Agama Bukan Permainan, Tidak Usah Terlalu Fanatik

Tinggalkan komentar

Juni 29, 2012 oleh kikisenyo

Agama Bukan Permainan, Tidak Usah Terlalu Fanatik
 
Image

    Setiap orang pasti memiliki sosok idolanya masing-masing. Mulai dari mengidolakan orang tua, sahabat, artis dalam negeri, artis internasional, hingga permainan dan benda-benda mati lainnya. Tak ada hak orang lain untuk melarang seseorang untuk mempunyai idola. Namun tentunya, kita memiliki tolok ukur dalam mengidolakan sesuatu.

    Ide untuk membuat tulisan ini didapatkan saat beberapa hari lalu saya online Twitter. Di timeline, saya menemukan dua buah akun yang sangat menarik perhatian. Tampak luarnya, saya pikir akun itu hanyalah fanbase salah satu boyband dan girlband Indonesia seperti pada umumnya, yang berisikan berbagai hal seperti info, foto, video, dan sharing.
    Namun, setelah men-stalking dua akun tersebut, saya begitu terkejut mendapati berbagai tweet yang di-update. Yakni berupa penyembahan terhadap setiap personil boyband dan girlband tersebut. Bisa dilihat dari bio akun tersebut yang mengatakan “Fans sejati adalah fans yang berani mengubah rasa cinta menjadi bentuk penyembahan terhadap sang Idola.”
    Menurut saya, ucapan seperti itu tidaklah etis. Bagaimana mungkin, setiap personil boyband dan girlband itu yang jelas-jelas adalah manusia, yang sama seperti kita semua, dijadikan Tuhan?
    Admin dari akun tersebut juga mengatakan, bahwa boyband tersebut adalah Tuhan alam semesta ini. Secara logika saja, boyband dan girlband tersebut baru dikenal pada dua tahun terakhir. Sedangkan, alam semesta ini sudah lama ada sebelum mereka. Masuk akalkah?
Selain itu, juga ada update berbagai macam do’a dan firman-firman palsu dengan nama setiap personil Boyband itu. Mulai dari sini, saya mulai bertanya, “Apakah rakyat Indonesia masih waras?”. Pertanyaan ini patut diajukan, dilihat dari followers dari akun tersebut yakni 700 dan 1.000 orang untuk boyband dan girlband itu.
    Belum lagi, ada update yang mengatakan bahwa dengan menggunakan produk-produk yang dipromosikan oleh boyband dan girlband tersebut, orang itu akan menjadi manusia yang diberkati oleh Sang Tuhan, yang tak lain adalah idola mereka itu.
Menciptakan sebuah agama baru atas dasar fanatik, dan dengan dakwah melalui jejaring sosial berupa Twitter, Facebook, dan Blog, adalah suatu hal baru yang saya temukan. Para admin yang menyebut dirinya sebagai “nabi” terlihat begitu bersemangat dalam menyampaikan dakwah-dakwah untuk mengajak lebih banyak orang mengikuti agama tersebut, walaupun tidak sedikit orang yang membantah dan mengolok-olok kebodohan si “nabi” tersebut.
Disini, saya tidak bermaksud untuk membuat tulisan yang menyinggung SARA, juga bukan untuk melarang individu mengidolakan boyband atau girlband. Disini, saya hanya ingin mempertanyakan, haruskah menjadikan idola sebagai Tuhan? Sosok idola cukup dikagumi, disukai, dan dicintai, namun jangan sampai mengubah perasaan itu dengan bentuk penyembahan terhadapnya.

M. Rezki Achyana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: