Selamat Tinggal…

Tinggalkan komentar

September 19, 2011 oleh kikisenyo

Selamat Tinggal..

“Argh…” rintihku saat pisau bermata tajam menghunus dalam pembuluh vena di tangan kiriku. Mataku terpejam saat melakukannya. Seketika, dari lengan yang baru saja dicium oleh pisau itu menyembur banyak darah. Merah, pekat. “Argh…” Sekali lagi aku merintih. Pisau yang tadi kugenggam dengan tangan kanan segera kubuang karena tak tahan melihatnya. Benda itu menabrak dinding, dan langsung terjatuh tak berdaya.

“Sakit…” Erangku sedikit berteriak sambil menggigit bibir bawah. Berharap dengan hal ini semua rasa sakit yang berasal dari tangan kiri bisa menghilang. Mataku mulai berair. Dan dengan cepat, volume air yang menumpuk di pelupuk mataku ini semakin banyak dan langsung terjun bebas membasahi pipi yang juga mendapatkan sedikit cipratan darah.

Kucoba untuk menghilangkan rasa sakit yang teramat sangat itu dengan menekan urat yang menyembul dari balik kulitku. Urat vena itu dekat dengan bagian sayatan itu. Mungkin dengan cara ini, darah bisa berhenti mengalir. Terus kutekan urat yang sudah berwarna keunguan itu dengan sangat kuat. Bibir bawahku pun ikut tergigit. “Argh…”

Tangisku menjadi. Tanganku masih dengan semangatnya mengeluarkan cairan merah pekat itu walaupun sudah kutahan dengan bantuan tekanan tangan. Lalu, darah dari tanganku itu dengan derasnya terjatuh bagaikan air terjun membasahi sprei. Membuat kamar ini terlihat semakin menakutkan.

“Hiks..” Kucoba untuk menahan tangisan kesakitan ini untuk sementara. Namun, rasa sakit itu memang sudah merajalela menyiksaku. Tak bisa kuelakkan, darah masih terus keluar dari bekas sayatan tadi. Dan hal ini benar-benar menyiksaku!

Tubuhku menggigil. Gemetaran. Kulihat kedua tanganku sudah terlihat pucat. Keringatku keluar sangat banyak dan membuat baju kaus putih yang sedang kukenakan ini semakin basah. Ya, selain keringat, darah juga ikut berpartisipasi menyiksa kaus putih polos yang tak berdosa ini.

“Aaaaaaaaaaa…!!!!” Aku berteriak dengan sangat keras dengan posisi tangan kanan tetap menekan dengan kuatnya urat vena yang berada dekat dengan sayatan itu. Teriakan itu kulakukan sambil mendongak, membuat teriakan keras itu seakan menabrak atap dan seketika itu juga menghilang.

Tangisku kembali menjadi-jadi. “Huaaa…”. Air mata ikut mendukung adegan ini. Rasa sakitnya sangat menyiksaku… Oh Tuhan, aku ingin mati! Batinku.

Sepertinya Tuhan mendengar doaku. Darah yang tak berhenti keluar membuat semuanya semakin parah. Tubuhku sudah benar-benar menggigil dan getarannya sangat kuat. Kulitku sudah berwarna putih keunguan. Kulit-kulit itu pun masih sibuk memproduksi banyak keringat yang semakin membuatku kuyup. Tiba-tiba, mataku berkunang-kunang. Semuanya terlihat tidak jelas. Namun keadaan itu tidak membuat air mataku berhenti keluar. Keadaan itu disusul dengan pendengaranku yang berdengung dengan sangat keras. Bunyinya seperti sirine ambulans. Keras, dan mengiung-ngiung.

Kepalaku juga diserang rasa sakit yang teramat sangat. Aku tak bisa menahannya. Benar-benar terasa sakit. Ditambah, dengan nafasku yang mulai terasa sesak. Terima kasih Tuhan! Batinku kembali bersuara ditengah penderitaan ini.

Aku yakin, sebentar lagi mataku pasti akan terpejam. Dan mungkin akan terpejam untuk  selamanya. Karena itu, untuk terakhir kalinya aku berteriak keras karena rasa sakit yang tak kunjung hilang ini. “Aaaaaaaa…!!!!!”.

Dugaanku benar. Aku langsung terkapar di atas kasur. Dengan keadaan tangan kanan yang masih bertengger di daerah sekitar luka. Nafasku terasa semakin sesak. Cepat cabut nyawaku Tuhan!

Kira-kira tiga detik aku terkapar, namun kesadaranku belum sepenuhnya menghilang. Dari telingaku yang terus saja bergaung, samar-samar kudengar suara dari balik pintu. “Alvin, kamu kenapa?”. Terdengar seperti sebuah kepanikan dan kecemasan dari si  pemilik suara. Ingin sekali aku menjawab ucapan itu, mengenai apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi, mulutku sudah kaku, tak bisa digerakkan lagi.

Kemudian, teriakan itu disusul dengan sebuah tindakan. Kulihat pintu kamar terbuka, dan sosok seorang wanita datang menghampiriku. Namun sepertinya kedatangannya sudah terlambat. Seluruh kesadaran yang kumiliki sudah benar-benar menghilang.

***

Hirupan udara menyesak ke dalam hidungku. Udara yang masuk langsung menerobos ke dalam kerongkonganku. Segar.

Sejenak aku menikmati udara yang sangat menyenangkan itu. Aku bernafas dengan sedikit tersenyum. Tapi, akhirnya aku sadar. Aku masih hidup! Sedikit menyesal aku mengetahui hal itu. Ah,kenapa aku tidak mati saja?

Benda apa ini? Batinku saat melihat sebuah benda bertengger di area sekitar mulut dan hidungku. Benda itu mendorong banyak sekali udara untuk dipaksa masuk ke hidungku. Tuhan, kenapa udara kali ini terasa sangat segar?

Tangan kiriku terasa kaku. Ah, ada apa ini? Kumiringkan sedikit kepalaku yang dialasi bantal dan segera kuketahui bahwa tangan naas itu sudah ditusuk oleh jarum infus dan diselimuti banyak plester. Huft…

Dimana aku? Mengapa semua ruangan bercat putih dan begitu banyak alat-alat medis? Apa ini rumah sakit? Ah, sialan! Aku nggak mau hidup lagi!

Pintu ruangan ini terbuka, dan kulihat ibu berjalan mendekatiku. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi cemas. Matanya memerah. Tangannya terlihat gemetaran sambil tatapannya nanar padaku. “Apa yang kamu lakukan? Apa yang ada di pikiranmu? Kamu ingin meninggalkan Ibu?” ucapnya bertubi-tubi sembari duduk di samping ranjangku.

Aku diam dan mengalihkan pandanganku darinya. Mataku berair, dan seketika air itu keluar dan meluncur dengan sangat baik di pipiku. “Maafkan aku, Bu.”

Ibu mengusap kepalaku. Desah nafasnya terdengar dengan sangat keras. “Kalau kamu ada masalah, ceritakanlah pada Ibu. Tidak seperti ini caranya, Nak..”

Aku kembali membalikkan wajahku menghadapnya. Dan kulihat ibu menyeka matanya. “Maafkan aku, Bu.” Balasku sama seperti sebelumnya.

“Jangan diulang lagi ya.. Ibu tidak mau kehilangan kamu…”

Aku sedikit tersenyum, dan kembali membalikkan tubuh. Maaf Bu…

***

Jum’at, 1 Juli 2011

Pagi ini kujalani dengan sebuah senyuman yang indah. Ibu mencium keningku, dan melepasku ke sekolah. Udara pagi ini segar, menyenangkan! Kulihat kucingku, sedang menjilat-jilat anaknya. Umm.. Bahkan kucing pun memulai hari ini dengan bahagia.

Di sekolah juga menyenangkan. Tahu mengapa? Andre berulang tahun, dan kami sekelas merayakannya. Kami menyanyikan happy birthday untuknya dan mengoleskan banyak krim kue di wajahnya dan teman-teman yang lain. Dan sayangnya, kue ulang tahun itu tidak habis kami makan. Haha.

Pulang sekolah aku sempat mampir ke kantin, dan menggoda si pemilik kantin, Bu Vera. Kami bercanda dan tertawa bersama. Lama disana, aku bertemu dengan Elsha yang hendak berbelanja. Asyik, bisa ketemu si cantik ini lagi!

Elsha adalah pacarku. Kami sudah berpacaran kurang lebih enam bulan. Aku sungguh menyayanginya. Dan kurasa, dia juga menyayangiku dengan sepenuh hatinya.

Di perjalanan pulang, aku dan Elsha terlibat perbincangan ringan yang menyenangkan. Ini yang paling kusuka darinya. Enak diajak berbicara, dan tidak garing. Kami bercerita tentang banyak hal. Mulai dari teman-teman, guru-guru kami yang galak, dan pengalaman-pengalaman selama liburan lalu yang mengesankan.

Setelah mengantar Elsha, aku balik ke rumah. Kemudian aku membaringkan badan di atas kasur, dan segera mengambil handphone untuk menelepon pacarku itu. Sayang, yang mengangkatnya bukanlah Elsha, melainkan ibunya. Wanita itu menangis di balik telepon dan mengatakan bahwa Elsha sudah meninggal karena TBC.

Aku langsung pergi ke rumah Elsha memastikan berita itu. Dan ternyata hal itu benar! Huft. Padahal sepuluh menit lalu kami masih tertawa, dan kemudian sekarang aku harus menerima kenyataan ini, bahwa orang yang kusayangi itu sudah dipanggil oleh Tuhan? Oh my God, what stupid I am, bahkan aku tidak tahu bahwa Elsha mengidap TBC. Pacar macam apa aku, yang tidak mengetahui keadaan kekasihnya yang sebenarnya? Argh!

Setelah dikuburkan, dengan masih tersedu-sedu aku balik ke rumah. Entah apa yang kupikirkan, langsung kuambil pisau dan menyayat tanganku. Aku ingin segera menyusul Elsha, mungkin. Rasanya terlalu sakit. Dan seketika aku tidak sadarkan diri.

Ketika aku siuman, ternyata aku sudah ada di rumah sakit ditemani ibu. Ibu menangis melihat tanganku yang masih mengeluarkan darah. Ia terlihat berusaha menahan tangisnya. Tapi sesenggukannya tidak bisa ditahan. Sungguh, betapa jahatnya aku membuat Ibu menangis seperti ini. Maaf Bu.

Malam ini aku tidur di rumah sakit, dengan mental dan tangan yang masih sakit. Sebelumnya, aku berdoa dulu. Dan doaku malam ini, semoga Tuhan menerima Elsha disisi-Nya, dan membuat aku mengikhlaskan kepergiannya yang mendadak ini. serta esok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit ini, dan bisa melupakan hari kelam ini. Amiin…

 

***

            Pagi ini dokter masuk ke dalam ruanganku dan memperbolehkan aku pulang. Asyik! Aku bisa kembali bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti sebelumnya lagi! Tapi, kenapa terasa ada yang kurang, ya? Ah, sudahlah, lupakan!

I just want to say that I will always love you, Elsha..

***

– Kematian seseorang yang kau sayang seharusnya dijadikan sebuah perayaan karena ia pergi ke sebuah kehidupan baru yang abadi. Jangan menangis, tersenyumlah kawan! –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: