Dia Series 3 – Dia Adalah Dia, Chapter 2 ; Permainan

Tinggalkan komentar

September 30, 2011 oleh kikisenyo

Cerita ini hanya sebuah karangan. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian di cerita ini merupakan sebuah ketidaksengajaan. Mohon dimaklumi, dan terima kasih!

Saran : lebih baik membacanya di malam hari. Agar ada kesan mistik yang kalian rasa! Ckckck. Selamat membaca!🙂

 

DIA Series

Dia Adalah DIA, Chapter 2 ; Permainan

“Maksud lo apaan Yel?”

“Ya, permainan yang diberikan Dia baru aja dimulai…”

“Ja.. jadi? Nyawa gue udah terancam?” Aku tak bisa menyembunyikan rasa gugupku. Sumpah, aku takut melihat ketidak-normalan ini! Cerita dari Gabriel, sosok hantu menyeramkan, keanehan yang ada pada Gabriel, dan pecahnya cermin ini. Argh!

Semuanya jauh dari perkiraanku semula. Aku pikir masalah yang menimpa Gabriel adalah masalah keluarga. Bukan masalah yang seperti ini. Gila, kenapa aku dipertemukan dengan kematian? “La…lalu? Bagaimana?”

“Ya, bagaimanapun kita harus menghadapinya. Kita benar-benar akan menghadapi kematian. Ya, doakan saja, tidak akan terjadi apa-apa.” Balasnya dingin dan datar.

“Huh, sialan lo Yel! Ngapain ngebawa gue ke masalah ini?”

“Maaf Vin..”

***

Hari ini, Kamis, 16 September 2010, adalah hari yang paling kuingat di memori otakku ry. Bagaimana tidak, sebuah masa kelam sudah menghantui kehidupanku kelak. KEMATIAN! Oke, Kamis ini kuakhiri di rumah Gabriel, ry. Hari sudah malam, dan aku harus balik ke rumah. Hanya satu harapanku, I’ll fine till home. God, bless me!

 

***

Malam ini terasa agak berbeda. Tiba-tiba hawa kamarku berubah, sedikit dingin dan rasanya ada yang ganjal. Entah ini hanya perasaanku atau memang benar, aku tak tahu. Ya Tuhan, apapun yang akan terjadi, aku serahkan semuanya padamu!

Aku membaringkan tubuh di atas kasur. Belum ingin untuk tidur, kuambil laptop dan memasang modemnya. Staying online malam ini mungkin akan sedikit menenangkan pikiranku.

Banyak tab yang kubuka di Mozilla. Satu untuk Facebook, satu untuk Twitter, dan lainnya kubuka WordPress, Youtube, dan Tumblr. Lucu, aku tak pernah seperti ini. Aku sedikit tertawa melihat tingkahku malam ini, yang lain dari biasanya.

Ku scroll ke bawah tampilan beranda Facebook-ku. Kubaca satu persatu kegiatan dan status dari teman-teman. Dan seketika, kurasakan raut mukaku berubah kala membaca sebuah status dari teman dengan username yang singkat, Kiel’s Lagady.

“Malam Jum’at selalu membuatku takut. Berbeda dengan Malam Minggu yang selalu membuatku senang. I Hate Friday’s Night!!”

Oh shit! Baru kusadar kalau ini adalah malam Jum’at. Yang konon adalah malam dimana para setan berkeliaran! What a fuck!

Menyadari diri dalam keadaan terancam, langsung ku-close browser, kucabut modem, dan kututup laptopku. Sempat aku melirik ke arah jam dinding, dan langsung kutahu, kini sudah pukul 23:55 WIB. Lima menit lagi, tepat tengah malam, dan mungkin hal yang tidak kuinginkan itu akan terjadi. Oh no!

Aku turun dari kasur dan berlari ke stop kontak. Kumatikan lampu dan kembali ke kasur. Kutarik selimut hingga menutupi muka dan secepatnya aku berusaha untuk tidur. Entah mengapa aku seperti benar-benar termakan ucapan Gabriel. Aku ketakutan dengan kedatangan Dia, pacar hantunya itu. Aku takut dibunuh, aku takut diganggu! Keringatku mengucur deras, dan mulutku menggigil.

Semakin aku berusaha untuk tidur, aku merasa semakin bodoh untuk memicingkan mata ini. Argh! Kenapa aku tak bisa tidur?

Tiba-tiba…

Tap… Tap… Tap… Tap…

 

Dari arah pintu kudengar sebuah langkah mendekatiku. Ini terasa mustahil mengingat pintu kamar kukunci dan tak mungkin ada yang bisa masuk.

Tap… Tap… Tap…

Langkah itu terdengar semakin mendekat. Aku menggigit bibir, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sial, siapa itu? batinku.

Sosok dengan langkah kaki itu kini sudah di samping ranjangku. Aku semakin mengutuk keadaan saat sosok yang tidak kuketahui siapa itu duduk di atas ranjang – tepat di sampingku! Krek.. Ranjangku berderit dibuatnya.

Masih dengan menahan suara dan berdoa dan mengutuk dan bersumpah dan ketakutan di bawah selimut, sosok itu kembali melakukan hal yang membuatku semakin ketakutan. Dipegangnya tanganku dari balik selimut. Kurasakan tangannya, dan kutahu, dia memiliki kuku yang panjang. Dan kini aku semakin yakin, ini adalah akhir dari kehidupanku.

Aku menangis sambil menggigit bibir. Ya Tuhan, aku menginginkan sebuah kematian yang damai! Batinku lagi.

Sebentar, tangan itu menggenggam tanganku. Sedikit sakit karena kukunya itu, namun aku tetap berusaha untuk menahannya. Hiks. Aku sesenggukan. Sialan!

Tangan dengan kuku panjang itu bergerak ke atas, ke ujung selimutku. Kau tahu apa yang dilakukannya? Dia menarik selimutku! Argh! Aku tahan selimut itu sekuatku, namun nihil, dia lebih kuat. SIAL…!!! 😥

Tangan itu kini berada di kepalaku. Ditariknya rambutku kuat, dan membuatku terduduk. Aku mengaduh kesakitan. Aku masih belum melihat siapa sosok itu. Aku ketakutan – SANGAT KETAKUTAN. “Argghh… Ampuni aku!! Maafkan aku..! Jangan bunuh aku..! Maaf…!! Maaf…!! Ampun…!!!!!” tangisku sambil memegang tangan itu. Aku masih belum melihat siapa sosok yang kini duduk disampingku ini. Disini gelap, dan aku seakan buta!

Saat satu tangannya menarik rambutku, tangan satunya lagi mencekik leherku. Aku terus menangis. Volume suara semakin kubesarkan, berharap orang tuaku mendengar. “Huaaa..!! Ampun…!! Ampun…!! Ampun…!! Aaaa…!! Ampun…!!” Aku menangis dan terus menangis. Nafasku semakin sesak. Cengkeramannya di leherku semakin kuat.

“TOLONG…!!!!!” Aku berteriak dengan keras. Aku sudah melawan, kuawaskan tangannya dari leher dan rambutku. Tapi aku hanya anak SMP yang lemah! Aku bukan tandingannya!

Rambutku semakin ditariknya. “Huaaa…. Sakit..!!! Sakit…!! Ampuni aku..! Sakit..!! Huahuaa… Sakiiittt…!!!!! Ampunn…!!!! Huaa…!! Ampun..!! Sumpah sakit..!!” Aku terus saja meracau. Intensitas suara juga semakin keras kubuat. Sosok itu masih belum menghentikan aksinya. Hingga aku kehilangan nafas, dan tiba-tiba tak sadarkan diri.

***

Ry, aku masih ingat seperti apa rasa takut yang kurasakan malam itu. Juga bagaimana kerasnya cekikan dan tarikan di rambut yang kurasakan, serta usahaku untuk menyelamatkan diri. Aku sungguh ketakutan malam itu. Dengan sosok misterius dan menakutkan yang belum pernah kutemui sebelumnya. Sumpah ry, itu adalah pengalaman yang pasti tak akan pernah terlupakan olehku.

Aku juga masih ingat seberapa kerasnya suaraku berteriak meminta tolong dan meminta ampun pada sosok yang pada waktu itu belum kuketahui siapa. Namun kerasnya teriakan yang keluar dari mulutku tidak terdengar oleh orang tuaku malam itu. Mungkin mereka terlalu lelah bekerja seharian, dan membuatnya lelap saat itu. Atau mungkin mereka mendengar, namun tak peduli karena menganggap aku hanya bermimpi buruk. Mengingat sebelumnya aku juga sering mendapatkan mimpi-mimpi yang lebih seram dibanding malam Jum’at menakutkan itu ry.

Tapi ry, apa yang kurasakan malam hari itu bukanlah mimpi. Ini kenyataan yang ‘hampir’ merenggut nyawaku. Hampir? Ya, sosok yang belakangan kuketahui benar adalah Dia, pacar dunia lainnya Gabriel itu, tidak pernah membunuhku. Bahkan sampai saat ini, sudah setahun lebih aku mengetahui keberadaannya, dan aku masih hidup! Aku masih bisa menulis di tubuhmu ini, dan aku masih bisa merasakan titik-titik hujan yang baru saja jatuh dari langit.

Oh no, malam ini hujan akan turun!

 

***

Jum’at, 17 September 2010

Pintu kamarku didobrak oleh Ayah. Dia terlihat amat geram. “A…ada apa, Yah? Ke, kenapa pintu kamarku dirusak?” tanyaku kikuk sambil mengucek mata. Aku baru saja bangun tidur. Langsung kuambil posisi duduk dan kaget melihat tingkah ayah di pagi hari ini. Kulihat jam dinding, dan kutahu kini sudah pukul 06.45 WIB.

“Mengapa panggilan ayah tidak disahut? Ayah sudah berusaha membangunkanmu sejak tadi, dan kamu hanya diam, tidak menjawab.” Balasnya dengan nada tinggi.

Ibu datang dari belakang dan menyambung ucapan ayah sambil menatapku nanar. “Karena itu Ayah jadi panik terjadi apa-apa denganmu. Makanya dengan cepat ia mendobrak pintu ini.” ucap Ibu berjalan mendekat. “Kamu tak apa?” Dibelainya rambutku lembut dan tersenyum.

Seketika aku teringat kejadian malam tadi. Aku adalah korban percobaan pembunuhan! Tapi, kenapa pagi ini aku masih bisa terbangun dengan keadaan sehat seperti ini?

Langsung kuadaptasikan diriku pada suasana. Kubuat sebuah senyuman dan ber-acting seolah sebelumnya tidak pernah terjadi apapun. “Mungkin aku kelelahan, Bu. Makanya nggak dengar panggilan Ayah. Ma…maaf Yah.” Kualihkan pandanganku ke Ayah yang masih berdiri di samping pintu.

Ayah terlihat kesal dan meninggalkanku berdua dengan Ibu di dalam kamar. Ya, itulah sifat ayahku. Kalau sedang kesal terhadap suatu hal, ia pasti berusaha untuk menghindar agar luapan emosinya tidak mengenai kami. Sungguh, ayah yang hebat!

“Bu, bolehkah aku beristirahat hari ini?” tanyaku dengan wajah polos.

Ibu mengangguk sambil memicingkan matanya. “Ya sudah, istirahatlah yang cukup. Biar Ibu yang buat surat izin sekolahmu hari ini.” Balasnya.

“Terima kasih, Bu.”

“Ya…” Jawab Ibu lagi, yang beberapa jenak kemudian dilanjutkan dengan gerakan tangannya ke keningku. “Kamu demam, ke rumah sakit ya?”

“Nggak usah, Bu. Kasih obat aja. Cuma demam biasa kok.”

“Okelah, istirahatlah kembali, biar Ibu ambilkan obatnya ya..”

“Iya, Bu…”

***

Setelah kuucapkan selamat tinggal pada kelelawar-kelelawar serta beberapa burung hantu yang kutemui di atap tadi, aku kembali turun dan masuk ke dalam kamar. Malam ini akan terjadi hujan, dan tetes-tetesnya sudah berjatuhan ke bumi mengalunkan nada-nada seperti piano. Hujan memang selalu membuat perasaanku tenang, ry. Dan aku senang dengan kedatangan hujan malam hari ini. Karena, aku merasa ada sebuah perasaan nyaman di hatiku dengan hujan ini. I love rain so much, ry!

Oh ya, lanjut cerita deh ya ry.. Tau gak, waktu itu aku cuma terpikir satu kata: Aneh. Ya, bagaimana tidak? Kata Gabriel, jika aku mengetahui keberadaan pacarnya itu, nyawaku akan terancam. Dan saat hal yang mengancamku itu sudah kurasakan, mengapa aku tidak mati?

 

***

Biasanya, aku selalu merasa senang saat diizinkan oleh Ibu untuk tidak datang sekolah lantaran sakit. Namun, sepertinya kali ini, sungguh berbeda. Aku sangat tidak ingin di rumah karena aku merasa ada yang berbeda dari sebelumnya. Kamarku masih saja memiliki hawa yang aneh. Panas, namun hanya datang sesekali.

Juga, beberapa kali ornament-ornament kamarku bergerak sendiri, padahal tidak ada angin. Dan saat hal itu terjadi, aku langsung teringat pada Gabriel, yang pernah kutemui dalam keadaan terhimpit barang-barang berat yang ada di kamarnya. Kata Gabriel, hal seperti itu dibilang poltergeist, yang berarti hantu yang tak terlihat dan pelempar barang-barang. Apa mungkin ornament-ornament di kamar ini juga akan menghimpit dan membunuhku?

Pengalaman baru dihantui seperti ini membuatku merasa sedikit senang. Alasannya, hanya beberapa orang di dunia ini yang bisa merasakan ketakutan yang disebabkan oleh makhluk halus. Dan dari sedikit orang di dunia itu, aku termasuk ke dalam daftarnya. Namun tetap saja, ini membuatku takut. Bagaimana tidak, nyawaku terancam karenanya! Huft..

Ayah dan Ibu sudah pergi bekerja. Adik-adikku juga sudah pergi ke sekolah. Aku tinggal sendirian sekarang. Dengan sedikit takut, tetap saja kuberanikan diri untuk tetap bertahan di rumah.

Kini, aku sedang berbaring dengan santai. Kupegang handphone-ku dan langsung kukirimkan sebuah pesan singkat untuk Gabriel.

Yel, gue dapat teror malam tadi. Ada sosok yang nyekik dan narik rambut gue. Sumpah, gue takut!

Sending…

Sent!

Beberapa saat setelah pesan itu terkirim, suasana di kamarku kembali berubah. Dari pintu kamar yang masih terbengkalai dan belum kusentuh sejak didobrak Ayah pagi tadi, muncul sesosok wanita berambut panjang yang menutupi seluruh mukanya. Pakaiannya putih panjang dan banyak bercak darah. Aku langsung menjerit ketakutan. “Aaaa…!!!”

Angin tiba-tiba berhembus kencang dan menutup jendelaku keras. Aku terkaget dan langsung menolehkan kepalaku ke jendela. Dan saat aku tahu situasi sekarang, kembali kuarahkan pandangan ke pintu, dan kutemui sosok wanita itu tidak lagi ditempatnya semula. Tapi, tepat DI DEPANKU!

Dia – begitu Gabriel menyebut sosok itu – mengangkat tangannya searah dengan leherku. Aku kembali berpikir, dia pasti akan membunuhku lagi. Aku langsung berdiri dari kasur dan berlari. Dalam benakku, aku harus secepatnya pergi dari rumah, sebelum kejadian seperti malam kemarin terjadi lagi padaku. Apalagi sekarang aku hanya sendiri di rumah, tanpa ada orang lain yang akan membantuku jika hal tidak diinginkan itu terjadi.

Namun ternyata apa yang kuusahakan sia-sia. Dia menangkap bajuku, dan membantingku kembali ke atas kasur. Tulangku berdetuk. Aku menjerit sementara keringatku dengan deras langsung mengalir. Oh shit!

Dia kembali mengangkat tangannya, dan aku kembali menjerit. Aku sungguh ketakutan kala itu. Bagaimana tidak, dalam waktu yang tak lebih dari dua belas jam, ini adalah kali kedua dimana aku harus kembali menjadi korban percobaan pembunuhan. Dan parahnya lagi, yang akan membunuhku adalah SETAN! Yang berarti jika aku mati, tak akan ada yang bisa disalahkan!

Aku terus saja menjerit, namun tak kunjung mendapat pertolongan. Tetangga-tetanggaku adalah orang sibuk, yang mana hari ini pasti sedang bekerja. Aku hanya bisa pasrah kali ini. Kalau aku mati, oke, aku terima! Ini juga karena keingintahuanku yang berlebihan atas masalah Gabriel kok.😦

“Apa yang kamu inginkan?” teriakku sambil terus memojok.

Lama menunggu, akhirnya aku mendapatkan jawaban darinya. “Nyawamu!”

Aku kembali berteriak. “Jangaaann…!! Tidak, tidak! Aku…aku akan memberikanmu apapun, a..asalkan bukan nyawaku! Hhh.. Aku masih mau hidup!” balasku gelagapan.

Angin kencang kembali berhembus di kamarku. Selain membuat beberapa ornament ringan ikut terbang, rambut panjang Dia juga ikut terurai. Kini, wajahnya tidak lagi tertutupi rambut itu. Dan otomatis, aku bisa melihat wajahnya.

Wajahnya dipenuhi dengan luka-luka yang menganga. Juga, dari sana dapat kulihat darah segar mengalir keluar. Darah itu membasahi pipi dan pelipisnya. Aku berteriak takut melihat sosok yang ada di depan mataku ini. Dan tangannya langsung bergerak menutup mulutku. Kini, aku benar-benar sangat ketakutan.

“TIDAK…!!” teriaknya dengan keras sambil memposisikan tangannya di leherku.

Matanya melotot memandangku. Aku sungguh takut, tapi sepertinya aku terhipnotis olehnya. Kubalas tatapan matanya itu lama, hingga akhirnya aku kembali tak sadarkan diri.

***

Ry, saat itu adalah kali pertama aku dihipnotis. Lebih lagi, aku dihipnotis oleh setan. Sungguh ry, itu adalah hal berkesan namun ingin kulupakan. Tapi, bagaimana caranya?

***

Aku terjaga. Dan kutahu, kini aku tidak dimana-mana. Sekelilingku hanya putih polos. Dan tempat ini kosong. Tanpa suara, tanpa manusia, benar-benar tak ada apa-apa. Oh Tuhan, dimana ini? Apa ini tempat bagi orang-orang yang sudah mati? Apa aku sudah mati? Batinku ketakutan.

Disana, aku berjalan mencari tahu dimana posisiku kini. Tapi sepertinya aku hanya berjalan di tempat. Karena setiap aku melangkah, tak ada perubahan tempat yang kurasa. Kanan kiriku kosong. Atas bawahku juga.

Aku terduduk. Tubuhku lemas. Kutengkuk kakiku lalu kupeluk. Kini aku terlihat seperti anak kecil perempuan yang terjatuh dari sepeda dan menangis. Benar, aku memang menangis. Aku takut di tempat ini. Aku sendirian disini. Aku sudah berkali-kali berteriak namun tak ada yang menyahut. Tenggorokanku sudah sakit dan air mata terus mengalir di pipiku.

“Hiks… Hiks… Hiks… Ini dimana..?!! Ini dimana?!! Seseorang, tolong aku!! Hiks. Tolong aku..!! Aku ketakutan disini..!! TOLOOOONGG.,,!!!! Hiks. TOLOOONGG…!!! Huuuaaaa….!!!!!! Aku takut.. Aku takut…!!! Hiks. Huhuhuhu… Tolong akuu…!!! Hiks hiks hiks. TOLOOOOOOOOONNNGGGG…!!!!!! TOLOOONNGGG..!!!”

Aku terus saja menangis. Tak peduli seberapa sakit nantinya tenggorokanku. Tak peduli aku akan buta karena menangis terlalu lama. Aku tidak peduli itu! Yang penting aku selamat dari tempat asing ini!

Entah sudah berapa lama aku menangis dan tak ada yang mendengar, tiba-tiba kurasakan tubuhku menghilang.

“A…ada apa ini?” ucapku ketakutan.

***

Ry, untuk satu hal itu, aku memperbolehkan siapapun menertawakanku. Boleh mengatakan aku cengeng, banci, bodoh, atau apa. Tapi aku hanya ingin menjelaskan, bahwa berada pada situasi seperti itu benar-benar membuatmu takut! Bayangkan, kau tidak tau ada dimana, kau tak tahu apa-apa, dan kau kehilangan akal sehatmu. Dan aku yakin, satu-satunya yang akan kau lakukan adalah menangis dan berteriak. Tak ada pilihan lain, bukan?

 

***

Aku tersadar. Kulihat dengan pandangan yang masih kabur raut wajah Gabriel di mukaku yang kelihatan cemas. Oh God, aku masih hidup? Benarkah aku masih hidup? Yeah, ini benar! Terima kasih Tuhan..! batinku menyadari hal ini.

“Vin, lo nggak diapa-apain Dia ‘kan?” uap Gabriel cemas.

Aku yang masih belum sepenuhnya sadar tidak menjawab pertanyaannya. Hingga Gabriel bertanya untuk kedua kalinya dengan intonasi yang dinaikkan, baru aku bisa menggerakkan mulutku. “Hmm… Gue nggak kenapa-kenapa kok.” Balasku datar.

Gabriel memelukku. Dia menangis. “Maafin gue, Vin.. Karena gue, lo yang jadi korbannya. Maafin gue ya..” ucapnya lagi.

Aku mengangguk. Kubalas pelukannya. “Iya, nggak apa-apa kok. Ini pengalaman baru juga. Gue suka kok. Hihi.” Balasku memecah suasana mellow ini.

“Gue nggak bercanda, Vin. Gue beneran nyesal udah ngebawa lo dalam masalah ini. Lo hampir aja kehilangan nyawa lo, dan itu semua karena gue! Sekali lagi, maafin gue Vin..”

“Iya iya… Udah, jangan nangis lagi. Gue nggak enak ngelihat elo kayak gini. Lap deh tuh air mata.” Balasku merenggangkan pelukan antara kami.

Gabriel menurut. Dilepaskannya pelukan itu dan disekanya kedua matanya. Air matanya cukup banyak keluar.

Suasana hening sementara. Hingga akhirnya aku memulai percakapan. “Yel, ada apa sama gue?” tanyaku dengan polosnya.

“Lo mau gue ceritain?”

Aku mengangguk.

Gabriel menghirup nafasnya sebentar. Baru mulai bercerita. “Gini. Tadi, waktu gue nerima SMS dari lo, gue langsung minta izin pulang dengan alasan sakit. Gue bohong kayak itu karena gue ngerasa ada yang nggak beres sama lo disini. Makanya, setelah dapat izin, gue langsung ngebut kesini. Pintu rumah lo terbuka, makanya gue masuk. Eh, tiba di kamar ini, gue udah liat lo nggak sadarkan diri, di depan Dia. Gue langsung aja nebak, pasti Dia habis mempengaruhi pikiran lo. Dan ternyata benar..”

“Oh ya, tadi gue ada dimana? Kok tempatnya kosong gitu? Gue kayak ada di ruang hampa.” Ucapku memotong cerita Gabriel.

“Itu alam ghaib. Alamnya makhluk halus.” Balasnya singkat.

Aku hanya bisa membentuk mulutku menjadi huruf ‘O’ dan mengangguk. “Lanjutin ceritanya!”

“…Setelah itu, gue langsung aja ngebentak Dia karena udah berusaha ngebunuh lo. Gue takut terjadi apa-apa sama lo. Sumpah, gue takut! Kami lama berantem disini. Dia tetap keukeuh ngebilang lo harus dimusnahkan. Sedangkan gue selalu berusaha untuk mempertahankan hidup lo. Untungnya, gue berhasil mengalahkan Dia dalam argument itu. Hanya karena gue melontarkan sebuah kalimat sederhana.”

“Apa?”

“Kalau kamu membunuh Alvin, berarti kamu udah nggak sayang lagi sama aku!” balas Gabriel menirukan gaya bicaranya tadi – sewaktu aku tidak sadarkan diri.

Cool! Thank you, dude!” Aku tersenyum senang. Kuberikan sebuah ‘tos’ untuknya. Gabriel membalas. Kami tertawa bersama.

“Syukurlah lo nggak kenapa-kenapa.” Ucap Gabriel terlihat lega.

“Mental gue terganggu, bro!” balasku.

“Haha. Sabar. Gue juga kayak itu dulu, waktu pertama kenal Dia.”

Kusunggingkan sebuah senyuman. Ini artinya, aku setuju dan mengerti dengan apa yang diucapkannya. “Oh ya Yel, gue sedikit bingung dengan semua ini.” ucapku kemudian.

“Apa?”

“Gue udah ketemu Dia sampai dua kali, dia juga udah berusaha untuk membunuh gue. Tapi, kenapa gue masih hidup sampai sekarang? Bukannya gue nggak bersyukur ya, masih bisa ngelihat elo disini, tapi aneh aja.”

Gabriel mendehem. “Dia hanya membunuh orang-orang yang mencintaiku, dan yang kucintai. Dan orang-orang yang gue maksud disini adalah perempuan. Untuk orang-orang yang mengetahui keberadaannya, Dia nggak bakalan ngebunuh orang itu. Hanya saja meneror dan menakut-nakuti hidup orang itu. Sama seperti lo sekarang. Dia nggak bakalan ngebunuh elo kok. Tenang aja Vin.” Ucapnya sembari menepuk pundakku.

“Tenang? Gila lo! Kalau seumur hidup gue diganggu setan kayak itu, dan berkali-kali mengalami hal-hal aneh, gue kan juga nggak bisa, Yel!” Aku memberontak. Aku tau, kini wajahku pasti berwarna merah. Ya, setiap kali aku emosi pasti hal itu terjadi.

“Nggak seumur hidup kok kayak gini. Tinggal setahun lagi kok, sampai kita tamat sekolah. Dan lagi, Dia cuma datang dua kali setahun. Bulan Maret dan September. Jadi, lo nggak perlu setakut itu kali kok Vin. Selama ada gue, gue yakin lo pasti aman-aman aja.” Gabriel kembali memberikan senyum manisnya itu padaku. Hatiku tentram dibuatnya.

“Oke. Gue ngerti Yel. Oh ya, lo akan selalu ada ‘kan untuk membantu gue mengatasi masalah-masalah aneh yang pasti bakalan gue alami sampai akhir bulan September ini?”

Gabriel mengangguk. “Anytime, Vin.”

“Eh, itu ucapan gue!!”

“Terserah gue dong!” balas Gabriel sambil menjulurkan lidahnya.

***

Begitulah ry, ceritaku dengan Gabriel beserta pengalaman menakutkan yang kulalui bersamanya. Selama bulan September tahun lalu itu, setiap harinya aku selalu mendapatkan teror-teror menakutkan dari Dia. Mulai dari berubah menjadi bantal gulingku, para poltergeist yang mengganggu di kamarku, hingga proyeksi astral, sebuah peristiwa dimana arwahku keluar dan aku bisa melihat jasadku tertidur di atas ranjang.

Semuanya kurasakan semasa SMP dulu ry. Kini, semuanya sudah berlalu. Aku tak lagi merasakan ketakutan dihantui, tidak lagi merasakan ngompol di celana, juga tidak lagi takut untuk mematikan lampu kamar pada malam hari.

Aku sudah masuk ke tingkat SMA, dan berbeda dengan sekolah lanjutan yang dipilih Gabriel. Dan secara, semua hal misterius yang ada pada diri Gabriel juga perlahan-lahan menjauh dariku.

Ry, tahukah kamu, aku merindukan Gabriel dengan segala kehidupannya! Dan seperti akhir bulan Agustus malam ini, ditemani hujan dan bulan sabit yang indah, aku kembali menyambut bulan September – bulan dimana Dia datang – dengan senyuman. Namun malam ini pasti akan terasa berbeda. Dia tak lagi datang ke kamarku melalui jendela pada tengah malam, mengagetkanku. Dan sebulan kedepan aku juga pasti kehilangan teror-teror itu.

Oke, semua hal aneh dan menakutkan ini hanya terjadi pada saat kelas tiga SMP dulu. Ini harus tetap kusimpan dalam memori otak walaupun amat sangat menakutkan. Terima kasih untuk Gabriel dan Dia, yang sudah mengisi hidupku dengan berbagai petualangan menyenangkan selama setahun lalu.

Ry, hujan sudah semakin lebat. Dan hal ini membuat mataku sudah semakin mengantuk. Juga, sekarang sudah tepat tengah malam. Percuma saja aku menunggu kedatangan hantu menakutkan itu di malamku kali ini. Dia juga tidak akan pernah kembali lagi kok. Sudah dulu ya, aku mau tidur. Good night, my diary.. I love you forever! :*

 

Rabu, 31 Agustus 2011

Alvin

 

TAMAT

Terima kasih sudah membaca, kuharap kalian menyukainya.

Read, Comment, and Like ya… Thank you…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: