Dia Series 3 – Dia Adalah Dia, Chapter 1 ; DIAry

3

September 10, 2011 oleh kikisenyo

DIA Series

Dia Adalah DIA, Chapter 1 ; DIAry

Rabu, 31 Agustus 2011

Dear diary,

Sungguh malam yang indah. Bulan sabit tersenyum padaku, dan bintang-bintang bersorak memanggil namaku. Angin juga menemaniku malam ini, membelaiku lembut saat kutengadahkan kepala menatap langit. Kelelawar dan burung hantu menatapku dalam, dan bertanya “Apa yang sedang dilakukannya?”. Komet juga meluncur kencang, melihat apa yang bulan dan bintang lihat. Aku.

Aku disini sendiri, di atap rumah. Tak ada yang menemaniku, namun alam selalu ada disampingku. Pun, ada kau disini, diaryku. Yang bisa menemaniku berbagi, apapun hidupku hari ini.

Kau tahu ry, setiap akhir bulan Agustus, seperti hari ini, aku selalu teringat dengan hidup Gabriel, teman semasa SMP-ku dulu. Ya, memang tak ada yang spesial. Namun, ia berbeda!

 

***

FLASHBACK

 

Senin, 6 September 2010

Pagi ini upacara berlangsung khidmat. Tak ada yang terlambat, dan bendera berhasil mengangkasa dengan baik. Pasukan PBB melakukan yang terbaik hari ini, dan membuat Bu Vera, si kepala sekolah puas akan hasil itu. Serta, pemimpin upacara, Ray, terlihat amat tegas memimpin upacara kali ini. Kulihat, Bu Vera menyalami Ray dan para anggota PBB di akhir upacara dengan senyum lebar di mulutnya.

Seluruh siswa semangat dan kuat mengikuti upacara di hari yang lumayan terik ini. Tak ada laporan siswa pingsan ataupun sakit yang kudengar. Jadi, dapat kusimpulkan, semua siswa SMP Global memiliki stamina yang kuat pagi ini.

Ah, ternyata pikiranku salah. Tidak semua siswa kuat. Beberapa bahkan berusaha terlihat kuat. Contohnya saja Gabriel, yang berdiri di samping kiriku. Ia terlihat pucat, pandangannya kosong ke depan, namun tetap bisa berdiri tegap. Biarlah, mungkin dia hanya pusing sementara, pikirku.

Masuk kelas, kulihat Gabriel semakin terlihat aneh. Keringatnya bercucuran, dan masih terlihat tegang. Ia seperti ketakutan atau kesakitan atau kebingungan atau apa. “Yel, kenapa lo?” tanyaku menghampirinya. Ia hanya menggeleng dan menutup mukanya dengan tangan.

Aku duduk di sampingnya dan mengelus pundaknya. “Mau berbagi cerita sama gue?” Dia kembali menggeleng dan mendorongku menjauhinya.

“Oh, maaf.”

Selasa, 7 September 2010

            Hari ini, Gabriel tidak datang ke sekolah. Aku sedikit mencemaskannya. Tumben, pikirku.

Pulang sekolah, aku datang ke rumahnya. Pagar rumahnya tidak dikunci, dan pintu juga tidak tertutup. Aneh. Padahal ada banyak tumpukan sendal di depan pintu, yang menandakan ada orang di rumah. Aku masuk ke rumahnya, terus berjalan ke kamarnya. Ketika pintu kamarnya kubuka, kulihat seluruh ornament di kamar itu berantakan dan menghimpit Gabriel yang tertindih tak berdaya di lantai.

Oh Damn! What the fucking hell  is this? Langsung kubantu Gabriel keluar dari situasi itu. Ia pingsan dan terlihat amat lemas. Tubuhnya penuh memar. Bayangkan saja, lemari, bantal-bantal, buku-buku, dan cermin menghimpit tubuhnya yang kecil itu. Siapa yang melakukan hal ini? pikirku berang.

Kuangkat dan kubaringkan Gabriel di atas ranjangnya. Dia masih belum siuman. Kuperiksa seluruh rumahnya mencari minyak kayu putih dan air minum untuknya – selagi tidak ada orang lain di rumah ini. Dan setelah kudapatkan, aku kembali ke kamarnya. And I get a surprise, tak kutemukan ia di tempatnya semula!

Rabu, 8 September 2010

Kembali, hari ini Gabriel tidak masuk sekolah. Ah, ada apa dengan hidup anak itu sebenarnya? Mengapa ia memiliki sifat yang TERLALU aneh dan terkesan tertutup? Tak ada orang yang tahu bagaimana kabarnya. Pastinya, tak ada yang peduli dengannya.

Sebenarnya, aku bukanlah tipe orang yang peduli terhadap hidup orang lain. Tapi, aku memiliki rasa penasaran yang tinggi. Mengingat kejadian kemarin di rumah Gabriel – keadaan aneh rumahnya, terhimpitnya dia di bawah ornament-ornament berat, dan menghilangnya dia dari kamar – membuatku sangat ingin mengetahui apa yang ada di balik semua ini. Ada yang berbeda dengan Gabriel. Dan aku yakin akan hal itu.

Pulang sekolah, kuambil handphone-ku dan kutelepon Gabriel. Kutanyai perihal kabarnya mengapa tak datang sekolah dua hari ini. Dan jawabannya amat simple, ‘Aku Sakit’. Ya, itu bukan jawaban yang kuharapkan.

Kamis, 9 September 2010

Yeah, absensi dengan nama Gabriel Stevent Damanik ditandai ‘hadir’ untuk hari ini. Kulihat, raut Gabriel masih seperti hari Senin lalu. Masih kusut, masih kosong, dan tampak tak bergairah.

Kudekati dia. Kuberi senyuman, dan dia membalas. Duduk di sampingnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada hal aneh dan hangat saat duduk di meja paling ujung itu. “Yel…” sapaku.

Dia menoleh. “Jangan tanyakan kembali kabarku!” balasnya pendek dan kasar.

“Kenapa?”

“Aku hanya tidak ingin membahasnya..”

Kemudian, dengan dinginnya, Gabriel melenggang meninggalkanku.

***

Ketika awal kulihat sikap anehnya itu, sungguh aku amat penasaran ry. Bagaimana tidak, baru kali itu kutemui anak yang sepertinya. Too misterious, you know? Oh God, untungnya, rasa penasaranku kala itu tidak berlangsung lama. Karena, pada akhirnya Gabriel mengungkapkan semuanya..

 

***

 

Kamis, 16 September 2010

Ada sebuah perdebatan hebat di kelas hari ini. Dengar-dengar, akan ada sebuah demo menuntut lamanya waktu belajar yang sampai sembilan jam. Ya, kebijakan ini memang memberatkan banyak siswa. Tak heran, semua orang heboh memikirkan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan. Tapi aku masih sama, diam tak peduli. Dan juga sepertiku, Gabriel ikut tak bersuara dan memilih diam di bangkunya di pojok kelas.

Aku masih penasaran dengan hidupnya. Dia begitu aneh. Misterius, tepatnya. Dan kau tahu, aku memang SANGAT ingin mengetahui apa yang terjadi pada seseorang – terlebih yang amat menarik perhatianku. Ya, walaupun mungkin tidak ada hubungannya sedikitpun denganku.

Kembali kudekati Gabriel di tempat duduknya. Dia menoleh melihatku. Kuberikan dia senyum, dan dia membalasnya. Manis juga senyumnya.. pikirku. Lanjut, aku duduk di sampingnya. Dan saat aku hendak memulai percakapan, Gabriel memotongnya.

“Maafkan sikap gue minggu lalu itu, ya.. Gue nggak bermaksud..” Ucapnya dingin. Terkesan datar dan tanpa ekspresi.

Aku mengangguk. Dan kembali kuulontarkan sebuah senyuman padanya. “Ya, nggak masalah.. Gue  ngerti kok. Pasti saat itu lo sedang tertekan, bukan?”

Dia mengangguk. “Ya.. You can see me! Gue punya masalah. Makanya sikap gue agak aneh belakangan ini.” Dia menundukkan kepalanya. Kucoba meraih pandangannya yang semakin ditekuk. Dia menutup matanya. Apa dia menangis?

“Masalah? Mau berbagi sama gue nggak? Mungkin gue bisa bantu lo?”

Kali ini dia menggeleng. “Nggak usah. Gue yakin bisa menyelesaikannya sendiri. Dan lagi, gue nggak mau ngebikin elo repot dan terbebani sama masalah yang gue hadapi.” Dia mengangkat kepalanya. Matanya memerah. Ya, tadi dia memang menangis.

Aku tak mengerti dengannya. Mengapa ada orang dengan sikap yang begitu aneh sepertinya? Ya, aku mengerti dengan orang yang memiliki masalah. Tapi, apa seberat itukah masalahnya hingga membuat psikisnya juga ikut terganggu? Ah, ada apa dengannya?

“Jangan hadapi masalah sendirian, kawan! Masih banyak orang yang mau membantu lo menyelesaikan masalah itu. Gue nggak mau ngelihat elo kayak gini terus. Gue nggak tega ngelihat teman gue punya masalah sampai membuat hidupnya terkesan aneh. Hmm.. Gue akan coba bantu lo sebisa gue! Dan gue janji, tak akan memberitahu siapapun mengenai hal ini!” Kuangkat tanganku dan membentuk huruf V. Kutatap matanya, dan kutemui sebuah kebinaran disana. Gabriel terlihat berat untuk menceritakan masalahnya. Dan aku juga bisa melihat kondisi dimana dia sudah sampai titik maksimal dimana dia sudah tidak tahan lagi dengan masalah yang sedang dihadapinya kini itu.

Kuelus punggungnya. “Bagaimana? Apa lo mau ngasih tau gue? Ada apa sih? Sumpah deh, gue penasaran amat sama lo! Udah sejak awal bulan sikap lo berubah aneh, dan lo nggak biasanya kayak gini.” Kutekankan intonasiku, dan membuat Gabriel mengarahkan pandangannya padaku.

“Apa lo janji nggak bakal ngasih tau siapapun tentang hal ini?”

“Ya, gue janji!”

Sementara itu, teman-teman sekelasku masih tetap heboh membicarakan demo itu. BERISIK!

***

Diary, apa yang akan muncul di benakmu saat seseorang menceritakan sesuatu yang terasa tidak mungkin terjadi? Apa kau akan menganggapnya sebagai orang gila, atau apa? Yang jelas, aku pernah berada pada situasi itu saat Gabriel menceritakan hidupnya padaku.

 

***

Gabriel tidak ingin menceritakan hal itu di sekolah. Ia bilang, lebih baik di luar wilayah sekolah. Ia menyarankan di rumahnya atau rumahku. Kupilih saja di rumahnya, jaga-jaga kalau masalahnya itu menyangkut keluarga, aku bisa melihat keadaan rumahnya langsung.

Pulang sekolah, kami berdua bertolak ke rumah Gabriel. Masih sama seperti Selasa lalu, tak ada orang lain di rumah. Gabriel bilang, dia tinggal sendirian di hari-hari kerja orang tuanya.

Masuk ke kamarnya, Gabriel langsung mengganti pakaiannya dan menawarkanku makan. Aku mengiyakan, dan makan bersamanya. Ternyata Gabriel sosok yang menyenangkan juga. Ya, selama di sekolah aku jarang berhubungan dengannya. Jadi tak heran kalau aku tidak terlalu mengenalnya.

Selesai makan, kami berdua duduk di depan televisi. Gabriel sibuk menukar-nukar channel. Dan aku hanya menikmati tontonan yang dipilihnya. Lama menonton TV, akhirnya aku sadar untuk apa aku kesini. Gabriel ingin menceritakan masalahnya padaku, yang mungkin sedikit atau banyaknya bisa kubantu menyelesaikannya.

“Yel, lo nggak jadi cerita ke gue?”

“Cerita apa?”

“Bukannya lo punya masalah? Gue kesini ‘kan untuk dengar cerita lo..”

“Oh iya..” Tanggapan yang kuterima dari Gabriel tidak disertainya dengan tindakan. Dia masih asyik menonton. Aku hanya diam. Ber-positive thinking dengan sikapnya ini. Mungkin dia sedang menyusun kalimat agar apa yang diceritakannya nanti baik dan pantas untuk kudengarkan.

“Huh, ya, oke, gue bakal cerita ke lo. Tapi, lo beneran bisa jaga mulut kan? Jangan buat masalah yang gue hadapi sekarang semakin ribet karena lo.”

Aku mengangguk. “Ya, seperti yang gue katakan tadi. Gue bisa jaga semuanya..”

Gabriel berjalan ke kamarnya meninggalkanku. Dan kembali sambil membawa laptop hitam besarnya. “Ada yang mau gue perlihatkan dulu ke elo.” Ucapnya dingin.

Anak berwajah tirus itu kemudian membuka laptopnya, dan membuka beberapa folder, sampai akhirnya sebuah photo yang membuatku tercengang muncul di layar. “Ini yang mau gue ingin lo tahu..”

Gambar itu sangat membuatku terkejut. Bagaimana tidak, di sana terpampang sebuah photo narsis Gabriel dengan sebuah penampakan di belakangnya. Makhluk yang ada di belakang Gabriel itu adalah sosok perempuan yang tinggi, dan memiliki rambut panjang yang menutupi wajahnya. Wanita di belakangnya itu mengenakan pakaian putih panjang, dan ia berdiri amat dekat dengan Gabriel.

“I..itu beneran? Itu editan ‘kan?” ucapku gagap dan sulit berkata.

“Asli…” balas Gabriel pendek dan melihatku yang ngeri.

“La.. lalu?”

“Apa?”

“Siapa dia?” Tanyaku masih sulit untuk mengontrol diri.

“Pacar gue..”

“Hah?!!”

***

Waktu itu aku amat kaget mendengar ucapan Gabriel. Dia bilang, penampakan yang ada di belakangnya itu adalah pacarnya. Ah, gila! Apa aku harus percaya dengannya? Siapa yang percaya pada hal itu? Sumpah, aku nggak sampai berpikir tentang hal ini – bahwa ini adalah masalahnya!

 

***

“Maksud lo apaan Yel? Itu arwah pacar lo, atau apa? Itu kuntilanak tahu, Yel! Ah, jangan ngaco lah! Gue nggak bakalan percaya sama hoax beginian!” emosiku naik. Bukan karena marah merasa dibohongi, tapi karena tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan dan yang diperlihatkan oleh anak yang ada di depanku ini.

Gabriel langsung terlihat panik mendapat jawaban seperti itu dariku. Dengan cepat dibalasnya ucapanku. “Bukan! Bukan! Dia bukan kuntilanak! Dia benar pacar gue! Jelasnya, gue punya pacar yang berasal dari alam lain. Dan gue tekankan, ini bukan hoax yang gue buat!”

Gabriel menutup laptopnya. Dan kembali melanjutkan ucapannya. “ \Kalau lo nggak percaya sama apa yang gue bilang, terserah.” Kemudian, ia kembali menghidupkan televisi dan tiduran di sofa. Meninggalkanku sendiri yang masih tak mengerti dengan apa yang baru saja kulihat.

“…” Aku tak bisa berkata apapun. Aku masih belum bisa membuat diriku sendiri percaya dengan photo itu. Otakku seakan bisa berbicara dan meneriakiku dengan berbagai pertanyaan dan kemungkinan dari photo itu, sikap Gabriel, dan ucapannya tadi.

Mana mungkin manusia bisa berpacaran dengan hantu?

Pantas saja, sikap Gabriel aneh. Ternyata ini yang ada di baliknya!

Gila, apa-apaan ini? Gue pasti dibohongin!

Ya, otakku meneriaki berbagai macam kalimat. Banyak yang berupa pertanyaan, ada juga yang sebuah pendapat, dan tak sedikit juga yang merupakan sebuah ejekan yang mengatakan bahwa Gabriel adalah orang gila.

“Yel, haruskah gue percaya sama lo?” tanyaku lirih.

Gabriel masih asyik dengan televisinya. Dan beberapa lama setelah pertanyaanku itu dilontarkan, barulah mulutnya tergerak untuk menjawab. “Tidak. Yang jelas gue udah memberitahu pokok dari masalah yang gue hadapi. Gue nggak nyuruh lo untuk percaya atau tidak, ‘kan?”

“Oh oke. Sekarang gue emang nggak percaya. Tapi, apa lo bisa kasih bukti lain yang bisa merubah pendapat gue ini?”

Gabriel bangkit dari duduknya. Ditatapnya aku yang masih mati penasaran, dan dengan menatap langit-langit, ia kembali menjawab. “Lo nggak ingat? Hari Selasa lalu saat lo kesini, lo ngelihat gue pingsan terhimpit ornament-ornament kamar ini ‘kan? Trus, saat lo pergi ngambil minum, gue udah hilang dari kamar. Apa lagi yang membuat elo nggak percaya sama yang tadi gue perlihatkan?”

Aku termenung. Kupikirkan apa yang baru saja Gabriel ucapkan. Ya, memang tak bisa dipungkiri, apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Alibi yang baru saja dijelaskannya padaku ini berhasil membuat pendapatku goyah dan akhirnya percaya padanya.

“Ya, memang bodoh kalau gue nggak percaya sama lo. Gue juga nggak bisa menuding lo sebagai pembohong. La.. lalu, siapa nama pacar lo itu? Dan, kenapa lo bisa pacaran sama hantu kayak dia?”

Gabriel menghela nafasnya. Dan kembali bercerita. “Namanya Dia. Tepatnya Dia Oktaviani. Hmm… inilah sebabnya gue nggak mau cerita tentang ini ke elo di sekolah.”

“Kenapa?”

“Ya, gue pertama kali memulai hubungan ini di sekolah. Untuk jaga-jaga dari hal terburuk, gue nggak mau aja kita di sekolah. Karena gue nggak mau ngebikin elo celaka.” Semakin lama, intonasi Gabriel semakin mengecil. Membuat aku berpindah duduk mendekatinya agar lebih menyimak apa yang dikatakannya.

“Maksud lo apa? Celaka maksudnya?”

“Dia pernah bilang ke gue, siapapun yang tahu tentang keberadaannya, akan diteror dan hidupnya akan hancur. Maaf, gue udah membuat lo ikut masuk ke dalam permainannya ini.” Gabriel menunduk. Dan membuat suaranya juga semakin sulit untuk kudengar.

“Oh shit! Kenapa lo nggak bilang sebelumnya?” Kupukul sofa sedikit keras. Dan kulihat Gabriel yang sudah mengangkat kepalanya sedang melihat apa yang kulakukan. Dari ekspresinya, bisa kutangkap kalau dia merasa bersalah atas omongannya tadi. “Umm.. eh, ma.. maaf Yel..” aku langsung salah tingkah dibuatnya. Ya, ini memang salahku. Aku yang memintanya untuk bercerita. Dan kalaupun aku harus ikut masuk ke dalam hal ini, oke, aku terima!

“Ya, bukan salah lo juga kok. Gue juga, kenapa nggak ngasih tahu lo dulu tentang ini.”

Kuhela nafas panjang. Dengan ini, aku bisa kembali berpikiran jernih. “Hmm.. lalu, apa masalahmu dengan Dia?” lanjutku.

***

Sumpahlah, di saat itu, aku merasa amat kesal! Bagaimana tidak? Gabriel sebelumnya tidak memberitahu dampak dari apa yang akan diceritakannya. Dan kini? Aku harus ikut terjebak dengan permainan makhluk halus?Argh, gila aja!

 

***

“Lo harus tahu sebelumnya, Dia nggak mau kalau gue sampai jatuh cinta dan dicintai sama seseorang. Selasa lalu itu gue sampai pingsan karena terhimpit, itu adalah ulah Dia. Dia tahu kalau gue punya rasa sama Via. Dan sekarang, Via juga sedang dalam keadaan terancam nyawanya! Huh, jahat ya gue?” Raut Gabriel tampak mengusut. Matanya memerah. Ya, aku mengerti perasaannya. Psikisnya pasti terganggu karena membahayakan nyawa orang yang disayanginya.

Kuelus punggungnya kembali. Dan, kuberi dia semangat. Dia sudah seperti tanaman yang tidak disiram sekian lama. Layu. “Sudahlah, masalah perasaan ‘kan bukan kehendak lo juga. Tuhan yang memberikan rasa sayang itu untuk lo, agar bisa lo tunjukkan ke Via. Jadi, kalaupun nanti Sivia benar-benar terancam, setelah lo berusaha untuk menghindarinya dan hal terburuk pun tetap menghampirinya, setidaknya lo udah memberikan yang terbaik untuk Via. Sudahlah Sob, jangan lemes gitu dong! Semangat!!” Kunaikkan intonasiku untuk membakar jiwanya. Gabriel mengangkat kepalanya dan menatapku. Dia tersenyum. Kubalas dengan tak kalah manisnya.

“Terima kasih..” ucapnya.

“Ya, anytime..”

Tiba-tiba, kudengar sebuah suara kaca yang pecah. Suara itu sepertinya berasal dari kamar Gabriel. Bahkan, aku dan Gabriel yang sedang di ruang tamu pun terkaget mendengar suara yang keras itu.

Kami – aku dan Gabriel, langsung berlari ke kamar. Dan benar, cermin besar yang ada di dekat lemari pecah berkeping-keping. Apa sebabnya? Aku tak tahu. Tidak ada orang lain selain aku dan Gabriel disini. Jadi, tak mungkin seseorang yang lain yang melakukannya.

“Ada apa ini, Yel?” tanyaku ketakutan.

“Permainannya baru saja dimulai, Vin!”

“Maksud lo?”

***

Ya, benar kata Gabriel. Permainan baru saja dimulai. Sejak saat itulah, Dia – hantu itu – benar-benar masuk ke kehidupanku…

 

***

 

BERSAMBUNG…

Lihat kelanjutannya di Dia Series #3, Dia Adalah DIA, Chapter 2 ; Permainan

Terima kasih telah membaca cerita ini. Kuharap kalian menyukainya🙂

Read, Comment, and Like yaa..😀 Terima Kasih😀

3 thoughts on “Dia Series 3 – Dia Adalah Dia, Chapter 1 ; DIAry

  1. Nanda mengatakan:

    Bgus bgt.. Jd pnasaran lanjutannya nihh..🙂
    Udh ada blum?

  2. Nanda mengatakan:

    Oke, dah..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: