Chicken Soup for the Father’s Soul, Indahnya Cinta Seorang Ayah

2

Juni 13, 2011 oleh kikisenyo

Chicken Soup For the Father’s Soul

Indahnya Cinta Seorang Ayah

Ayah, apa yang terpikirkan jika kata itu terdengar? Mungkin hanya sosok lelaki tua renta yang muncul di benak kita – tak lebih dari itu. Benar? Mungkin! Namun diluar itu semua, ayah adalah sosok yang selalu memberikan seluruh hidupnya untuk membuat nafas kita tetap berlanjut. Sosok yang pikirannya hanya diberikan dan ditujukan untuk kita, anaknya.

Ayah, mungkin sering sekali marah yang berlebihan disaat kita melakukan kesalahan kecil. Mungkin dia juga sering sekali terlihat egois disaat berebut acara televisi favoritnya dengan kita. Atau mungkin juga dia begitu sensitif dan tidak menyukai hal yang sebenarnya sangat kita sukai. Tapi tahukah kalian, bahwa kemarahannya itu adalah tanda rasa sayangnya, yang tidak menginginkan kita sebagai anaknya menjadi sosok yang buruk? Dan keegoisannya itu adalah bentuk dari kelelahannya setelah bekerja banting tulang untuk menafkahi kita setiap harinya – dia yang juga membutuhkan waktu untuk refreshing sejenak untuk melonggarkan otot-ototnya? Dan kekulotannya dalam menyikapi hal yang kita sukai itu adalah wujud dari kedewasaannya dalam mencerna sesuatu. Jadi, sepertinya tidak salah kalau ayah kita bersikap seperti itu. Yang kita butuhkan hanyalah sebuah pembiasaan dan rasa pengertian padanya.

Ayahku pernah berkata : “Kamu tidak lebih berpengalaman daripada Ayah dalam menyikapi sesuatu. Jadi, sebaiknya kamu diam dan biarkan ayah yang menentukannya untukmu.” Coba kita cerna terlebih dahulu ucapan itu. Setelahnya, barulah kita bisa menjawabnya dengan ucapan ‘iya’ atau ‘tidak’. Apa jawaban sobat? Kalau menurutku, jawabannya adalah IYA! Tak bisa dipungkiri, ayah memang lebih dahulu ada di dunia ini dibanding kita. Dan dia pasti tahu apapun mengenai permasalahan yang ada.

Seluruh cerita mengenai kecintaan seorang ayah pada anaknya dapat kita temukan di buku terjemahan berjudul Chicken Soup for the Father’s Soul ini. Mengharukan, dan pastinya inspiratif. Berisi lima puluh cerita dari pengarang-pengarang yang memiliki cerita antara dirinya dan ayahnya. Tahukah sobat, jarang sekali air mataku keluar hanya karena membaca sesuatu. Setelah novel Looking for Laskar, kini giliran Chicken Soup for the Father’s Soul ini yang membuatku terisak. Bagaimana tidak, disaat aku membacanya, yang terlintas di benakku adalah betapa ayah sangat mencintaiku.

Masih kuingat disaat kukecil dulu, ayah selalu menjagaku saat bermain sambil berkata : “Jangan bermain di tepi jalan, Nak!”. Dia juga selalu memelukku, menciumku, dan membelaiku disaat aku melanggar ucapannya dan terjatuh dan menangis. Ah, ayah memang sangat mencintaiku!

Sebenarnya aku telah memiliki buku ini sejak dua tahun yang lalu. Buku ini kubeli sebagai oleh-oleh dari Batam. Tapi setelah dua buah cerita kubaca, aktivitas itu terhenti seketika. Tahu kenapa? Dulu disaat aku sedang rajinnya membaca buku ini, pacarku dipanggil oleh Tuhan. Hatiku hancur kala itu. Sakit, dan merasa Tuhan itu jahat. Ya, aku sulit untuk menerima keadaan. Tangisku tidak berhenti selama tiga hari sampai ayah masuk ke dalam kamarku dan mengatakanku bodoh menangisi nasib ini. Mungkin karena tidak terima dikatakan seperti itu, sejak saat itu aku sering sekali terlibat pertengkaran dengan ayah. Dan sejak saat itu pulalah, buku ini hanya kusimpan di dalam lemari, karena malas membacanya. Ya, aku tidak bisa berbohong, dulu aku sangat tidak menyukai ayahku.

Mungkin sekarang aku sering sekali melawan pada ayah. Bukan hanya sekarang, sejak dulu hal itu sudah terjadi juga. Mungkin itu disebabkan karena masa puber-ku. Aku tidak ingin terlalu dikekang. Aku tidak ingin jika hubunganku dengan seseorang diusik oleh ayah. Tapi kini aku sadar, ayah melakukan itu karena dia memang sangat menyayangiku. Dia tidak ingin aku menjadi anak yang terjerumus dalam kenikmatan dunia yang sangat menjebak ini. Ya, buku inspiratif dengan total 219 halaman inilah yang membuat aku menyadari hal itu. Dan juga, buku inilah yang mendorongku untuk segera mengucapkan terima kasih dan meminta maaf pada ayah yang telah mati-matian menghidupiku. Aku menyesal dulu pernah tidak menyukainya. Aku menyesal sering bertengkar dengannya. Ayah, maafkan aku!

Ada satu cerita di buku ini yang sangat mengena bagiku. Berjudul New Look (Pandangan Baru), karangan Sean Coxe. Di cerita itu dikisahkan seorang anak muda yang gusar karena usaha yang dirintisnya mengalami kegagalan, dan kemudian menceritakan semuanya pada ayahnya. Setelah bercakap-cakap dan sang anak menyadari sesuatu, ia berkata : “Kau tahu, Yah, andaikata kita menyusun semua saat-saat menyenangkan yang kita alami dalam kehidupan kita dan menjejerkannya dari ujung ke ujung, maka semua pengalaman itu paling-paling hanya akan berlangsung selama dua puluh menit”. Lalu sang ayah menjawab : “Betul. Berharga, bukan?”

            Mengilhami ucapan si anak itu, kudapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kusadari. Yakni hari-hari yang kulewati bersama ayah adalah hari-hari yang sangat berharga. Hari-hari itu akan menjadi momen yang pastinya akan sangat kurindukan kalau suatu saat nanti ayah tidak ada lagi. Bagaimana kalau kuberikan sebuah rekomendasi baik untuk sobat semua? Ayah yang selalu ada untuk kita, bagaimana kalau kita memberikannya umpan balik dengan kita yang selalu ada untuknya?

Harapanku setelah sobat membaca tulisan ini sangat mudah. Datanglah pada ayahmu, peluklah tubuh rentanya itu, cium keningnya, dan katakan : “Terimakasih ayah, kau memberiku inspirasi!”

:’)

2 thoughts on “Chicken Soup for the Father’s Soul, Indahnya Cinta Seorang Ayah

  1. Ela mengatakan:

    saya ingin memebeli buku ini, tapi dimana mendapatkannya? beberapa toko yang saya datangi tidak menjualanya😦

    • kikisenyo mengatakan:

      Aku mendapatkannya di Pasar Loak di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Saat itu saya membelinya dengan harga murah, karena buku ini sudah usang. Terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: