Rezki Iddal Fikri, Bocah Penuh Semangat

1

Juni 30, 2012 oleh kikisenyo

Rezki Iddal Fikri, Bocah Penuh Semangat

Minggu lalu, pada Minggu (24/6) dan Selasa (26/6), aku pergi ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Air Dingin, Lubuk Minturun. Aku berziarah ke makam almarhumah pacarku, yang meninggal pada 17 Desember 2009 lalu sebagai korban gempa bumi 30 September 2009. Hari Minggu (24/6) itu adalah ulang tahun Tika, pacarku itu. Dan Selasa (26/6), adalah tanggal dulu kami jadian saat SMP.

Pada Minggu (24/6), saat baru sampai di makam mendiang Tika, seorang bocah lelaki berpakaian lusuh sekitar sembilan tahun datang mendekatiku. Dia membawa seember air dan sebuah kain lap. Dilapnya makam itu hingga bersih, setelahnya dia memandangku penuh harap. Aku memberinya uang Rp. 1.000,- dan dia tersenyum senang. “Makasih Bang” ucapnya dengan logat khasnya, dan langsung ngacir dengan berlari kecil. Kupandangi dia terus sampai dia membelanjakan uangku tadi dengan sebuah coklat di warung yang ada di sana. Dimakannya cokelat itu dengan lahap. Aku speechless dengan apa yang baru saja kulihat.

Aku menaburkan bunga di makam Tika, mendoakannya agar diterima di sisi Tuhan. Namun saat berdoa, ekor mataku terusik dengan bocah lelaki itu lagi, yang juga mendatangi peziarah lainnya, dan mengelap makam. Setelah mendapat uang, dia kembali membelanjakannya. “Apa dia kelaparan?” ucapku dalam hati.

Tak lama, bocah berkemeja lusuh itu sibuk mengatur parkir mobil peziarah yang hendak pulang, dan setelah dia mendapatkan uang, lagi-lagi dia membelanjakannya dengan cokelat. “Ah, kasihan dia.” Pikirku lagi.

Aku masih di samping makam mendiang Tika, sambil terus memerhatikan bocah yang tidak mengenakan alas kaki itu. Tiba-tiba, dia kedatangan tiga anak kecil lainnya yang lebih kecil dibandingnya. Dua laki-laki, dan satu perempuan, yang juga berpakaian lusuh.
Mereka berempat terlihat akrab dan tertawa bersama. Sampai tiga anak lainnya itu datang mendekatiku, didampingi bocah lelaki tadi. Si anak perempuan mengemis padaku, dan si bocah tadi kembali memandangku penuh harap. Karena mereka banyak, kuberi saja uang Rp. 10.000,-. “Uangnya dibagi empat ya, bagi sama rata.” Ucapku. Mereka berempat langsung sumringah melihat uang berwarna ungu itu. “Makasih Bang” ucap mereka dengan logat khas itu lagi. Aku mengangguk, dan mereka langsung berlari kecil meninggalkanku.
Benar saja, sesuai dugaanku, mereka berempat langsung membelanjakan uang tersebut dengan sebatang cokelat. “Ah, ternyata aku masih lebih beruntung ketimbang mereka.” Batinku kembali bersuara.

Saat mengambil motor di parkiran untuk balik ke rumah, aku bertemu lagi dengan bocah lelaki itu. “Makasih yo Bang” ucapnya sekali lagi. Logat bahasa Minangnya yang lucu membuatku tersenyum. “Ya, uangnya sudah dibagi rata ‘kan?” balasku. Dia mengangguk, “Alah Bang”.

“Abang pulang dulu ya.” Dia mengangguk, “Hati-hati Bang.”

Di jalan, aku terus memikirkan anak itu. Semangatnya sangat tinggi, dan dia tidak terlihat lelah mengais rezeki sejak pagi disana. Senyumnya juga tulus, dia anak yang baik. Tapi, aku belum sempat tahu namanya…

Pada Selasa (26/6), aku kembali ke TPU Air Dingin. Saat itu hujan deras disana, dan aku kembali bertemu dengan bocah itu. Dia sedang sibuk mengatur parkir, walaupun badannya sudah kuyup. Saat peziarah lain datang, dia terus mengelap makam demi uang seribu yang seringkali aku anggap remeh. “Semangatnya luar biasa.” Lagi, aku terkagum melihatnya.

Aku lebih memilih untuk berteduh di warung tempat anak itu selalu membeli cokelat, untuk menunggu hujan reda. Setelah dia mengatur parkir, dia juga ikut berteduh denganku. Kudekati dia, kutanya namanya. “Namo wak Rezki, Bang”, ucapnya. Aku terkaget, namaku sama dengannya. “Wow, nama kita sama!” ucapku. “Kalau wak Rezki Iddal Fikri. Namo panjang abang sia?” tanyanya balik. “Nama Abang M. Rezki Achyana.” Balasku.

Dari perkenalan singkat itu, kuketahui kalau tiga bocah kecil yang dulu bersamanya itu adalah adik-adiknya. Dia tinggal tidak jauh dari daerah pemakaman, dan selalu bersemangat untuk mengais rezeki di tanah pekuburan itu. Dengan mengelap makam, mengemis, dan mengatur parkir, dilakukannya dengan gigih, untuk menyambung hidupnya.

Aku tidak bertanya sedetail mungkin, jadinya tidak tahu dengan orang tuanya, dan pekerjaannya. Tapi kupikir, mereka adalah pemulung di daerah sana.

Saat hujan sudah reda, dan diperkirakan belum akan ada peziarah yang datang, dia meminta izin padaku untuk pergi bermain. Saat aku balik pulang, kulihat dia sedang bersama teman-temannya bermain di pelataran masjid dengan riangnya. Dia menyapaku dengan berteriak. “Abang!”. Aku tersenyum, dan melanjutkan perjalanan.

“Ini pertama kalinya aku melihat perjuangan hidup seorang anak usia sembilan tahun. Dia begitu bersemangat, gigih, dan pantang menyerah. Aku yakin, dia pasti bisa menjadi anak yang dapat membuat orang tuanya bangga. Amin. Teruslah bersinar, Rezki!” (*)

. Rezki Achyana

One thought on “Rezki Iddal Fikri, Bocah Penuh Semangat

  1. H.darsono mengatakan:

    amsol donk alamat jm di kota Padang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: