Kamu Sekuat Aku, Sumber Semangat

4

Juni 13, 2011 oleh kikisenyo

Kamu Sekuat Aku

 

Sumber Semangat

            Kamu Sekuat Aku, adalah sebuah novel karangan Ashni Sastrosubroto yang dibuatnya berdasarkan pengalamannya sendiri selama berjuang melawan leukemia. Penuh dengan kalimat-kalimat penyemangat yang pastinya juga menyadarkan para pembaca betapa berharganya sebuah kesehatan. Mengharukan dan memberikan pencerahan, setidaknya itulah penilaianku (penulis) setelah membaca novel inspiratif ini.

Tak bisa dipungkiri, setelah membaca novel ini, jiwaku yang kosong terasa terisi kembali. Aku yang sangat jarang sekali mensyukuri rahmat yang diberikan Tuhan – bahkan bisa dibilang selalu mencaci dan memaki apa yang diberikanNya, seketika bisa merubah kebiasaan buruk itu. Mungkin karena melihat perjuangan Ashya Sastradilaga dalam melawan penyakit kankernya yang agaknya memegang ucapan Samuel Rutherford, “Tidak ada masa depan yang gemilang bagi mereka yang telah kehilangan pengharapan dan imannya”. Ya, Ashya sangat tidak menginginkan masa depannya menjadi suram. Dia ingin meraih cita-citanya, yang berarti mengharuskannya untuk sembuh.

Setelah merenungi isi buku ini, akhirnya aku tahu apa makna hidup yang sebenarnya, bahwa semuanya akan indah pada waktunya jika dijalani dengan penuh semangat, perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan. Tanpa semua itu, pastinya apa yang kita usahakan saat ini tidak akan tercapai.

Derita Ashya mulai dari muntahan yang selalu dikeluarkannya setiap selesai makan, sampai tubuh yang semakin menyusut tidak menyurutkan cita-citanya untuk menjadi sarjana Desain Komunikasi Visual, sebuah hadiah yang dipersembahkannya untuk ibu dan bapaknya setelah hampir dua tahun merawatnya. Dua tahun melawan kanker? Dengan semua obat-obatan, suntikan-suntikan, banyaknya aturan, dan banyaknya tekanan yang dialaminya, tentunya bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dijalani. Benar? Ya!

Walaupun pernah juga menyalahkan Tuhan akan ketidak-adilan yang diterimanya, beberapa kali mengalami patah semangat dan kehilangan harapan untuk sembuh, serta merasakan patah hati diselingkuhi sang pacar disaat ia sedang kritis dan disiksa dengan penyakit itu, namun ada-ada saja hal yang membuatnya kembali memiliki semangat hidup dengan volume FULL. Kesimpulannya, Ashya mengajarkan kita untuk mengatakan apapun masalahmu dan bagaimanapun keadaanmu, pandanglah apa yang sebenarnya berada di balik itu semua. Jangan menyerah karena semuanya akan indah pada waktunya! Salut deh buat Ashya, yang sudah masuk sebagai salah satu peri penyemangat dalam hidupku!

Yang paling kusukai dari novel ini adalah perjuangan besar yang dilakukan Ibu Annie Sastradilaga dan Pak Diko Sastradilaga dalam merawat Ashya. Pastilah banyak biaya yang dikeluarkan untuk bolak-balik Bandung – Singapore, serta banyaknya waktu mereka yang tersita untuk memperhatikan kesehatan Ashya yang sering naik turun. Dan paling aku salut, kesabaran mereka yang seperti tidak pernah habisnya untuk tetap mendukung Ashya agar bisa sembuh. Huah, betapa sayangnya mereka pada anaknya itu. Ya, satu lagi pelajaran yang dapat kupetik dari novel ini, bahwa kasih sayang orangtua tidak pernah ada habisnya. Mereka pasti akan memberikan apapun dan melakukan apapun untuk anaknya asalkan sang anak merasa nyaman dan selalu terlindungi. Tak mengherankan jika Tuhan menyuruh kita untuk menaati perintah orangtua, karena apapun yang dilakukannya itu juga akan berdampak positif untuk kita. Ibu, Ayah, terimakasih atas segala perjuangan kalian selama ini yang sudah susah payah membesarkanku hingga sekarang. Aku menyayangi kalian! Ah, sedikit terasa miris… L

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita raih dari novel dengan cover berwarna hijau tua ini. Mulai dari bagaimana cara menyikapi hidup, sekalipun hidup ini terasa sangat pahit dan sulit untuk kita terima, sampai bagaimana cara kita menghormati dan menghargai seluruh pengorbanan yang telah dilimpahkan Ibu dan Ayah untuk kita.

Dan itulah yang namanya hidup, banyak cobaan yang dimaksudkan Tuhan untuk memberikan kita waktu memanfaatkan semuanya untuk tetap beribadah dan mensyukuri rahmatNya. Sudahlah, Kamu Sekuat Aku memang sumber semangat yang terus memberi pengharapan bagi orang-orang yang mungkin putus asa dan kehilangan semangat.

«

4 thoughts on “Kamu Sekuat Aku, Sumber Semangat

  1. Nisa Yuliawati mengatakan:

    Novel ini membuat aku sadar akan kata BERSYUKUR ,, novel ini menjadi INSPIRATOR sekaligus MOTIVATOR bagi hidupku .. Thanks kak asha ,, atas novel kakak ,, aku bisa SADAR ..

  2. Yessy mengatakan:

    Bagusss bangett!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: