Stev

Tinggalkan komentar

Maret 18, 2011 oleh kikisenyo

Aku masih mengejarnya. Dia terus berlari. Tampak dari raut wajahnya kalau dia benar-benar memiliki tekad yang kuat. Larinya yang sangat cepat dan seakan tidak mengenal lelah, membuat aku yang membuntutinya yang menjadi lelah. Kemana dia?! Dan kenapa dia terlihat begitu menginginkan suatu hal yang sangat besar?

Tiba di sebuah belokan, Stev, anak yang kukejar itu semakin semangat untuk berlari. Disaat yang sama, sebuah mobil melintas di depanku. Membuat aku harus berhenti dan menunggu mobil itu berjalan. Dan setelah mobil itu selesai berbelok dan berjalan menjauh, aku kembali mengikuti langkah Stev. Namun, sayangnya, anak misterius yang kukenal sejak awal bulan ini, sudah menghilang dan tidak tampak lagi jejaknya.

Aku tahu dimana rumah Stev. Aku sudah berkali-kali mengikutinya sampai rumah. Namun, langkahnya kali ini tidak menuju rumahnya. Dia mengambil langkah yang bertolak belakang dengan kediamannya itu. Dan itulah yang membuat aku curiga. Ada apa ini? Tidak biasanya Stev terlihat begitu. Ya, walaupun aku baru mengenalnya. Tapi aku sudah cukup tahu dengan gelagatnya.

Aku menunggunya di belokan itu. Berharap dia kembali menampakkan batang hidungnya dan bisa menceritakan apa yang dilakukannya. Aku bukannya ingin ikut campur urusannya. Tapi aku peduli dengannya. Dia temanku. Di sekolah, Stev duduk tepat di belakangku. Membuat aku sudah cukup dekat dengannya. Walaupun Stev anak pendiam, namun raut mukanya selalu menunjukkan perasaan tenang. Tidak seperti hari ini. Dia terlihat benar-benar gusar. Air mukanya menunjukkan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Dan aku tidak ingin melihat temanku seperti itu. Aku ingin dia berbagi kepadaku. Mungkin saja aku bisa membantunya. Dan aku berharap, penantianku kali ini berakhir dengan apa yang aku harapkan.

Namun hampir setengah jam aku berdiri menunggunya di belokan itu, Stev tidak kembali muncul dihadapanku. Dia seakan menghilang. Aku pun mulai menyerah. Mungkin aku belum berhak untuk mengetahui ada apa dibalik sosok Stev yang misterius itu. Mungkin dia masih harus menyimpan seluruh rahasianya ini. Mungkin.

Aku melangkahkan kakiku kembali setelah melongok sedikit ke jalan setelah pembelokan itu. Stev masih tidak tampak. Aku bermaksud kembali ke rumah. Penantianku kali ini belum berujung pada hasil yang kuharapkan. Mungkin aku bisa menanyakan hal ini besok, disaat sekolah.

Kulangkahkan kakiku dengan gontai balik ke rumah. Masih banyak PR yang belum kuselesaikan. Masih banyak email yang harus kubalas dari teman-temanku yang berada di luar negeri sana. Mungkin aku bisa menyibukkan diriku dengan PR dan email-email itu. Daripada memikirkan Stev yang mungkin seharusnya tidak terlalu kuurusi hidupnya.

Namun seluruh pekerjaan rumah dan email itu tidak bisa membuatku sedikit melupakan apa yang ada di kehidupan Stev. Aggh… Gila! Kenapa aku selalu memikirkan Stev?! Padahal dia hanya temanku. Bahkan kami baru kenal sejak awal bulan Maret ini, disaat dia pindah dari Banjarmasin. Apa yang membuat aku terlalu memikirkan hidupnya?! Toh, tidak ada gunanya juga kalau aku mengetahuinya, ‘kan? Ya Tuhan, seluruh pertanyaan tentang kemana Stev pergi tadi terlalu membuat aku penasaran!

Sempat sesekali pikiranku ngelantur dan aku bertanya pada diriku sendiri. Apa aku suka padanya? Sampai aku terlalu memberi perhatian pada hidupnya? TIDAK! Sudah kukatakan, aku peduli padanya! Karena dia itu temanku! Tapi, sepertinya ada benarnya juga, mungkin aku memang suka padanya! TIDAK! TIDAK! TIDAK!

***

Pagi ini Stev tidak datang sekolah. Surat tidak dikirim ke sekolah. Kabar mengenai dia tidak diketahui oleh siapapun. Namun, seolah seluruh temanku tidak peduli dengannya. Sekolah hari ini tetap berjalan seperti biasanya. Tak ada satu pun temanku yang bertanya Kemana Stev? Atau Ada apa dengan Stev? Atau berbagai pertanyaan lainnya yang menjurus untuk menanyakan perihal dia tidak datang ke sekolah.

Sekolah pagi ini memang berjalan seperti biasanya. Namun berbeda dengan apa yang kurasakan. Aku yang biasanya selalu serius mendengar penjelasan guru dan selalu membuat tugas yang diberikannya, malah sibuk memikirkan Stev. Stev, Stev, Stev, Stev, dan hanya Stev yang ada di pikiranku saat ini. Agghh… Stev, ada apa denganmu?! Kenapa kemisteriusanmu itu membuat aku semakin penasaran?!

***

Pulang sekolah, aku yang biasanya pergi bersama Deri, saat ini malah meninggalkannya begitu saja. Aku langsung saja ngacir ke rumah Stev yang tidak jauh dari sekolah. Dan tidak lama, aku sudah berada di depan rumahnya.

Setelah mengucapkan salam, dan dipersilahkan masuk oleh Bi Surti, pembantu di rumah Stev ini, aku langsung saja menanyakan dimana Stev. Bi Surti menjawab kalau anak majikannya itu sedang berada di kamar. Beristirahat. Aku mencoba untuk meminta izin kepada Bi Surti untuk melihat keadaan Stev di kamarnya. Dan ternyata aku diperbolehkan! Aku diantar ke kamar Stev yang berada di lantai dua. Rumahnya sangat besar. Berbeda jauh dengan rumahku yang sangat sederhana.

“Hai Stev.” Ucapku pelan saat di ambang pintu. Kulihat Stev yang sedang berbaring di kasur dan diselimuti kain tebal berwarna merah itu langsung bereaksi. Dia membalikkan badannya dan melihatku yang tersenyum kikuk.

“Hai.” Balasnya pendek. “Silahkan masuk.” Sambungnya sambil berusaha untuk duduk. Aku langsung berjalan mendekatinya, dan menahan aksinya itu. Kupegang dadanya dan kutahan agar dia tidak memaksakan duduk untukku.

“Tidak usah. Kalau memang tidak bisa, jangan dipaksakan.” Ucapku tenang. Stev menurut. Dia kembali berbaring.

“Ada apa kamu kesini?!” ucapnya sambil menatap mataku seolah mencari jawabannya di antara mataku itu. “Apa pedulimu?”

Aku tersenyum. Lucu. Baru pertama kali aku ditanyai seperti itu saat menjenguk teman. Padahal dia sakit, tentu aku datang untuk melihat keadaannya. Aneh. “Haha. Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Stev. Kenapa tadi tidak sekolah?!” Aku berusaha bersikap tenang kepadanya. Aku tahu harus seperti apa jika berbicara dengan orang seperti Stev ini. “Aku peduli sama kamu, Stev. Kita kan teman!” Aku menekankan kalimat terakhirku itu kepadanya. Berusaha untuk membuat dia yakin dengan apa yang kukatakan barusan. Aku mengatakan hal itu sembari duduk di ranjangnya, tepat disampingnya yang berbaring lemah.

“Aku sakit. Makanya tidak sekolah.” Balasnya sangat datar. “Jadi, kamu mengikutiku kemarin, juga karena kamu peduli padaku?” sambungnya. Dia mengatakannya dengan lirih. Namun terdengar mantap.

Glek. Stev mengetahui polah tingkahku kemarin. Jadi dia tahu, kalau aku mengikutinya? Apa karena itu, dia semakin mempercepat langkahnya? Apa Stev akan memarahiku? Apa Stev akan menjauhiku? Apa Stev akan membenciku? Oh Tuhan, entah kenapa aku tidak menginginkan kalau hal itu terjadi. Aku tidak ingin Stev pergi dariku! Aku tidak menginginkan itu, Tuhan! Tidak!

“Ma…maafkan aku. Aku… penasaran dengan sikapmu seharian kemarin. Kamu terlihat sangat murung… Maafkan aku, Stev.” Aku berbicara dengan terbata-bata. Aku tidak kuat mendengar dengan tanggapan yang akan diberikannya. Stev pasti akan memarahiku. Pasti dia akan menilaiku sebagai cewe ganjen yang mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia pasti akan menganggapku sebagai cewe yang selalu ingin tahu masalah orang lain. Agghh… Tuhan, jauhkanlah segala kemungkinan buruk itu! Kumohon!

Stev mengambil posisi duduk. Tidak seperti sebelumnya, aku tidak menahan aksinya itu. Kubiarkan saja anak itu duduk dan menatapku. Stev tertawa. Hei, ada apa ini? Apa aku terlihat lucu? “Untuk apa kamu mengikutiku? Haha. Apa aku ini terlalu menarik perhatianmu?” Tawa Stev kali ini sangat berbeda dengan Stev yang kukenal selama ini. Sekalipun aku tidak pernah melihat Stev tertawa. Tidak sama sekali. “Terima kasih, sudah membuatku tertawa untuk pertama kalinya. Kamu benar-benar lucu!” lanjut Stev masih dengan tertawa kecil.

“Ma…maafkan aku, Stev. Aku harap kamu tidak marah padaku… Kamu terlalu aneh seharian kemarin… Jadi,… membuat aku penasaran dengan apa yang terjadi padamu…” ucapku sambil menundukkan kepala. “Lucu? Kenapa aku dibilang lucu?!” Aku dibuatnya salah tingkah dengan ucapannya itu. “Kamu tidak pernah tertawa?” sambungku menyelidikinya. Ya, Stev memancingku untuk bertanya lebih lanjut. Dan aku tidak mungkin menyia-nyiakannya. Aku harus tahu, ada apa dibalik kehidupan Stev yang benar-benar misterius ini.

“Aku nggak marah kok. Untuk apa aku marah padamu? Bukannya kita berteman?” Stev tersenyum nakal kepadaku. Huaa… senyumnya benar-benar menggoda. Dia terlihat sangat manis dengan senyuman itu! Apa yang kupikirkan? “Ya, kamu benar-benar lucu, Vi! Kamu sangat lucu! Kalau kamu ingin tahu kenapa aku kemarin, kenapa kemarin tidak bertanya langsung saja padaku? Lebih mudah, ‘kan?” Tidak kusangka, ternyata Stev yang selama ini kukenal adalah anak yang sangat periang. Terbukti, dia tidak marah setelah mengetahui kalau aku membuntutinya kemarin. Dan tawanya kali ini, semakin menunjukkan sikapnya yang tersembunyi itu. “Tidak, selama di Jakarta ini, aku tidak pernah tertawa. Asal kamu tahu, aku pindah dari Banjarmasin kesini, dikarenakan suatu masalah besar pada keluargaku disana. Orang tuaku… mereka… bercerai. Dan mereka berdua tidak ada yang mau memiliki hak asuh atasku. Jadi, aku dikirim kesini, tempat dimana pamanku tinggal… Semuanya ini membuat aku stress!” Ekspresi bahagia dari mimik mukanya seketika menghilang. Digantikan dengan raut wajah sedih dan sebuah tundukan yang mematahkan opiniku terhadapnya tadi, yang mengatakan kalau dia anak periang.

Jadi, ini yang membuat Stev tidak pernah bisa bergaul dengan teman-teman di sekolah? Faktor keluarganya yang hancur itu membuat dia tidak bisa untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Aku mengerti keadaannya. Kuangkat tanganku dan kubelai lembut rambut pendeknya. “Maafkan aku, Stev. Aku tidak tahu.” Beberapa jenak, suasana terasa kosong. Tak ada yang memulai pembicaraan. Sampai pada akhirnya sebuah pertanyaan yang mengganjal pikiranku sejak kemarin, terlontar begitu saja dari mulutku. “Lalu, apa semua hal itu ada hubungannya dengan kejadian kemarin?”

Stev terdiam sebentar. Lalu mulai mengangkat suara. “Ya, aku baru tahu, kalau ternyata aku memiliki adik. Mama menjualnya di panti asuhan. Saat itu aku masih kecil. Dan aku tidak tahu kalau aku punya adik. Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu saat mendengar percakapan mama dengan paman di telepon. Mama meminta paman untuk menebus Cikka, adikku itu, di panti. Dan sekarang, paman sedang mengusahakan uangnya. Kemarin itu aku ke panti untuk bertemu dengan Cikka. Aku benar-benar senang, Vi!” tampak mata Stev berkaca-kaca karena menceritakan hal itu. Sungguh, suatu kehidupan yang tragis.

“Stev…” panggilku dengan suara lumayan keras. Membuat si pemilik nama mengangkat kepalanya dan menatap aku. “Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukmu. Yakinlah, Tuhan sangat menyayangimu, teman! Lihat, kamu akhirnya tahu ‘kan, kalau ternyata kamu masih memiliki saudara disini? Itu karena Tuhan sayang padamu, Stev. Jalani saja dengan senyuman! Banyak kok yang peduli padamu. Aku yakin itu!” Aku tersenyum. berusaha kembali membangkitkan semangatnya. Dan ternyata aku berhasil. Wajah murung Stev berganti dengan senyuman.

“Ya, aku tahu itu. Walaupun terasa sangat berat, tapi aku pasti berusaha untuk menjalani semua ini. Thank’s, Vi.” Ucapnya.

“Iya, kita ‘kan teman. Teman selalu bisa saling mengerti keadaan temannya. Betul?” Aku memasang wajah jahil.

“Kamu teman terbaikku, Vi!” Stev memelukku. Kubalas pelukannya. Stev tampak sangat senang setelah aku mendengar seluruh unek-unek di hatinya.

***

Hari ini Stev kembali bersekolah. Dia sudah agak berubah. Stev sudah bisa tersenyum dan mulai bergaul dengan teman-teman. Pulang sekolah, kami berdua pergi ke panti asuhan melihat keadaan Cikka. Tampak Stev benar-benar senang bertemu dan bermain dengan adiknya itu.

Ternyata, itu yang ada di kehidupan Stev. Aku puas sudah bisa mengetahuinya. Aku senang dia bisa menjadi teman dekatku.

Stev, jalani hidupmu selalu dengan senyuman, ya?!

 

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: