Budaya Menulis Calon Pemimpin Bangsa

Tinggalkan komentar

September 18, 2011 oleh kikisenyo

Jika sebagian orang mengatakan bahwa menulis adalah satu hal yang sangat sederhana bahkan menjadi hal yang tak ada manfaatnya apalagi membawa kesuksesan dalam financial, maka bisa jadi mereka benar. Karena bagaimana pun usaha mereka jika paradigma berpikirnya masih bertahan sampai di sana, mereka memang tak akan mendapatkan manfaat apa-apa. Pikiran mereka telah memenjarakan bola-bola kesuksesan mereka sendiri.
Lalu, jika sebagian orang yang lain mengatakan bahwa menulis adalah hal yang sangat sederhana, namun di balik kebiasaan menulis seseorang akan dibawa pada kesuksesan yang begitu besar, maka bisa jadi mereka juga benar. Karena pikiran mereka telah membawa mereka membebaskan bola-bola kesuksesan yang ada dalam diri mereka.
Sebelum lebih jauh melangkah, ada baiknya kita memahami makna dan hakikat menulis itu sendiri. Apakah menulis hanya sebuah kegiatan membentuk huruf-huruf menggunakan pen atau pensil, atau alat tulis lainnya di atas sebuah kertas? Ataukah menulis memiliki makna yang lebih dahsyat daripada itu?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), menulis artinya (1) membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb); (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; (3) menggambar, melukis; (4) membatik (kain).
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat kita pahami bahwa menulis memiliki arti yang lebih luas lagi daripada hanya sekedar membuat huruf atau angka. Disebutkan bahwa menulis memiliki makna melahirkan pikiran atau perasan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Inilah makna menulis yang akan kita bahas lebih lanjut.
Dalam buku Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (2000:3) yang ditulis oleh Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan disebutkan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif.
Lalu, apa kaitannya menulis dengan calon pemimpin bangsa?
Dalam Wikipedia disebutkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Seorang pemimpin merupakan seorang pemuda yang diharapkan mampu meorganisir sesuatu untuk dapat bersama-sama menciptakan sebuah perubahan menuju yang lebih baik.
Konsep perubahan tersebut, selain dapat dilakukan melalui tindakan real, juga dapat dilakukan melalui tulisan. Maka, ketika dua hal tersebut (tindakan real dan tulisan) menyatu menjadi dua komponen yang satu padu, sebuah perubahan akan lebih mudah tercipta kemudian. Seorang pemimpin pun perlu menguasai keterampilan berbicara.
Kenapa? Karena dengan berbicara dan retorika yang disampaikannya kepada orang lain, ucapan-ucapan tersebut mampu meresap ke dalam pikiran-pikiran orang yang mendengarkan ucapannya sehingga mampu merubah paradigm berpikir mereka. Perubahan paradigma berpikir tersebut kemudian akan mampu membawa keadaan sedikit-sedikit menuju perubahan.
Tarigan (2005:18) juga menuliskan dalam bukunya, “seorang pembicara yang baik harus dan perlu sekaligus merupakan seorang penulis yang baik.” Walaupun sukar untuk diterima, namun hal itu sangat ideal. Contoh yang sangat ideal, yang sekaligus merupakan penulis yang baik dan pembicara yang ulung adalah almarhum Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka).
Dalam fungsinya, seorang pemimpin diharuskan untuk memiliki keahlian berbicara yang baik untuk dapat berkomunikasi atau menyampaikan pesan kepada anggota-anggotanya. Tarigan (2005:19) berpendapat dalam bukunya bahwa media tulis atau keterampilan menulis merupakan salah satu aspek penting dalam proses komunikasi. Kemajuan suatu bangsa dan negara dapat diukur dari maju atau tidaknya komunikasi tulis bangsa tersebut.
Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa kualitas seorang pemimpin selain dilihat dari keterampilan berbicaranya juga dapat dilihat dari kemampuannya dalam tulis-menulis.
Berkaitan dengan tujuan seorang pemimpin ketika melakukan suatu tindakan, maka sebuah tulisan juga dapat difungsikan seorang pemimpin untuk menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, persepsi dan hal apapun yang diinginkan seorang pemimpin untuk diterima dan diresapi oleh anggota atau orang-orang yang dipimpinnya.
Tarigan (2005:22) menyebutkan pula bahwa tulisan dapat membantu kita menjelaskan pikiran-pikiran kita. Tidak jarang kita menemui apa yang sebenarnya kita pikirkan dan rasakan mengenai orang-orang, gagasan-gagasan, masalah-masalah, dan kejadian-kejadian hanya dalam proses menulis yang actual. Oleh karena itu, kegiatan menulis juga dapat membantu seorang pemimpin untuk mencari suatu pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya dalam kepemimpinannya.
Seorang pemimpin, ketika terbiasa menulis, maka ia pun akan terbiasa untuk jujur pada dirinya sendiri, mengungkapkan apa yang dipikirkan maupun yang dirasakannya. Sehingga seorang pemimpin dapat terjamin kualitas karakternya.
Seperti yang disebutkan oleh George S. Patton yang dikutip dalam buku Most Inspiring Words, “Pemimpin adalah orang yang dapat menyesuaikan prinsip dengan keadaan.” Dapat dipahami bahwa ketika seorang pemimpin dalam analisisnya ternyata ucapan tidak cukup efektif untuk melakukan sebuah tahap menuju perubahan, maka tulisanlah yang menjadi alternative terbaik dalam menyampaikan pesan-pesan perubahan tersebut.
Salah satu contoh seorang pemimpin bangsa yang sangat patut untuk kita teladani adalah Mohammad Hatta. Seorang tokoh proklamator yang lahir pada tanggal 12 Agustus ini adalah seorang pempimpin yang dikenal jujur, sabar, cerdas, dan penuh ide. Ia sangat memegang teguh prinsip yang diyakininya, yakni berjuang tanpa kekerasan. Bung Hatta (panggilan akrab beliau) yang lembut hati ini, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakannya adalah otak dan pena. Ia lebih memilih melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel untuk memperjuangkan nasib bangsa dibandingkan melawan dengan kekerasan. Kegiatan tulis menulis ini ditekuni beliau sejak masih belajar di negeri Belanda sampai akhir hayatnya. Begitu banyaknya artikel yang beliau tulis, hingga tak terhitung lagi jumlahnya.
Monument intelektual berupa perpustakaan pun dibangun di Bukit Tinggi untuk mengenang beliau. Dengan tulisan-tulisan tersebut, walaupun kini beliau telah tiada, namun beliau tetap hidup melalui prinsip dan kualitas pribadi beliau yang positif, yang tergambar dan tercatat pula dalam tulisan-tulisan beliau. Secara tidak langsung, tulisan dapat membawa kita untuk menciptakan sejarah agar tak terlupakan oleh generasi-generasi setelah kita.
Begitulah beliau, Bung Hatta, yang memegang teguh prinsip ‘berjuang tanpa kekerasan’ dan memilih kegiatan tulis menulis sebagai satu alternative terbaik untuk dijadikan bahan dan alat melakukan perubahan bangsa. Karena kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari seberapa besar minat menulis bangsanya sendiri, selain dari minat baca.
Maka, budaya menulis ini mestinya juga dapat diteladani oleh calon pemimpin-pemimpin bangsa kita agar kelak mereka mampu menjadi seorang pemimpin yang tidak hanya berkualitas dari segi kepemimpinannya namun juga dari segi kreatifitasnya khususnya di bidang kepenulisan.
Karena kita sadar bahwa saat ini perang-perang fisik itu sudah tak lagi dimainkan oleh kaum-kaum yang tidak pro terhadap kemajuan Indonesia. Penjajahan (fisik) itu telah usai, bersamaan dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Namun, bentuk-bentuk penjajahan lainnya tentu masih kita rasakan. Dan tulisan yang kemudian menjadi buku-buku bacaan atau artikel penghias majalah maupun Koran akan sangat membantu kita untuk tetap mempertahankan ideologi kita, ideologi pancasila. Agar pikiran-pikiran kita tidak terpengaruh oleh berbagai macam pengaruh yang dilemparkan oleh para penjajah non fisik itu kepada kita. Agar kita mampu mempertahankan sumber daya manusia kita untuk tetap bersatu dan berjuang membela tanah air kita, Indonesia.
Oleh karena itu, penggalakan budaya menulis sangatlah diperlukan di kondisi sekarang ini. Melihat keadaan Indonesia yang semakin lama semakin memprihatinkan. Kitalah yang mestinya berkuasa di Negara kita sendiri, menghadirkan tulisan-tulisan berkualitas untuk dibaca oleh masyarakat dan warga Negara Indonesia, agar bangsa kita menjadi kuat dan kokoh menghadapi penjajahan yang abstrak ini.
Namun, sangat disayangkan, jika melihat fakta yang ada bahwa budaya menulis di Indonesia masih terhitung sangat rendah. Berdasarkan data statistik yang disampaikan dalam blog fathulwahid.wordpress.com menunjukkan bahwa satu tahun, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 225 juta jiwa baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa. Di Jepang tidak kurang dari 80.000 judul buku diterbitkan setiap tahunnya. Sedangkan di Inggris angkanya bahkan lebih besar, per tahunnya buku yang diterbitkan bisa mencapai 110.155 judul buku. Angka itu baru baru dilihat dari jumlah judul buku, belum termasuk penghitungan oplah.
Walaupun kondisinya seperti itu, kita sebagai bangsa Indonesia tidak perlu berkecil hati. Harapan itu masih ada. Ketika kita yakin bisa melakukan suatu perubahan, maka kita akan bisa. Seperti yang dikatakan Henry Ford, seorang pendiri Ford Motor Company, “Bila Anda berpikir Anda bisa, maka Anda benar. Bila Anda berpikir tidak bisa, Anda pun benar.”
Jadi, jangan ada kata menyerah. Budaya menulis tidaklah sulit jika kita memang mempunyai tekad yang kuat untuk bersama-sama menjaga dan membangun bangsa kita. Dimulai dari yang sederhana, seperti menuliskan pengalaman pribadi lalu ditambahkan sedikit hikmah di dalamnya, lalu bergerak kepada bentuk-bentuk tulisan yang lebih bervariasi lagi (esai, dan lain sebagainya).
Begitu pula dengan calon-calon pemimpin bangsa, tak ada kata terlambat untuk berbenah dan belajar menulis dari sekarang. Karena kegiatan menulis adalah kegiatan bermanfaat yang mampu dan memiliki peran yang cukup besar dalam meniti tangga perubahan sebuah bangsa.
Ketika seorang pemimpin bangsa mampu memberika keteladanan menulis, maka warganya pun akan termotivasi untuk menekuni kegiatan itu pula. Dengan tulisan itu pun seorang pemimpin akan mampu merubah paradigm masyarakatnya agar mau dan termotivasi untuk menulis dan berbagi ilmu untuk menebar perubahan menuju kebaikan kepada orang-orang lainnya.
Tulisan-tulisan itu pun nantinya akan sangat bermanfaat bagi generasi-generasi mendatang yang akan belajar banyak tentang pola kepemimpinan, startegi militer, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Karena melalui tulisanlah generasi mendatang akan mengtahui bagaimana ceritera sejarah masa lalunya yang dapat diambil pelajaran darinya.
Tanpa adanya tulisan, dapat kita rasakan, tidak akan lagi ada kisah yang konkrit mengenai perjalanan sejarah Negara kita Indonesia. Mungkin bisa melalui cerita dari mulut ke mulut, namun cerita itu makin lama makin habis dan tak berbentuk dimakan usia. Begitu pula apabila kisah sejarah itu jika disampaikan melalui media gambar, maka tidak semua orang akan memahami kisah sejarah itu hanya dengan melihat gambar saja. Yang paling ideal adalah melaui tulisan, karena dengan tulisan sejarah akan tertata rapi, dapat diabadikan dan dirawat untuk generasi mendatang dan mudah untuk dipahami.

Karena tulisan adalah pencetak sejarah. Ketika tulisan itu mati, maka mati pula kata sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: