Sebuah Perpisahan

Tinggalkan komentar

Mei 6, 2011 oleh kikisenyo

Keep Spirit Part 2, Sebuah Perpisahan

BLARR…!!!

Sungguh, seperti sebuah petir yang menggelegar di langit perasaanku saat ini. Prof. DR. Dr. Dave Randy Hutapea, dokter pribadiku, yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui penyakitku ini mengatakan kalau ia dipindah-tugaskan ke Bali.

Dokter Randy mengatakan itu memang dengan sebuah raut tak rela. Aku tahu, dia sudah menganggapku sebagai anaknya. Aku tahu, dia sangat menyayangiku. Dan aku juga tahu, kalau perasaannya sama dengan apa yang kurasakan sekarang. Sakit, tak rela, dan ingin menangis.

“Kamu sungguh-sungguh akan meninggalkanku, Dok?” ucapku miris. Menatap matanya yang berair itu dengan dalam. Kutangkap pandangannya, dan dia mengalihkan pandangan itu.

Setelah mengusap matanya, mengilap air yang menggenangi matanya itu, Dokter Randy kembali menghadapku. Dia mengangguk. Dan tersenyum. Ya, dia masih bisa memberikan senyum manisnya padaku. “Ini sudah keputusan dari pihak rumah sakit. Aku akan pindah bulan depan. Masih ada waktu untuk kita berdua…” Ucapnya memegang pundakku.

“Aku tahu itu, Dok… Tapi, kenapa harus bulan depan? Apa tidak bisa ditunda sampai aku benar-benar sembuh? Kamu bisa katakan pada pihak rumah sakit kalau kamu punya pasien… Pasti kamu akan diberikan dispensasi…” ucapku semakin pelan.

“Aku sudah mencoba… Tapi, kepindahanku ke Bali itu sudah diurus sejak lama-lama… Harusnya aku memberitahumu sejak dulu. Hanya karena aku tak mau membuat beban pikiranmu bertambah, jadi, baru sekarang dokter bisa bilang ke kamu…” Dokter Randy terlihat sangat dewasa. Aku menyukai sikapnya itu.

“Tapi, berapa lama kamu disitu?” balasku memegang tangannya itu. “Sungguh, aku tak bisa merelakan kepergianmu, Dok!” Mataku berair. Aku benar-benar cengeng. “Siapa yang akan mengobatiku lagi? Aku tak mungkin menceritakan kanker ini pada orang lain. Kamu sudah tahu, hanya kita berdua yang tahu rahasia ini…”

Dokter Randy menghembuskan nafasnya berat. Diambilnya tatapanku. “Aku sudah mencarikan dokter lain yang bisa diajak bekerjasama denganmu. Dia juga ahli penyakit dalam. Namanya Dr. Kristen Pramudya… Kalau dia ada waktu, akan kukenalkan kamu dengannya…”

“Tapi, rasanya pasti akan berbeda, Dok! Aku sudah lama mengenalmu! Tapi, Dokter Kristen itu siapa? Aku bahkan baru mendengar nama itu!” Intonasi kukeraskan. Membuat tangan Dokter Randy yang terletak di pundakku terlepas.

Dokter Randy berjalan menuju kursinya. Dan setelah duduk, dari situ dia kembali melayani ucapanku. Dia berbicara denganku yang berada di ranjang dengan dewasa. Tapi, aku menunduk. Tak melihat dia yang ada di seberang sana.

“…Belajarlah untuk menerima keadaan…” ucapnya lembut, tapi tak menghilangkan kewibawaannya. “Semuanya pasti akan baik-baik saja! Kita masih bisa berhubungan, bukan? Zaman sudah canggih! Handphone ada, facebook ada, dan twitter juga bisa membuat kita tetap terhubung! Jadi untuk apa takut dengan kepergianku bulan depan itu?” tanyanya sambil memegang handphone-nya. “Kamu sudah punya nomor HP dokter kan?”

Aku mengangguk. “Terserah kata Dokter lah!” ucapku sembari turun dari ranjang dan berjalan mendekatinya. “Yang pasti, aku lebih menyukai kalau hanya kamu yang mengetahui kanker ini!” Kutunjuk dia. Lalu berjalan mendekati pintu. “Aku masih ada urusan. Selamat tinggal!” ucapku judes dan langsung melenggang keluar.

***

Siapa Dokter Kristen Pramudya itu? Aku tak mengenal dia. Dan aku tak pernah ingin mengenal dia. Aku ingin, hanya Dokter Randy yang tau tentang ini! Aku tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya! TIDAK…!!!

Karena terus menerus memikirkan hal itu, kepalaku tiba-tiba saja terasa sakit. Sangat sakit. Aku yang semula berada di depan televisi langsung terkapar di atas sofa. Untung, hanya aku sendiri yang berada di rumah ini. Jadi sangat menutup kemungkinan untuk orang lain bisa mengetahui keadaanku sekarang.

“Argh…” Kupegang kepalaku. Rasanya sangat sakit. SANGAT! Aku menangis. Berteriak dengan keras, berusaha untuk menghilangkan semua rasa sakit itu. Tapi, apa daya? Sakit itu malah semakin merajalela menyiksaku. Tuhan, mengapa kau menyiksaku seperti ini?

Kira-kira lima menit, sakit kepala yang kurasakan tak kunjung hilang. Rasanya seperti ada sebuah palu raksasa yang dipukulkan dengan keras dan berkali-kali kepadaku. Argh, sakitnya minta ampun!

Aku yang tak bisa mengalahkan rasa sakit ini hanya bisa menahan dan terus menahan. Air mata masih terus mengalir dengan sangat lancar dari kedua mataku. Tanganku masih berkutat memegang kepala yang terasa sangat sakit. Sampai akhirnya pandanganku menjadi kabur, dan seketika itu juga aku langsung tak sadarkan diri.

***

“Bagaimana tidurnya tadi, Nak?” ucap Ibu yang ternyata sedang duduk di samping sofa tempat aku pingsan ini.

Ibu tidak  mengetahui kalau aku sedang sakit. Tidak. Dia hanya melihatku sebagai sosok yang periang dan penuh canda. Ya, aku bagaikan bintang. Terlihat sangat indah jika dilihat dari luar, namun sebenarnya adalah sebuah bola raksasa yang terbakar dan sangatlah menakutkan.

“Ngg… Nyenyak Bu…” ucapku sembari mengambil posisi duduk. Aku pura-pura menguap, dan ber-acting supaya terlihat seperti benar-benar orang yang baru bangun tidur. “Hoamm…”

“Tumben kamu tidur siang. Kecape’an ya?” tanya Ibu ramah. Aku mengangguk. Dan Ibu membalasnya dengan sebuah senyuman hangat. “Mau Ibu buatkan segelas teh?” tanyanya lanjut.

Aku kembali mengangguk. “Boleh Bu. Aku selalu menyukai teh buatan Ibu.” Ucapku saat Ibu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur.

Selagi wanita yang sudah melahirkanku itu berada di dapur, aku memikirkan sesuatu yang pada akhirnya tidak kusetujui. Sebuah pikiran yang terasa sangat mustahil. Dan aku yakin, apa yang kupikirkan barusan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan.

Hmm… Dengan memiliki Ibu yang perhatian sepertinya, apa salahnya bila aku memberitahukan rahasia besar ini? Ibu pasti akan membantuku untuk segera sembuh. Ya, Dokter Randy yang selama ini membantuku meringankan biaya pengobatan dan obat, sebulan lagi akan pergi ke Bali, meninggalkanku untuk selamanya! Tapi, apa itu semua akan membuat Ibu merasa keberatan? Secara keluarga ini adalah keluarga yang sangat sederhana. Untuk biaya kemoteraphy saja, aku harus mengumpulkan duit yang banyak dulu. Lalu, apa semua akan menjadi apa yang kuharapkan, bila seandainya aku benar memberitahu Ibu tentang kanker ini? Tidak, tidak, tidak! Aku sudah berjanji, tidak akan membuat Ibu dan seluruh keluargaku menjadi susah karena penyakit ini! Tidak! Ibu tidak boleh mengetahuinya, meskipun Ibu adalah sosok yang sangat menyayangiku! Aku yakin, aku masih bisa menjalani kehidupan ini dengan baik dan rahasia ini akan tetap terjaga tanpa ada seorang lain pun yang tahu!

Ibu berjalan ke tempatku yang berada di sofa sambil membawa nampan dengan segelas teh hangat di atasnya. “Kamu sepertinya sangat kelelahan. Tehnya diminum ya…” Ibu memberikan gelas hangat itu padaku. Dan kusambar dengan menyunggingkan sebuah senyuman kepadanya.

“Terimakasih Bu…”

***

Aku sudah kembali berada di dalam kamar. Mataku kini terfokus dengan handphone yang sedang kugenggam. Tanganku menari-nari di atas keypad menuliskan sebuah pesan singkat kepada dokter yang paling kusayangi, Dr. Randy.

Dok, walaupun nantinya kamu akan pindah ke Bali dan meninggalkanku, tapi, kuharap kamu tak akan melupakan aku disini! Aku menyayangimu! :’)

Sending…

***

Hari ini, adalah tepat seminggu yang lalu aku menghempaskan pintu ruang praktek Dr. Randy lantaran rasa kecewa dan sedih akan ditinggal pergi olehnya. Tapi, bagaimanapun, aku harus tetap balik ke rumah sakit untuk periksa. Aku juga harus kembali membeli obat. Ya, minggu lalu itu aku hanya ingin bertemu dengannya dan bercakap-cakap. Tapi, kali ini tujuanku adalah untuk berobat. Aku ingin mengetahui status tumor yang terus mengganas yang bersarang di otakku ini. Hmm… Semoga aku mendapatkan berita gembira hari ini! Amin…

Ruangan bercat putih yang diisi oleh sebuah ranjang dan banyak alat kedokteran itu kembali kumasuki. Dan saat kulihat Dokter Randy sedang duduk di atas kursinya dan menatap layar laptopnya, kucoba menyapanya dengan lembut. “Halo, Dok…”

Sosok pria dewasa yang satu-satunya kutemui di ruangan ini menoleh melihat kedatanganku. Namun kembali menatap layar laptopnya. Mendapat tanggapan seperti itu, kudekati dia. “Kamu marah padaku?”

Dokter Randy kembali menatapku. “Tidak, aku hanya sedang sibuk. Maafkan aku bila membuatmu merasa aku sedang marah padamu.” Setelah berkata seperti itu, dia kembali menatap layar laptopnya. “Apa kabarmu?” lanjutnya.

“Aku ingin memeriksakan keadaanku. Tapi, jika kau sibuk, aku akan menunggu.”

“Oke, kamu memang harus menunggu sebentar. Bersabarlah.” Dokter Randy menunjukkan senyumnya. Walaupun dengan tatapan mata yang masih melihat laptop.

Ya, Dokter Randy ternyata tidak berbohong. Dia sedang sibuk menyelesaikan urusannya dengan pihak rumah sakit tempat ia akan bekerja tiga minggu lagi itu via email. Aku memakluminya. Dokter Randy memang tidak bisa membantah apa yang sudah menjadi kebijakan rumah sakit ini. Dia memang harus menerima apapun keputusan itu.

Aku ikut menatap layar laptopnya. Hatiku terasa miris. Ah, tapi biarlah, aku tidak boleh memikirkan sesuatu secara berlebihan! Aku tidak ingin jika penyakitku ini kambuh dihadapannya. Cukup dia mengetahui keadaanku tanpa melihat saat penyakit itu sedang kambuh.

Dua jam aku duduk di sampingnya yang terus mengetik kalimat-kalimat panjang yang kemudian dikirimkannya ke Rumah Sakit Nusa Dua yang berada di Bali sana. Dan setelah semua urusannya selesai, akhirnya dia kembali menghadapiku. Dia tersenyum, dan membuatku tenang sambil hati kecilku berkata “Dia tak akan memarahimu!”

Hari ini aku tidak menjalani kemoteraphy, hanya melakukan ronsen untuk melihat perkembangan sel kanker yang terus menjalar di otakku ini. Lalu pada akhirnya, aku diberi obat. Aku hanya membayar setengah dari seluruh biaya yang dibebankan. Hanya Rp.235.000,-. Lalu setengahnya lagi, Dokter Randy-lah yang membayarnya. Hal itulah yang membuat aku semakin menyukai dokter yang mempunyai kumis tipis itu. Dia selalu mengerti keadaanku.

Di akhir pertemuan kami hari itu, sebuah berita gembira kudapatkan. Tumor di otakku tidak mengganas, namun tidak pula menjadi tumor yang jinak. Keadaan yang masih sama seperti bulan lalu. Ya, ini salah satu harapanku hari ini. Terimakasih Tuhan!

***

Ini adalah minggu terakhir bulan Maret. Sekarang hari Senin, tanggal 28. Dan hari Kamis depan, yang merupakan hari terakhir bulan ini, salah satu orang yang paling kusayangi, dengan nama lengkapnya Dave Randy Hutapea, akan bertolak ke Bali, melanjutkan tugasnya. Berarti dia akan segera meninggalkanku! Lalu aku harus bisa menggantikan posisinya dengan seorang dokter lain yang bahkan belum pernah kudengar namanya, Kristen Pramudya? Ufft…

Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox-ku disaat si pengirim pesan itu sedang kupikirkan. Dokter Randy! Ada apa ini? Tumben dia mau mengirimkanku pesan?

Kuharap kamu mau menemaniku ke bandara hari Kamis depan. Aku ingin kamu lebih siap atas kepergianku tiga hari lagi itu. Randy.

Reply

Baiklah, aku akan ke rumahmu pagi harinya. Dan aku akan membantumu untuk lebih siap pindah ke Bali itu. :’)

Sending…

***

Hari Kamis pun sudah menyapa pagiku. Setelah mandi, langsung kuganti pakaian dengan baju dan celana yang sudah sejak kemarin malam kupersiapkan. Baju berwarna biru dan celana jeans hitam, yang merupakan padanan pakaian yang paling disukai Dokter Randy jika melihatku. Saat itu, ketika berobat ke ruangannya mengenakan pakaian itu, ia mengatakan kalau aku terlihat ganteng. Kala itu aku hanya bisa tersipu malu dan mengucapkan terimakasih padanya. “Terimakasih Dok…”

Kemudian, kusandang tas punggung yang sudah kuisi dengan sebuah kotak kado berisi bingkai photo yang sudah kupasang dua photo terbaikku di dalamnya. Hmm… Sederhana memang, tapi pasti sangat berkesan. Sebuah benda yang bisa membuatnya selalu mengingatku yang kutahu, bahwa dia menyayangiku.

Setelah pamit pada Ibu dengan alasan pergi belajar kelompok (maaf Bu, kali ini aku harus membohongimu), aku langsung melenggang ke rumah Dokter Randy menggunakan angkot.

Tiba di rumahnya, ternyata Dokter Randy beserta istri dan anaknya, sedang sarapan pagi. Aku yang tadi belum sempat makan, disuguhkan beberapa makanan sehat. Dokter Randy juga memperkenalkanku pada istrinya, yang akhirnya kuketahui bernama Miss Dona, seorang guru bahasa inggris di Sekolah Dasar.

Akhirnya, tepat pukul sepuluh siang kami semua pergi ke bandara. Aku juga ikut masuk ke dalam mobilnya. Yang mengemudikan mobil ini adalah Bang Riko, adik dari Dokter Randy yang masih kuliah.  Dan setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami semua sampai di bandara.

Sebelum Dokter Randy beserta anak dan istrinya memasuki ruang check-in, aku yang ditemani oleh Bang Riko yang tidak ikut ke Bali dicegat oleh Dokter berwajah tirus yang akan segera meninggalkanku ini. Dipegangnya kedua pundakku, lalu ditatapnya dalam kedua mataku. Dan selanjutnya, bibir tipisnya bergerak dan suara beratnya pun terdengar olehku. “Kamu harus tetap semangat untuk menjalani hidup, ya?! Jangan lupa minum obat. Kamu masih muda, dan terlalu sayang jika kamu menyia-nyiakan semua ini. Ya… Walaupun aku tak lagi ada di sampingmu, tapi aku sudah mencarikan orang yang bisa menggantikan posisiku untukmu.” Air matanya sudah menggenang di matanya. Dan sepertinya siap untuk terjatuh. “Dokter Krist, dia pasti akan menolongmu untuk sembuh!” lanjutnya.

Air mataku terjatuh. Aku begitu sulit untuk merelakan kepergian Dokter Randy. Tapi, aku harus mencoba untuk tetap terlihat tegar di depannya. “Baiklah Dok, aku berjanji, aku akan tetap bersemangat dalam menjalani hidup yang sulit ini. Dokter pasti akan bangga pernah menangani aku.”

“Sekarang aku harus benar-benar pergi…” suaranya terdengar sengaja dipelankan. Aku mengangguk dan mencoba memberikan sebuah senyum. “Riko, nanti antar dia ke rumahnya, ya?” sambung Dokter Randy menatap adiknya. Bang Riko juga ikut mengangguk sepertiku.

Untuk terakhir kalinya, Dokter Randy memelukku. Dia menangis. Tapi dia tetap berusaha tegar. Aku juga sama sepertinya. Menangis. “Dok, hati-hati di jalan, ya!” ucapku sembari menghapus air mata.

“Terima kasih… Aku akan selalu mendoakan kesembuhanmu!’ Ucapnya. “Baiklah, selamat tinggal!” Dokter Randy menghapus air matanya. Lalu menggandeng tangan Miss Dona dan anaknya, Vera.

See You, Dokter Randy!” ucapku saat tiga orang itu memasuki ruang check-in.

“Baiklah, ayo kita puulang!” ucap Bang Riko mengagetkanku.

“Oke…”

***

– Apa yang tidak akan pernah hilang dari seseorang adalah harapan. Jadi, janganlah berhenti untuk berharap meskipun mungkin kau berpikir tak akan ada jalan keluarnya! – 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: