The KOLOR Of My Life

2

Maret 27, 2011 oleh kikisenyo

The KOLOR Of My Life

“Jagalah kolor ini sebaik mungkin… Jangan kamu sia-siakan. Kolor ini akan selalu membuatmu beruntung…” ucap Kakek yang mengenakan pakaian serba putih itu kepadaku sambil memberikanku sebuah celana dalam berwarna hijau.

“Te…terimakasih Kek…” ucapku memasang wajah kikuk.

Seketika, kakek itu langsung hilang dari pandanganku. Aku kaget. Tak mengerti dengan situasi yang sedang kuhadapi saat ini. “Kakek…?! Kakek dimana?!” Aku berteriak memanggilnya sambil menyapukan pandanganku.

BRUKK…!!

Aku terjatuh dari tempat tidur. Itu semua hanya mimpi. Tentang kakek itu, tentang kolor itu, semuanya hanya mimpi! Bukan kenyataan!

“Auuww…” Aku merintih kesakitan sambil memegang pinggangku yang sepertinya keseleo. Saat aku mencoba berdiri dari sungkuran menyakitkan itu, di kolong tempat tidur, aku melihat sebuah benda yang sepertinya bukan milikku. KOLOR BERWARNA HIJAU.

Kulihat kolor itu dengan seksama. Itu benar-benar kolor! Bukan khayalan belaka. Kucoba untuk menciumnya. Ternyata bau menyengat dari kolor itu tercium oleh hidungku yang setajam pisau ini. Sepertinya ini adalah bau ompol… Atau, bau dari cairan jorok milik laki-laki itu! “Wuekkss..!!” Aku hampir saja muntah karena kolor itu bertengger lumayan lama di depan hidungku. Ya Tuhan… Baunya minta ampun!

Kolor punya siapa ini?! Kenapa ada di kamarku yang serapi tong sampah ini? Pasti ada yang mencoba menerorku dengan kolor hijau menjijikkan ini! Tapi siapa?! Aku tidak punya musuh. Cuma ada beberapa. Seperti Romi, Ihsan, Dedi, Farhan, Nando, dan teman-teman mereka. Dan kalaupun benar kolor ini digunakan untuk menerorku, apa motifnya?! Tidak ada, ‘kan? Atau, mungkin ini punya ayah? Mungkin sebaiknya aku tanyakan langsung!

Aku langsung berlari keluar kamar sambil memegang kolor hijau bau itu di tangan kananku dengan perasaan jijik. Lalu berteriak memanggil ayah. “Ayaaaahh… Ini kolor punya ayah ya…?!” Aku berteriak dengan sangat keras sampai membuat ibu dari kamarnya keluar melihat aku yang baru bangun tidur ini memegang sebuah kolor jelek. “Bu, ayah mana? Kolor joroknya ketinggalan di kamar aku nih!” Kupasang wajah benar-benar jengkel melihat ibu yang sepertinya bingung mendengar ucapanku.

“Woy!  Elo lagi mimpi hah?! Ayah elo itu udah meninggal! Buat apa elo nanyain dia lagi?! Mau bikin gue nangis lagi?! Hah?!” Wajah ibu sangat menakutkan. Membuatku kembali masuk ke dalam kamar dengan cepat sebelum kemarahan ibu melunjak. Eh, tadi ibu marah pake “elo-gue” ya?! WOW! Hebat! Ibu gue geholl !😛 hha.

Kalau ayah benar-benar sudah meninggal, berarti ini kolor punya siapa?! Masa’ punya ayah aku yang lain? Emang ayah aku ada berapa? Atau, apa ini punya aku?! Kalau iya, masa’ baunya kayak ini?! Nggak ah. Kolor aku lebih bersih. Setidaknya tidak bau seperti ini. Nggak mungkin nih kolor datang dari mimpi yang tadi. NGGAK MUNGKIN BANGET! Masa’ dari mimpi bisa jadi kenyataan? Gila aja!

“Itu kolor pemberian gue, OON! Yang gue kasih di mimpi elo tadi!” tiba-tiba sebuah suara cempreng namun berat menggema di kamarku. Membuat aku sangat kaget dan berkeliling mencari sumber suara. Setidaknya aku berputar-putar berkeliling sampai tujuh kali, sampai akhirnya aku benar-benar pusing, dan terduduk di kasur memegang kepalaku. “Pusiing…”

“Kamu siapa?!” tanyaku sedikit keras setelah pusingku agak hilang. “Kamu kakek yang ada di mimpi aku tadi?! Kok kolornya bisa jadi beneran?!”

Tiba-tiba sesosok mayat idup dengan perawakan seperti kakek-kakek muncul di hadapanku. Membuat aku kaget bukan main. Lalu, kakek dengan pakaian serba putih itu langsung menghardikku. “Kalau nggak beneran gue kasih, kapan elo bisa beruntung?! Idup elo aja sial terus! Makanya gue kasih tuh kolor! Elo nggak usah banyak bacot! Pakai aja deh!”

“Sebelumnya, aku mau nanya dulu ke kakek!”

“Apa?!”

“Kakek kok gaul banget sih?! Bicara pakai elo-gue! Haha. Aku aja nggak bisa!”

“Ya iya lah! Kakek gituh! Elo mah anak kuper!”

“Kuper?! Siapa tuh?! Kakek jangan sok tau deh! Aku anaknya ibu! Bukan anaknya si Kuper!”

“Bukan itu maksud gue! Nampak banget deh bodoh elo, Ray!”

“Trus, Kuper itu siapa?”

“KUPER itu KUrang PERgaulan! Ibu elo waktu ngandung elo ngidam apa sih?! Sampai lahir anak sebodoh ini?!”

“Tanya sendiri aja deh!” balasku pendek yang langsung direspons oleh kakek itu berjalan meninggalkanku dengan wajah kesal. Namun aku menghentikan langkahnya, membuat ia kembali menoleh menghadapku yang masih duduk dengan memegang kolor busuk itu di tangan. “Tunggu dulu, Kek!” ucapku.

“Mau apa lagi elo?!”

“Kakek ‘kan datangnya dari mimpi aku, trus, kalo kakek mau keluar nyari ibu buat nanyain ngidamnya dulu, emang ibu bisa lihat?!” wajahku benar-benar kikuk. Tidak mengerti dengan sikapnya ini.

“Oh iya, gue lupa! Tolong dong, lo tanyain ke ibu elo itu, ngidamnya dulu apa?! Oke?!”

“Nah, sekarang siapa yang bodoh?!” aku tersenyum penuh kemenangan.

Kakek itu dengan wajah kesal tiba-tiba saja menghilang, setelah melontarkan kalimat kemarahannya kepadaku. Anjrit lo!

***

Karena kolor bau berwarna hijau itu kudapat dari kakek sinting dari mimpiku, dan sekarang sudah menjadi tanggung jawabku, langsung saja kucuci kolor itu. Karena, ‘kan kata tuh kakek nih kolor bakalan bikin aku beruntung! Siapa yang nggak mau beruntung?! Mungkin kamu sebagai pembaca yang nggak mau. Tapi aku mau! Haha.

Walaupun harus dicuci sampai lebih dari tiga jam untuk menghilangkan baunya, tetap dengan sangat bersabar kucuci. Aku harus tetap semangat! Perjuangan seperti inilah yang dimaksud dalam pepatah “Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Eh, kenapa jadi itu pepatahnya?! -_____-“

Tiga jam sudah aku mencuci benda segitiga itu dengan gundar yang sudah mulai kasar karena selalu disiksa oleh ibu untuk menggundar pakaian kami berdua. Dan simsalabim, kolor itu sudah harum! Kucium berkali-kali kolor yang masih basah itu ke wajahku. Dan baru kusadari kebodohanku itu saat wajahku telah basah kuyup karena air cuci. Ya Tuhan… -___-“

Selesai menggundar, kubilas bersih kolor hijau yang warnanya cepat sekali kubuat pudar karena aku menggundarnya terlalu kasar. Hahaha. Kasihan banget deh elo. Siapa juga yang suruh bau elo bau ketubandangan gitu?! Ketubandangan? Apa itu? Entahlah, ibu selalu mengucapkan kata itu setiap mencium bau kamarku.😛

Terakhir, saatnya kolor itu kujemur. Karena lahan dirumah kecil ini tidak memungkinkan jika membuat tempat untuk menjemur pakaian, terpaksa aku harus menjemurnya di luar rumah, dekat dengan pagar pembatas antara rumahku dan Alvin, tetanggaku.

Sedikit malu yang kurasa disaat pagi hari yang cerah ini yang mana sang matahari dengan sangat bangganya memperlihatkan keanggunan cahayanya, aku malah menjemur sebuah benda segitiga yang disebut orang dengan nama KOLOR. Kuremas kolor hijau butek itu sampai seluruh airnya keluar, dan langsung kutempatkan di pagar pembatas itu. Satu hal yang kusuka saat menjemur pakaian di Minggu pagi ini. Aku bisa dengan sangat mudah menemukan banyak cewe-cewe cantik yang seksi sedang marathon dan menampakkan wajah mereka yang sangat cantik jauh melebihi Nyi Roro Kidul.

Padahal kolor hijau yang setelah kupikir-pikir lebih baik kuberi nama Wauwau sudah selesai kujemur. Namun, entah kenapa leherku terasa memanjang dan langsung menyaapukan pandangan ke sekeliling. Ya, aku tahu apa yang sedang terjadi pada diriku. Hormon ganjen yang dihasilkan oleh tubuhku sedang beraksi. Gerakan memanjangkan leher dan menyapukan pandangan seperti ini bermaksud mencari cewe cantik yang bisa kupandangi keseksiannya.

“Tumben banget pagi-pagi gini nggak ada yang lewat… Biasanya banyak banget! Apa yang terjadi, ya?” ucapku heran sambil terus membuat pandanganku berkeliling.

Tiba-tiba saja dari belakang sebuah tepukan mendarat di punggungku. Membuat aku terkaget dan membalikkan badan melihat si pemilik tangan. Saat aku telah mengetahui siapa yang menepukku, lantas dia berkata : Ngapain celingukan gitu?! Kayak orang yang baru selesai maling cottonbud aja lo tau nggak?

Alvin, dia tetanggaku yang iseng itu. Dia yang setiap hari pasti menggangguku. Sebenarnya dia anak yang asyik, tapi isengnya benar-benar membuat kewalahan. Kalau misalnya dia itu bayi, aku pasti tidak mau menjadi baby sitter-nya. “Penting banget deh cottonbud dimaling… Kurang kerjaan banget tuh maling! Kan bisa yang lain untuk dimaling! Tusuk gigi, misalnya?!” ucapku sedikit mendelik kepadanya.

Alvin tertawa. “Kayaknya lebih kurang kerjaan maling yang ngambil tusuk gigi deh. Buat apa coba?! Haha.”

“Terserah kamu deh Vin. Aku lagi nyari mangsa nih!”

“Mangsa? Mangsa apa?!”

“Cewe cantik buat diliatin keseksian tubuhnya!”

“Hari gini masih nyari yang begituan?! Haha.”

“Ini menunjukkan kalau aku masih suka cewe! Emang salah?! Atau, jangan-jangan elo itu pecinta sesama cowo?!”

“Idih… masih banyak cewe di dunia ini yang mau sama gue! Nggak mungkin dong gue malah suka sama cowo?! Gila aja lo, Ray!”

“Haha. Kamu pasti selalu kalah kalau adu mulut sama aku! Ray kan ahlinya cerocos! Lihat nih bibir aku, udah mirip bebek ‘kan?!” ucapku sambil memonyongkan bibir.

“Kalau mau cium gue, bilang aja deh Ray! Nggak usah cari alasan begituan! Mentang-mentang nggak dapat cewe buat dipantengin, jangan jadiin gue korbannya!”

“Pikiran kamu ngeres terus deh Vin! Aku sumpahin nggak punya bulu ketek, baru tahu rasa!”

“Ampun deh, Ray! Elo ‘kan tahu kalo gue udah mimpi punya bulu ketek yang seksi sejak dulu! Jangan ngancurin mimpi gue itu dong!”

“Haha. Satu – kosong nih!” ucapku sambil ngacir meninggalkannya. Namun langkahku terhenti saat Alvin mengatakan sebuah kalimat yang sepertinya akan membahayakan diriku. “Ray, kolor hijau buluk ini punya elo?” tanyanya.

Mati gue. Selama ini kan gue selalu merahasiakan bentuk kolor gue. Apalagi sama Alvin. Nah, sekarang dia udah tahu salah satu bentuk kolor gue. Nanti gue dibikin malu, gue minta ampun deh! Apalagi tuh kolor bentuk dan warnanya bikin malu banget. Ya Tuhan…

Aku membalikkan badan. Dengan sedikit canggung, kuanggukkan kepalaku. Terlihat sebuah senyum iseng di bibir tipis Alvin. Ya Tuhan, pasti gue bakalan dikerjain!

“Hahahahahaha. Kolornya buluk amat, Ray! Hahahaha. Malu gue jadi teman elo! Udah gitu, kegedean lagi! Hahahaha.” Alvin terlihat sangat puas menertawaiku. Argh! Sial! Aku lupa untuk harus tetap menjaga kerahasiaan dan keamanan kolor wasiat ajaib itu! Ray Goblok!

“Biarin aja… Bilang aja elo sirik! Nggak punya kolor yang kayak itu! Ngaku aja deh!”

“Idih… Penting banget deh, gue sirik sama kolor yang kayak ini!” Alvin mengangkat kolor itu dengan sedikit perasaan jijik dan menunjukkannya kepadaku.

“Walaupun bentuk dan warnanya kayak itu, bisa membawa keberuntungan, tauk!” Aku berjalan mendekatinya dengan perasaan yang sedikit jengkel. “Kembaliin kolor gue!” Kucoba merebut kembali benda yang hak kepemilikannya sudah diberikan dengan sangat berwenang kepadaku itu. Namun, Alvin berhasil menghindarinya.

“Hahahaha. Banyak gaya lo, Ray! Masa’ kolor kayak ini aja ngebawa keberuntungan?!” Keisengan Alvin sudah berada pada puncaknya. Argh! “Eiitss… Tidak bisa! *Versi Sule* Kalau kolor ini emang membawa keberuntungan dan elo benar-benar butuh benda segitiga ini, coba ambil sendiri! Hahaha. Untuk sementara waktu, biar gue dulu yang megang! Selama gue pegang, elo harus berusaha buat ngerebutnya lagi! Dan lagi, gue kan juga harus coba khasiat dari kolor seksi ini! Masa’ punya benda ajaib nggak bilang-bilang ke sahabat sendiri sih? Hahahaha.” Alvin langsung berlari masuk ke kamarnya sambil membawa kolor yang masih lembab itu.

“Vin! Gue aja belum sempat makenya! Masa’ elo duluan sih?! Vin! Kembaliin kolor gue!” Aku berteriak keras berharap Alvin mengembalikan benda keramat itu. Aku menyerah. Alvin yang seperti itu tidak mungkin mau mengembalikan kolorku itu. Aku berbalik badan hendak kembali ke dalam rumah. Dan saat aku baru saja membalikkan tubuh, kudengar cekikikan beberapa cewe di belakangku. Ya Tuhan,… cewe-cewe cantik yang jadi incaranku tadi, sekarang malah menyerangku dengan tawa-tawa kecil mereka. Oalah~ Sungguh, aku MALU! Apalagi saat kudengar suara kecil mereka yang mengatakan “cowo ganteng malah teriakin kolor…

Dengan muka yang merah padam karena malu, dengan segera aku berlari cepat balik ke dalam rumah. Sungguh, pagi yang aneh dan memalukan!

***

Aku harus bisa merebut kembali kolor itu! Tapi, bagaimana caranya? Kalau misalnya kolor itu sudah kering dan dia langsung mengenakannya, nggak mungkin dong, kalau aku memaksanya untuk melepaskan celana dan mengembalikan kolor itu? Oh tidak!! Apa yang akan dikatakannya jika aku memang melakukan hal bodoh itu? Ampun deh!

Aha! Aku punya ide! Oyyeah! Lihat saja Alvin, kolor yang diberikan kakek gila itu pasti akan berhasil kurebut kembali! Kamu nggak berhak memilikinya, Vin! Hahahahahaha #devil laugh.

***

Malam hari, kakek idiot itu kembali datang ke kamarku. Oh kakek, aku mohon, jangan marahi aku! -_-

“Hohohohohoho….” Kakek itu tiba-tiba saja datang di hadapanku dengan tawanya yang seperti Santa Claus. “Hei anak muda, bagaimana kolor itu? Apakah kamu merasakan manfaatnya? Hahahaha.” Satu hal yang membuat aku tertawa geli. Kenapa disaat pikiranku sedang kacau seperti ini, dia tertawa dengan begitu lepasnya? Udah gitu, tawanya Santa Claus dan Spongebob, lagi. Hahaha.

Dengan menundukkan kepala tanda penyesalan, dan suara lirih, kubalas ucapannya itu. “Maafkan aku, Kek! Kolor itu direbut oleh temanku! Aku belum sempat memakainya, Kek!”

Layaknya Jacky Chan, kakek itu langsung memasang kuda-kuda hendak menendangku. Oh Tidak! Ampun, Kek! Aku belum mau mati!😦

“Ngapain kakek seperti itu?” tanyaku merendahkannya dan berusaha untuk membuat dia ragu dengan apa yang akan dilakukannya terhadapku.

“Karena kamu tidak bisa menjaga kolor itu dengan baik, aku ingin sekali menendangmu. Boleh?” tanyanya dengan wajah bodoh. Oh kakek… kalau mau menendang, nggak usah dikasih tau lebih dulu, bisa? Ampun deh! Yang bodoh aku atau kakek sih? -_-

“Kalau udah minta izin gitu, berarti wewenang untuk menjawab diberikan sepenuhnya kepadaku, ‘kan, Kek?”

“Iya, kenapa?”

“Aku tidak mengizinkanmu untuk menendangku! Bearti kamu sudah dilarang untuk melakukan itu!”

“Oh, yasudah. Maaf!” balasnya berdiri tegap kembali. “Bagaimana ceritanya, kolor itu bisa hilang?” Kakek gila itu mulai tampak serius.

Lalu, kuceritakan seluruh kejadian yuang menimpaku pagi tadi. Dan syukurnya, dia tidak marah. Tampak kakek itu biasa-biasa saja menanggapi ceritaku ini.

“Dasar bodoh. Pokoknya besok, kolor itu sudah kembali ditanganmu! Dan ceritakan lagi kepadaku tentang apa saja yang terjadi setelah kamu mengenakannya. Oke? Aku akan balik besok malam di jam yang sama seperti saat ini. Hohohohohohoho.” Tawa Santa Claus-nya kembali terdengar olehku. “See you, Ray! Muah!” dia memberikan kiss bye nya yang menjijikkan itu kepadaku dan lantas, dia langsung menghilang dari pandangan.

“Dasar kakek sinting!” ucapku gemas setelah kurasa dia benar-benar sudah hilang dari kamarku yang SANGAT rapi ini, yang sering membuat ibu berteriak keras untuk membereskannya saking RAPI-nya.

“Hei, aku mendengar apa yang kamu katakan!” sebuah suara menggema di kamarku. Itu suara kakek gila tadi.

Glek.

***

Malam itu juga, aku langsung melakukan rencana yang sudah kususun dengan sangat matang selama lima menit sebelum kakek idiot itu datang. Ya, aku harus menyusup ke dalam kamar Alvin malam ini! Dan aku harus dengan cepat mengacak-acak kamar anak iseng itu agar dapat menemukan kolor hijau yang sudah kucuci dengan sangat sabar itu.

Dengan keterampilan memanjat dinding layaknya Spiderman, aku naik ke atas atap. Lalu meloncat ke atap rumah Alvin bagaikan manusia serigala. Setelahnya, langsung kuintip kamar Alvin setelah aku meloncat turun ke balkon kamarnya seperti orang yang kehilangan kolor.

OH TIDAK!! Perkiraanku yang mengatakan kalau jam segini Alvin sudah tidur, ternyata SALAH BESAR! Saat kuintip, Alvin yang berkulit putih itu sedang memandang kolorku dengan sedikit jijik. Mungkin dia berpikir, aku adalah pembohong yang mengatakan kolor buluk seperti itu membawa keberuntungan.

Sejurus kemudian, kulihat Alvin melepaskan celananya. Shit. Dia pasti akan memakai kolorku itu! Alvin, jangan dipakai! Gue aja belum make!

Entah kenapa aku tidak lagi memikirkan resiko kalau Alvin mengenakan kolor keberuntungan itu. Pikiranku buyar saat melihat titit yang selalu disimpannya di dalam celananya. Warnanya yang putih dan menggelantung dengan bebasnya membuat aku jadi berpikir jorok… Waw…!!!

____________________SENSOR!!!! ____________________

Lanjut, lupakan masalah apa yang kulihat tadi! Jangan dipikirkan lagi, oke?!😛 Alvin yang juga sudah melepas celana dalamnya langsung mengenakan kolor yang sudah kuberi nama Wauwau itu. Oh Wauwau-ku sayang…! Kau milikku!

Oh Sial! Kolor itu sudah dipakai Alvin! Dan sekarang dia sedang bercermin melihat dirinya yang hanya mengenakan baju dan kolor berwarna hijau buluk. Bagaimana cara aku merebut kolor pemberian kakek itu kembali?😦 Aku membutuhkan keberuntungan dari kolor itu!

Samar-samar kudengar dari Alvin yang masih asyik bercermin memperlihatkan hasil “binarangka” nya selama ini, Semoga apa yang dibilang Ray gila itu benar… Kolor ini akan membawa keberuntungan!

“Ya Tuhan… bagaimana cara aku merebut Wauwau kembali ke pelukanku? Berikanlah aku petunjuk!” ucapku di dalam hati berharap Tuhan membantuku.

Tiba-tiba saja sebuah kolor dengan warna yang sama dengan Wauwau, jatuh dan menempel di hidungku. Aku yang kaget karena kejatuhan kolor, langsung saja terheran-heran dengan benda yang baru saja jatuh itu. Disaat aku menatap dalam-dalam kolor itu, sebuah suara menggema di tempat aku berdiri saat ini, balkon kamar si Alvin, anak aneh yang iseng itu. Itu, kolor udah Gue kasih! Elo bisa ngebohongin Alvin dengan kolor itu! Mudah, ‘kan? Seharusnya elo lebih sering beribadah sama Gue… Doa elo ‘kan udah Gue kabulin, tuh!

Glek. Itu suara Tuhan? Haha. Masa’ pake elo-gue? Mantap deh… “Terima kasih, Tuhan! Baiklah, mulai dari sekarang aku akan rajin beribadah… Tapi, tunggu dulu aku berhasil merebut kembali Wauwau, yaa?!” Aku bergumam sendiri. Berharap Tuhan mendengar ucapanku itu.

“Oke deh…” Tuhan membalas ucapanku.

HARI YANG ANEH! Kakek gila yang memberikanku kolor hijau butek buluk jelek bau, lalu Alvin yang merebut kolor bernama Wauwau itu, lalu aku yang berbicara dengan Tuhan. Wajib masuk diary nih! Sekarang tanggal berapa? Mau nulis pengalaman hari ini, soalnya!🙂

***

Oke, gue udah punya modal buat ngibulin si Alpin. Thank’s a lot, God! Sekarang, gue harus ganti rencana. Gue nggak mungkin ngacak-ngacak kamar dia sedangkan tuh kolor udah dipakainya!

Langsung saja aku kembali memanjat atap rumah Alvin dan meloncat ke atap rumahku, kemudian turun ke balkon kamarku, dan masuk ke dalam kamar memikirkan rencana B untuk mendapatkan si Wauwau.

***

Pagi kembali menyambutku. Hari ini adalah Senin. Namun, aku tidak pergi ke sekolah karena hari ini adalah hari libur. Pemerintah menetapkan hari ini sebagai tanggal merah untuk menyambut kelahiran anak kucing milik Presiden.

Hari libur ini kumanfaatkan untuk melancarkan gencatan senjata kepada Alvin dan merebut kolor milikku. Malam tadi aku bermimpi tentang cara untuk merebut Wauwau dari Alvin. Tau nggak, kenapa aku bisa sampai memimpikan hal itu? Aku juga nggak tau. Tapi kayaknya karena kolor itu emang jodoh aku. Haha.

Melihat kalimat pertama di paragraph di atas, memang itu yang akan kulakukan berdasarkan dengan mimpiku malam tadi. Aku akan menyerbu rumah Alvin dan mengibarkan bendera perang serta melakukan gencatan senjata. Segera kuambil cat warna untuk mencoret-coret wajah layaknya tentara yang hendak pergi perang. Setelahnya, aku mengambil tiga buah pistol air yang kubeli saat masih kecil dulu untuk nanti menembaki Alvin. Tak lupa aku membawa kolor hijau yang malam tadi diberikan Tuhan untukku. Mungkin Alvin bisa dibohongi dengan adanya kolor yang mirip dengan yang diberikan si Kakek Santa Claus itu.

Terakhir, aku mengenakan baskom kecil di kepalaku sebagai helm-nya. Dan langsung saja, tanpa mengenakan baju untuk memperlihatkan coretan di tubuhku, aku berlari ke rumah Alvin. Sempat ibu berteriak menyumpahiku yang sudah seperti orang gila olehnya. Woy anak gila, mau kemana lo?

Tiba di rumah Alvin, langsung aku berteriak sekeras mungkin. “Rumah anda sudah dikepung! Segera serahkan kolor itu atau akan ada kejadian berdarah di rumah ini!”

Tak berapa lama, Alvin sudah keluar sambil mengangkat tangannya sambil celingukan mencari polisi yang  berteriak tadi. Saat dia lengah seperti itu, langsung saja kutembak dia dengan pistol yang dulu kubeli dengan harga Rp.3.000,- itu.

“Ampun… Ampun! Saya belum mau mati! Saya tidak mengerti dengan ucapan anda tentang kolor tadi itu!” Alvin berteriak sekeras mungkin berusaha menghindari tembakan air yang bertubi-tubi kuberikan untuknya. Alvin terlihat sangat kewalahan dengan tembakan yang berasal dari balik pohon itu. Ya, aku masih belum menampakkan diri.

Aku masih terus menembakinya. Lalu saat pistolku sudah kehabisan peluru air, baru aku angkat suara. “Kembalikan kolorku!” ucapku tegas.

Untuk beberapa saat, Alvin terlihat sangat tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia terlihat sangat kebingungan melihat wajah dan tubuhku yang dicat dengan warna merah itu. Tiba-tiba saja, tawa Alvin meledak. “Hahahahahahahahahaha…” kulihat dia sangat terbahak-bahak. Apa aku lucu? Nggak ah! Di sudut  matanya tampak olehku setetes air. Saking seriusnya tertawa, air mata Alvin sampai keluar. Berarti ini benar-benar lucu menurutnya!

Karena merasa tersinggung dan dilecehkan, kutembaki dia lagi dengan pistol kedua yang masih berisi banyak air. “Aku serius! Kembalikan kolorku! Atau akan kutembaki kau terus! Air ini mengandung zat yang menyebabkan orang yang terkena cairannya akan kehilangan kesuburan pada ketiaknya! Dan kamu pasti akan benar-benar tidak memiliki bulu ketiak kalau masih menyimpan kolor itu!” Aku membohonginya. Berharap dia ketakutan dan memberikan kolor itu kembali.

“Ampun Ray! Aku nggak mau kehilangan bulu ketiak! Ray, STOP!!!!!” Alvin berteriak keras. Dan aku menghentikan tembakanku terhadapnya. “Baik, tunggu! Aku masuk dulu ke dalam, dan nanti akan kuberikan padamu!”

“Tidak, No no no no no no! Kamu masih mengenakan kolor itu. Aku tahu, kamu memakai kolor itu malam tadi. Betul, kan? Aku maunya kamu memberikan kolor itu disini! Dihadapanku! Aku tidak mau nanti kalau kamu membohongiku! Lepaskan celanamu!”

“Anjrit lo Ray! Lo pikir gue bakalan mau ngelakuin hal itu? Pegang kata-kata gue, kolor yang nanti gue kasih ke elo, itu adalah yang asli!”

“Nggak. Aku nggak mau! Kalau kamu masih membantah, aku tembak lagi, mau?!”

“I…iya deh! Ampun!”

“Sekarang cepat, lepaskan celanamu!” Aku berteriak dan membuat dia terlihat benar-benar ketakutan.

Alvin terlihat ragu dengan apa yang akan dilakukannya. Dan dia menghentikan sementara tangannya yang tadi sudah memegang pinggangnya hendak melepaskan celananya. Dengan sedikit ragu, Alvin menanyakan sesuatu kepadaku. “Kalau misalnya gue ngasih kolor itu ke lo, trus, setelah itu gue nggak make kolor lagi? Ah, nggak enak banget tauk, Ray! Kolor gue kotor semua. Makanya gue ngambil nih kolor kemarin!”

“Yaudah, nih, aku kasih kolor pengganti. Warna dan size nya sama kok! Tuhan yang ngasih ke aku kemarin. Kembaliin kolor itu ke aku, dan aku bakalan ngasih kolor ini ke kamu!” Aku melepaskan ember kecil yang kujadikan helm itu dan mengambil kolor pemberian Tuhan yang kusimpan disitu.

“Pemberian Tuhan? Maksudnya apa?”

“Banyak bacot banget deh! Jangan nunda-nunda waktu lagi! Cepat lepasin kolor aku yang sekarang kamu pake itu! Buka celana kamu! Atau perlu aku tembak lagi?”

“Gimana kalau gue ngebukanya, elo balik badan? Nanti kalau kolornya udah gue buka, gue kasih ke elo deh. Trus, lo kasih ke gue kolor yang lo bilang pemberian Tuhan itu ke gue. Kalau gue udah make kolor yang lo bilang pemberian Tuhan itu, lo boleh balik badan lagi! Gimana?”

“Oke, asalkan kamu nggak ngebohongin aku. Kalau sampai ada kebohongan, tiap hari bakalan aku tembak pakai pistol menyeramkan ini!” ucapku sembari membalikkan diri membelakanginya.

“Iya, iya… semuanya pasti sesuai rencana kok.” Ucap Alvin yang sepertinya sedang membuka celananya. Beberapa saat kami tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sampai pada akhirnya Alvin setengah berteriak sambil melempar Wauwau padaku. “Kolornya udah gue lepas tuh! Kasih gue kolor baru dong!”

“Ngelemparnya baik-baik dong. Jangan sampai kena hidung aku! Bau tauk Vin!”

“Terserah gue dong. Yang penting kan kolornya udah gue balikin! Jangan banyak omong, kasihin gue kolor baru dong. Dingin nih!”

“Oh ya! Maaf.” Langsung kulempar kolor pemberian Tuhan yang baru sempat terpikirkan namanya olehku, Dora.

Setelah Alvin mengenakan kolor bernama Dora itu, dan dilanjutkan dengan mengenakan celananya, anak yang ketakutan tidak memiliki bulu ketiak itu kembali berteriak. “Terimakasih sudah membuatku mati ketakutan hanya karena sebuah benda segitiga menjijikkan. Sekarang elo boleh pulang!” ucapnya disaat aku juga membalikkan badan menghadapnya.

“Trus, gimana masalah kolor ini?”

“Kan udah gue balikin!”

“Iya sih, tapi bauk nih!”

“Itu bukan masalah gue. Yang penting kan udah gue balikin!”

“Argh. Sialan!” aku menggerutu sambil berjalan kembali ke rumah.

“Ray, jangan lupa pakai baju, ya?! Hahahaha.” Alvin kembali berceloteh yang membuat telingaku terasa panas.

***

Kembali harus kucuci kolor hijau itu. Ya, tidak mungkin sebuah kolor tidak menjadi bau setelah dipakai setidaknya delapan jam oleh seseorang. Setelah kucuci dan kujemur di balkon kamar, takut dimaling lagi oleh Alvin, aku beristirahat di kasur sambil menatap langit-langit kamar. Kira-kira lima menit, kakek yang kujuluki kakek aneh bin gila bin sinting bin idiot bin blablabla itu kembali datang.

“Hei, udah dapat atau belum, tuh kolor?” ucapnya.

“Udah Kek. Tuh, lagi dijemur!”

“Dicuci lagi? Manfaat kolornya udah semakin memudar dong? Kalau misalnya sejak awal nggak dicuci, langsung lu pake tuh kolor, lu bisa aja jadi suaminya Lady Gaga. Karena elo benar-benar beruntung! Nah, sekarang udah lu cuci sampe dua kali. Siapa yang bakalan jadi istri lo, Ray?”

“Aku masih kecil, Kek! Belum saaatnya mikirin istri!”

“Yasudah, tinggal ditukar aja kok. Siapa yang bakalan lu jadiin istri?”

“Ah, kakek goblok ah! Itu mah sama aja! Kalau ditukarnya jadi pacar, kan masih lumanyun!”

“Yaaa… itu maksud gue!”

“Trus, gimana nasib aku, kek?”

“Ya, setidaknya “mungkin” elo bakalan ngedapatin pacar cewe tercantik di komplek ini. Bagus kan?”

“Wow. Khasiatnya seperti itu? Hebat banget Kek!”

“Yaiyalah! Hahahaha.” Tawa Spongebob-nya kembali terdengar olehku. “Tapi gue nggak jamin banget lho!”

“Hadeeh… Gimana nasib aku dong Kek? Aku nyuci tuh kolor lagi karena ‘kan kemaren dipake sama Alvin!”

“Liat aja deh khasiatnya! Gue nggak mau ngejelasinnya! Si Kiki yang nulis nih cerita udah cape’ ngetik!”

“Haha. Yadeh Kek.”

***

Setelah kolor itu kering, langsung saja kukenakan benda segitiga itu. Lalu aku kembali berbaring menatap langit-langit kamar. Dua jam pertama aku tidak merasakan manfaat apapun dari Wauwau. Putus asa pun menerpa diriku. Mungkin khasiat dari kolornya memang sudah hilang. Huft… Demi menghilangkan stress, aku pergi keluar kamar. berharap dengan cara itu aku bisa merasakan manfaat dari kolor itu.

Tujuanku kali ini pergi ke warnet. Sudah lama aku tidak pergi ke situ. Namun, baru saja aku keluar dari pagar, seseorang menahanku. Dia menangkap tanganku. Membuat langkahku terhenti. Penasaran dengan siapa yang memegang tanganku, langsung kualihkan pandanganku ke belakang, dimana si pemilik tangan berada. Dan kulihat Keke, cewe tercantik di komplek ini. Wew… Sepertinya Keke akan meledak-ledak padaku. Pasti dia akan marah padaku. Batinku ketakutan. Ya, Keke adalah musuhku. Hmm… sebenarnya bukan musuh sih, tapi Keke terlihat tidak menyukaiku. Dia selalu menghindar setiap bertemu denganku. Padahal sejak dulu aku menyukainya. Namun, tak pernah ada waktu untuk menyatakannya karena dia selalu menghindar. Tapi, sekarang apa maksudnya menemuiku?

“A…ada apa Ke?” tanyaku sedikit gugup.

“Ray, cium aku!” ucapnya cepat.

Glek. Ada apa ini? “Ke…ke…kenapa?”

“Aku menyukaimu, Ray!” ucap Keke keras dan memonyongkan mulutnya. Lama akhirnya, mulut yang sudah seperti bebek itu semakin mendekatiku.

“Keke…! Aku takut!” Aku melepaskan pegangannya  terhadapku dan meletakkan tanganku yang satunya lagi di wajahnya. Berusaha menahan ciuman yang akan kudapat.

“Tapi aku menyukaimu!” Keke terlihat semakin bersemangat berusaha menciumku.

Gila deh. Ini namanya benar-benar beruntung! Parah nih kolor! Tapi sepertinya kalau nggak gue manfaatin, kapan lagi bakalan dapat kolor dari Keke? Ralat, dapat cium.😛

Kulepaskan tangan kiriku yang menempel di wajahnya, langsung kugantikan dengan bibirku. Yehaaa…. Aku mendapatkan ciuman dari anak cantik bernama Keke!🙂

“Sekarang aku ingin kamu jadi pacarku!” ucap Keke kembali terdengar spontan saat ciuman kami lepas.

“Aku mau!” balasku sangat bersemangat.

Begitulah, dengan sangat mudahnya, akhirnya aku bisa menjadi pacar Keke. Sungguh, itu merupakan posisi yang sulit didapat oleh banyak orang. Hahahaha.😀

Setelah itu, keberuntungan-keberuntungan lain kembali kudapatkan. Benar-benar kolor ajaib! OH WAUWAU-KU SAYANG, AKU SUNGGUH MENCINTAIMU! BAGIKU, MENCINTAIMU LEBIH BERARTI DARIPADA MENCINTAI KEKE! JANGAN PERNAH TINGGALKAN AKU, WAU! :’) AKU SANGAT MENYAYANGIMU! KAU AKAN SELALU DI DALAM CELANAKU! AKU JANJI ITU! AKU TAK AKAN PERNAH MENGENAKANMU SEBAGAI TOPI, KOK! KARENA AKU PASTI AKAN DIBILANG GILA KALAU MAKE KOLOR DI KEPALA! KAU BOLEH PEGANG KATA-KATAKU INI!!! AKU INGIN MATI DENGANMU, WAUWAU!!

Kalimat-kalimat cinta itu sudah kukatakan dengan langsung kepada Wauwau saat aku sedang bercermin hanya dengan mengenakan-nya. Sepertinya Wauwau akan terharu mendengar ucapann gombalku itu. Tapi sungguh, aku mencintai Wauwau sepenuh hatiku.

Oh ya, Makasih Kakek aneh gila sinting idiot yang mirip Santa Claus dan Spongebob Squarepant’s itu. Kalau tak ada dirimu, aku pasti tak akan seperti ini!

 

 

TAMAT

2 thoughts on “The KOLOR Of My Life

  1. menone mengatakan:

    waaaahhhhh koq ga ada foto kolornya hahahahahahahaha….

    salam persahabatan selalu dr MENONE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: