Indonesia vs Malaysia?

Tinggalkan komentar

Juni 29, 2012 oleh kikisenyo

Indonesia Vs Malaysia?

Image

          Lagi-lagi saya mendapatkan ide dari social media Twitter untuk membuat tulisan. Jelas seperti judulnya, pasti sobat semua sudah mengerti maksudnya. Ya, perang klaim budaya antara Indonesia dengan negara tetangga serumpun, Malaysia.

            Pada awal pekan lalu, Senin (18/6), saya mendapati Trending Topic World Wide (TTWW) di Twitter dengan hashtag #TorTorMilikIndonesia dan #MalaysiaMiskinBudaya. Dari apa yang pernah terjadi sebelumnya, saya langsung menerka bahwa salah satu kebudayaan Indonesia pasti sudah diklaim ‘lagi’ oleh Malaysia sebagai miliknya. Setelah Rendang, Batik, Reog Ponorogo, Tari Pendet, Lagu Rasa Sayange, Lagu Bengawan Solo, dan Agklung, kini giliran Tari Tor Tor dari Mandailing Natal, Sumatera Utara-lah yang menjadi objeknya. Selain itu, alat musik Gondang Sambilan yang juga berasal dari Mandailing, tak lepas dari kasus klaim budaya. Nah, siapa yang salah dengan ini?

            Tidak hanya kebudayaan, negara yang terkenal dengan Menara Petronas itu juga pernah mengklaim beberapa pulau Indonesia sebagai miliknya. Apakah ini semua disebabkan ketidakmampuan pemerintah Indonesia dalam mempertahankan semua hak-haknya? Atau karena kurangnya perhatian mereka terhadap aset negara? Alih-alih memperbaiki sikap dan menyelesaikan masalah, tampaknya mereka semakin memperkusut permasalahan ini.

            Dari beberapa sumber yang saya dapat, semisal hasil reportase di media elektronik, ataupun internet, saya menemukan beberapa hal menarik dan unik untuk dibahas pada tulisan ini. Bahwasanya masyarakat Indonesia yang berdiam di Malaysia sendirilah yang meminta Tari Tor Tor menjadi kepemilikan Malaysia.

Seperti yang saya tonton di salah satu stasiun TV swasta pada Kamis (21/6) lalu, Konsul Jenderal Malaysia untuk Medan, Norlin Binti Othman didampingi Konsul Muda Malaysia, Nor Azhar Hajis, mengatakan berdasarkan data yang diperoleh, ada sekitar 500.000 orang suku Mandailing yang tinggal dan bahkan sudah menjadi warga negara Malaysia sejak puluhan tahun lalu. “Mungkin karena mereka mau budaya mereka dilestarikan atau bahkan diperkenalkan lebih luas, mereka mengajukan ke pemerintah Malaysia untuk dicatatkan seperti yang dilakukan suku lainnya, agar lebih mudah untuk dipertunjukkan dalam acara-acara kebudayaan di Malaysia.” Ucapnya.

Selain itu, Norlin juga mengatakan bahwa kasus ini terjadi karena kesalahpahaman, perbedaan bahasa antara Melayu Malaysia dengan Bahasa Indonesia. “Diperakui atau memperakui di Malaysia dimaksudkan diangkat atau disahkan atau disetujui, bukan diklaim seperti yang diartikan Indonesia.” Tuturnya lagi.

Lalu, jika memang seperti itu keadaannya, mengapa masih banyak perang mulut dan desas-desus yang terjadi antara masyarakat Indonesia dan Malaysia? Sebut saja perang mention di Twitter, direct message (DM) terselubung, dan banyak tweets penghinaan antara keduanya. Belum lagi yang mengumpat lewat short message, blog, atau yang lainnya.

Ada salah satu akun Twitter milik Malaysia yang menjadi sorotan pencekalan masyarakat Indonesia, dimana di akun tersebut admin yang berkewarganegaraan Malaysia juga tak mau kalah untuk mencekal dan mencaci Indonesia lewat tweets yang diupdate. Seperti salah satunya “Bila Harimau dah marah | Garuda pun di terkam*”. Apa maksudnya membanding-bandingkan lambang negara?

Belum lagi ada yang update yang mengatakan bahwa rendang asli Malaysia. Jujur, saya sebagai orang asli Minangkabau, merasa jengkel mendapati tweet tersebut. Bukan hanya saya, teman-teman pun pasti juga merasakan hal yang sama bukan?

Kembali ke permasalahan awal, tentang pengklaiman budaya, kita sebagai warga negara Indonesia seharusnya lebih mengenal seperti apa budaya kita. Selalu mendukung dan mencintai kebudayaan kita, dan berusaha untuk lebih bertoleransi terhadap sesama. Jangan sampai kebudayaan kita diklaim karena ulah kita sendiri yang tidak mencintai kebudayaan itu.

Mulai dari sini, saya sebagai warga negara Indonesia, meminta kepada seluruh kalangan, terutama remaja, baik itu dari Indonesia ataupun Malaysia, untuk lebih menghargai sesama, karena kita hidup bertetangga, dan kita semua pasti butuh rasa nyaman dalam hidup bermasyarakat. Jangan saling mencekal, menghina, mencaci, dan mengejek. Indonesia dan Malaysia itu serumpun, rumpun Melayu. Jangan rusak kebersamaan ini dengan hal-hal negatif seperti itu. Kita tentu tidak mau terjadi perang antara Indonesia dan Malaysia, ‘kan? Kita sudah lihat Palestina dan Israel yang terus saja perang, betapa menderitanya mereka, menyedihkan.

Rasa saling menghargai juga harus ditumbuhkan dalam diri kita masing-masing. Jangan men-judge sesuatu jika tidak tau titik permasalahan, karena itu hanya akan memperkeruh suasana. Sekali lagi, saya meminta, Indonesia – Malaysia, berdamailah! (*)

M. Rezki Achyana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: