dari Antonio. Tapi gue salut sama dia, dia jujur dengan perasaannya. Dia nggak malu dengan rasa sayang ke gurunya. Hatinya masih bersih, masih penuh rasa sayang.

Itulah Antonio, anak autism dengan seluruh kesederhanaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: