My Experiences in Batam – Gue Dipanggil Pak Kiki

Tinggalkan komentar

Juli 26, 2012 oleh kikisenyo

Gue Dipanggil Pak Kiki

            Hari ini, Kamis (26/7), adalah hari pertama gue ngajar. Selama seminggu di sekolah, gue kerja cuma duduk di depan komputer. Jam 8 pagi gue udah di Anggrek Mas, dan langsung dapat jadwal ngajar kelas 6 SDLB pelajaran bahasa Inggris. Beda sama kelas di sekolah-sekolah normal, di SLB satu kelas cuma diisi paling banyaknya lima orang. Di kelas yang gue ajar ada empat orang siswa, semuanya laki-laki. Namanya Faiq, Alwan, Nando, dan Iyes.

Dari keempat siswa yang gue ajar, Iyes adalah anak yang paling heboh. Dia autis tunarungu. Karena pendengarannya kurang berfungsi, ditambah lagi dia anak autis, gue maklumi aja. Iyes berperawakan gempal, pendek, rambut keriting, dan berkulit gelap. Pas gue masuk kelas, dia langsung mengenalkan gue ke teman-temannya. “Oom ini Pak guru kita lho! Namanya Pak Kiki. Iya ‘kan Pak?” ucapnya.

Gue cuma ngangguk, Iyes udah kenal gue sebelumnya. Dia pernah masuk kantor pinjam telepon untuk pesan makan siangnya. Walaupun selama gue volunteer disini memang harus dipanggil dengan sebutan ‘Pak Kiki’, tapi pertama dengar siswa gue manggil gue dengan sebutan itu, there’s something feeling I couldn’t understand. Agak gimanaaa gitu…

Good morning class, I’m your new teacher right now. My name is Mr. Kiki, I’ll teach you English for this two hours. Okay, who’s know my name?” kalimat pertamaku di kelas ini. Di SLB, setiap kalimat yang kita ucapkan harus ditanya kembali, untuk mengetahui apakah mereka menyimak dan memperhatikan kalimat tersebut. Jadi selama gue ngajar, gue ngerasa fun aja, karena gue harus mengulang kembali apa yang baru aja gue ucapkan.

Kelas bahasa Inggris selesai. Selanjutnya gue masuk ke kelas teraphy, mengajar Faiq, siswa gue tadi. Dia butuh diterapi untuk memantapkan pelajaran matematika yang sebelumnya juga diajarkan padanya. Di SLB, ada banyak kelas terapi. Ada terapi untuk anak-anak autism, autism hyperactive, tunarungu, autism tunarungu, speech delayed, autism hyperactive tunarungu speech delayed, dan kesulitan belajar.

Faiq, adalah keturunan Chinese yang mengalami autism dan kesulitan belajar. Ini tantangan baru untuk gue, karena kelas teraphy memang ditujukan untuk empat mata antara guru dan murid. Jadi, di ruangan kelas yang besar ini, cuma ada gue dan Faiq.

Image

Teraphy yang diberikan pada Faiq adalah matematika, mengenai garis bilangan, bilangan bulat, dan FPB. Gue mengajar Faiq selama dua jam, dan itu sangat berkesan buat gue. Bagaimana gue mengajari dia berhitung, mengoperasikan bilangan positif dan negatif, dan menentukan factor bilangan. Ini tidak semudah seperti yang awalnya gue pikirkan. Karena gue berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus, autism berkesulitan belajar.

Sorenya, gue punya kelas lagi dengan Antonio, anak autism berkesulitan belajar yang sebelumnya pernah gue ceritain itu loh. Cara belajar dengan Antonio adalah privat, dimana memang cuma gue dan dia dalam satu ruangan. Pada pertemuan hari ini gue mengajarinya aljabar. Dia bisa, tapi karena materi baru, dia agak sulit untuk memahaminya. Gue sedikit berusaha lebih dalam mengajarinya operasi matematika ini.

Image

Di tengah pelajaran, Antonio menangis karena Bu Iin (Kepala Sekolah Putrakami) menasehati tulisannya yang berantakan. Agak sulit juga menenangkan anak berumur 15 tahun yang masih mempunyai jiwa anak 6 tahun itu. Dia menangis, dan mengata-ngatai dirinya sendiri sebagai anak yang bodoh. Gue memberinya pengertian bahwa anak yang bodoh adalah anak yang tidak mau berusaha. “Antonio selalu berusaha memperbaiki tulisan dan memahami materi pelajaran ‘kan, berarti Antonio bukanlah anak bodoh. Antonio punya semangat dan potensi untuk menjadi anak pintar dan bisa membanggakan orang tua. Jangan katakan dirimu bodoh, katakan kalau kamu bisa!” kata gue menyemangatinya.

Begitulah, gue banyak belajar hari ini dengan menjadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti Iyes, Faiq, dan Antonio. Gue jadi bersyukur karena dijadikan manusia yang normal, karena dengan ini gue bisa membantu lebih banyak anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Gue senang mendapat kesempatkan kesempatan menggali ilmu menjadi volunteer seperti ini. Gue bangga bekerja sukarela, tanpa bayaran demi mereka, anak-anak berkebutuhan khusus.  Alhamdulillah ya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: