Tulisan dan Barisan

Tinggalkan komentar

Desember 23, 2011 oleh kikisenyo

Tulisan dan Barisan

Bukan cinta namanya jika tidak memiliki banyak rasa. Bukan cinta namanya jika tidak berbelit-belit masalahnya. Bukan cinta namanya jika tidak abstrak kelakuannya. Bukan juga cinta namanya jika tidak memiliki cerita yang berbeda pada setiapnya.

Ketika kau mencoba mencampurkan gula, air, dan teh, lalu mengaduknya, dan simsalabim, sebuah teh tercipta, itulah yang namanya cinta. Semua menjadi satu dan terasa manis, bahkan dengan campuran benda-benda yang berbeda. Namun jika kau salah memasukkan gula dengan garam, itulah yang namanya petaka. Teh macam apa yang kau ciptakan untuk dinikmati?

Ketika cinta dengan berbagai problema, dinamika, dan seluruh kandungannya mencapaimu dengan sejuta impian yang tinggi dan kekeliruanmu mengenai perasaan yang aneh, itulah saatnya kau harus menikmati hidupmu. Sekalipun jika kau tidak percaya ini ditujukan untukmu, bahwa ini semua tidak terlihat satu padu dengan hidup dan kehidupanmu!

Ini adalah satu cerita mengenai kisah cintaku yang absurd, yang bahkan tidak pernah kupercaya Tuhan merencanakan ini semua untukku. Ini adalah ketika aku dengan semua sikap culun, bolot, aneh, terkesan idiot, dan kutu buku yang gila dengan semua buku dan news serta gossip ini ditakdirkan merasakan sebuah perasaan klasik yang aneh dengan gadis yang memiliki sikap tegas, hebat, berani, dan mental yang kuat.

Ini adalah sebuah kisah dimana aku, anak ekskul jurnalistik, merasakan getaran aneh di dadaku dengan seorang teman wanita dari ekskul PBB (Peraturan Baris Berbaris). Ini terlihat sangat kontras, mengingat j-u-r-n-a-l-i-s-t-i-k adalah sebuah tempat berkumpulnya makhluk-makhluk autis yang gila dengan tulisan, bacaan, dan berita-berita. Sementara, P-B-B adalah dunia yang sangat berbeda, tempat berkumpulnya orang-orang kuat yang tahan berpanas-panas dan dalam keadaan tegap selama berjam-jam. Mungkinkah kami bersatu?

Dan ketika aku terus menjalani hidup ini, kutemukan jawaban dari pertanyaan itu. Ya, tentu bisa! Ini hanyalah permasalahan kecil mengenai hati, dan tentu aku bisa memenangkan pertarungan ini!

Ketika saatnya tiba, aku kembali bertanya. Apa aku bodoh? Bukan, apa aku pintar? Bukan, apa aku gila? Bukan, lalu, apa? Ntahlah.

Menjalin sebuah hubungan dengan seseorang bukanlah sesuatu yang mudah. Dan sialnya, aku menyadari hal ini belakangan. Aku harus memulai semuanya dari nol, memulai sebuah perkenalan, mengajaknya berbincang, kemudian bercanda, lalu tinggal mengikuti dinamika hubungan. Kau ajak dia berkencan, lalu jadian, kau berikan sebuah ciuman, dan walaa.. kau putus!

Tapi bukan itu yang aku mau. Aku bukanlah seorang anak culun berkacamata yang hanya merasakan getaran aneh dalam dadaku. Aku adalah seorang ksatria gagah yang akan segera mendapatkan putri cantiknya! Dalam kurung, aku tidak menginginkan sebuah perpisahan!

Hingga saat ini, aku masih merasa sangat bingung. Bagaimana aku bisa menggabungkan dua dunia kedalam satu hubungan? Tulisan dan barisan adalah sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya! Apakah kau bisa menulis saat berbaris? Atau apakah kau bisa berbaris saat menulis? Tentu tidak. Sudah kukatakan, mereka sama sekali tidak memiliki hubungan!

Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, hingga delapan hari, aku masih saja belum mengerti bagaimana menggabungkan dua dunia ini. Sudah berhari-hari ini tampangku seperti keledai, bodoh. Sekiranya kebingungan, sebuah pertanyaan selalu muncul di benakku. “Apa benar kau menyukainya?” Dan saat kumengerti pertanyaan itu, aku terus saja mengangguk, dan kemudian tertawa kecil, lalu kembali kebingungan. “Bagaimana caranya?”. Sial.

Beruntung, aku masih punya sahabat untuk berbagi cerita. Dia wanita, cantik, dan berpengalaman soal cinta. Beruntung, dia dari ekskul kesenian! Anak seni pasti mengerti masalah cinta, lebih dari jurnal, pikirku. Beruntung, dia menangkap sikapku yang aneh belakangan. Dia tahu apa masalahku. Beruntung, dia mau membantuku menyelesaikan semuanya. Beruntung!

Mulai dari a hingga z kuceritakan padanya. Dia tertawa kecil, kemudian menepuk pundakku. “Apa yang kau pusingkan? Ungkapkan saja padanya, dan lihat hasil selanjutnya!” sarannya padaku.

“Sudah kukatakan, ‘kan? Jurnalistik dan PBB tidak ada sangkut pautnya!”

“Cinta akan menghubungkan jurnalistik dan PBB. Percayalah.. Dia tidak akan melihat ekskul kalian, kok. Dengarkan hatimu, teman.”

“Lalu?”

“Ungkapkan saja..”

Apa dia sadar mengatakan hal itu? Mengungkapkan perasaan untuk anak culun sepertiku tidak semudah menghabiskan susu coklat di gelasmu, kawan! Ini lebih seperti membentuk sebuah gelembung menjadi bentuk selain bulat. Orang lain saja tidak mungkin bisa melakukannya. Apalagi aku!

Dua malam pun terus berlanjut. Mimpi-mimpiku terus diisi oleh gadis manis ekskul PBB itu. Disana, dia terus menunjukkan paras manis dan senyuman dahsyatnya itu. Seolah, menyuruhku untuk mengajaknya bicara tentang hati. Ini sudah sepuluh hari!

            ‘Cinta akan menghubungkan jurnalistik dan PBB. Percayalah..’ kalimat itu terus berkelebat di otakku. Baiklah, aku akan mencobanya, tekadku.

Saat pulang sekolah, aku ingin sekali langsung menggencarkan strategi penembakan ini. Pertama, kukumpulkan keberanian untuk say hai padanya. Cinta memang aneh, bisa membuatmu gugup hanya untuk mengatakan satu kata; ‘Hai..’.

Tak lupa, senyum simpul kusiapkan di bibir. Hanya untuk mendapatkan balasan senyum darinya, harapku.

Saat dia mendekat, langsung saja kusapa dia dengan ‘hi and smile’. Dan untunglah, dia membalasnya! Apa kau tahu bagaimana rasanya? Ini seperti menembus atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, menuju rasi bintang paling manis! Karena senyumnya banyak rasa!

“Hei, apa kita bisa bicara?” ucapku gugup.

“Ya?”

“Hmm.. Hanya aku dan kamu… Berdua?”

“Berdua?” balasnya terlihat kebingungan.

“Ngg.. Ya.. Bisa?”

Dia mengangguk pelan. Aku melonjak girang. Kuajak dia ke kantin sekolah, kupesan dua mangkuk mie rebus. Dan selagi menunggu makanan, kami pun terbawa dalam sebuah percakapan.

“Hei, tumben kamu mengajakku makan. Ada apa ini?” tanyanya, yang langsung membuatku panik harus menjawab apa.

“Hmm.. tidak ada. Aku tidak ada teman lain yang bisa diajak untuk ini. Memangnya kenapa? Ada yang aneh?”

“Ya, tidak biasanya kamu mengajakku. Apalagi kita tidak terlalu dekat.”

“Anggap saja ini untuk pengakraban diri. Bagaimana?”

“Oke.”

Sesaat, mie pesanan kami datang. Setelah mengaduk-aduknya sebentar, kemudian meniupnya, kembali kumulai sebuah percakapan.

“Oh ya, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Apa?”

Tuhan, berikan aku keberanian untuk mengungkapkannya! Batinku. Kusiapkan seluruh keberanian, dan setelah menghirup dan menghembuskan nafas beberapa kali, dengan cepat kukatakan  padanya. “Aku suka padamu!”

Mie yang sudah disendoknya dikembalikannya ke dalam mangkok. Dia terperangah mendengar aku mengatakan itu. Aku merunduk, menyembunyikan wajah bodohku. Tuhan, aku hanya ingin dia menjadi milikku!

“Ka..kamu serius?”

Aku mengangguk perlahan, dan semakin merundukkan kepala.

“Baiklah, ini harus diperjelas.” Ucapnya, yang kemudian membuatku menengadahkan kepala dan bertanya ‘apa’ padanya.

“Aku memang juga sering memperhatikanmu. Apalagi, kamu anak jurnalistik yang juga lumayan aktif. Jujur, ada rasa kagum dan suka pada tulisan-tulisan yang kamu buat. Bukan hanya tulisanmu, tapi juga dirimu! Tapi, masalahnya kita berada di dunia yang berbeda. Pikiranku, sikap anak PBB dan jurnalistik pasti akan sangat bertentangan. Dan kurasa itu tidak akan mempersatukan kita. Jadilah, aku hanya bisa memperhatikanmu diam-diam hingga saat ini kamu mengajakku makan bersama.”

“Kau juga punya rasa untukku?”

Dia mengangguk.

“Pikiran kita sama. Sama-sama berpikir bahwa jurnalistik dan PBB tidak ada cocoknya. Aku mengungkapkan perasaanku padamu, hanya karena aku yakin bahwa cinta akan menghubungkan tulisan dan barisan ini. Dan ternyata, cinta memang berpihak pada kita, walaupun, dalam pikiran kita itu tidak akan terjadi. Lalu, dengan perasaan yang sama-sama kita miliki ini, maukah kau menjadi pacarku?”

“Ngg…” terlihat dia memikirkan jawaban yang sekiranya tidak akan menyinggungku namun mengutarakan maksudnya yang sebenarnya. “Bolehlah. Kapan lagi coba punya pacar jago nulis? Hihi.” Senyum jahil wanita di depanku ini langsung keluar.

“Wow! Kau serius? Yeah, aku bisa mendalami sikap keras anak PBB!” balasku juga mengeluarkan senyum jahil.

“Sudahlah, habiskan mie-mu!”

“Siip..”

Dan begitulah, sejak saat itu aku percaya pada keajaiban cinta. Ya, walaupun sebuah hal amat bertentangan layaknya air dan api, tapi jika di dalamnya terdapat cinta, keduanya pasti akan bersatu. Ya, sama seperti hidupku ini. Ternyata tulisan dan barisan bisa disatukan!

            Percayalah pada hatimu, karena dia mengatakan yang sebenarnya. Percayalah pada dirimu, karena dialah yang menentukan segalanya.

 

Padang, 23 Desember 2011

Tertanda, M. Rezki Achyana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: