Dia Series, Aku Bukan Pembunuh! Chapter 2

Tinggalkan komentar

Maret 12, 2011 oleh kikisenyo

Dia Series, Aku Bukan Pembunuh! Chapter 2

“Di, tolongin aku menyelesaikan masalah ini, ya?! Aku mohon!” nada suaraku benar-benar lirih. Aku menunduk. Memikirkan apa salah yang telah kuperbuat sehingga membuat tuduhan pembunuhan ini mengarah kepadaku.

Dia duduk di sampingku. Menatapku iba. Sepertinya pacar dunia lain ku itu juga merasakan apa yang kurasakan. Sakit. Tertekan. Sedih.

“Iya, aku pasti akan membantumu, Vin! Aku janji! Tapi, kamu tahu, aku tidak bisa bersamamu lebih dari sebulan. Dan kalau masalah seperti ini berlanjut hingga akhir Maret, maaf, kamu harus berusaha menyelesaikannya tanpaku.” Dia memelukku. Memberikanku kekuatan untuk menghadapi masalah ini.

“Huft…” dengus nafas berat keluar dari mulutku. Mencoba untuk mengurangi beban di hati dengan cara seperti ini memang ampuh. Walaupun beban itu akan kembali lagi.

“Sebelum Rio menganggapmu anak pengecut, sebaiknya balas secepatnya SMSnya itu. Ayo!” Dia melepaskan pelukannya. Dan menatapku seakan memberiku kekuatan saat mengucapkan kalimatnya tadi.

Aku menurut. Apa yang diucapkan Dia memang ada benarnya. Rio sangatlah licik. Ia pasti selalu berusaha membuatku untuk terpuruk. Bagaimanapun caranya. Sehingga, aku memang harus membalas pesan singkat itu secepatnya. “I…iya Di!”

Kuambil HP yang tadi langsung kulempar ke bantal setelah membaca SMS itu. Dan membuat handphone itu terpental jatuh ke lantai. Dan setelahnya, langsung kubuka inbox dari Rio tadi, dan me-reply-nya.

From : Alvin

To : Rio

Maksud lo apaan sih Yo? Apa salah gue?! Kenapa jadi gue yang lo tuduh sebagai penyebab meninggalnya Pak Joe?! Sedangkan waktu kejadian itu, gue nggak ada di sekolah. Nggak ada hubungannya tahu! Jangan libatkan gue dalam masalah ini! Cukup deh elo fitnah gue kayak ini!

Langsung kukirim setelah selesai mengetik pesan yang lumayan panjang itu. Beberapa saat aku hanya terdiam menatap screen handphone. Begitu juga dengan Dia. Mengharapkan sebuah pesan balasan dari anak sialan itu. Dan penantian kami berujung dengan sebuah rasa penasaran yang amat besar saat sebuah tulisan muncul di screen HP-ku. New Message From Rio.

Kubuka dengan segera SMS balasan itu. Dan setelah membacanya, kekesalanku berada di puncaknya. Begitu juga dengan Dia. Dia benar-benar marah. Sampai membuat kasur yang sama-sama kami duduki terasa panas.

From : Rio

To : Alvin

Semuanya ada hubungannya sama elo, bego’! Kemarin Ray mati karena elo. Dan pastinya elo ingin melanjutkan aksi itu! Gue tahu semuanya, Vin! Nggak usah ngelak lagi deh. Gue udah ngelaporin elo ke polisi. Gue juga udah ceritain semua kronologis dan memberikan banyak bukti ke polisi itu. Sebentar lagi mereka pasti bakalan datang ke rumah elo untuk penangkapan. Bersiap-siaplah! Hahaha.

“Keparat tuh bocah! Maunya apa sih?! Sampai kayak gitu banget ke elo, Vin?!” emosi Dia benar-benar sudah tampak. Wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar kesal dan geram. Aku pun takut kalau sudah berhadapan dengan Dia yang sedang dilanda emosi seperti ini.

“Aku nggak tahu kenapa, Di. Aku nggak pernah tahu kenapa. Argh!” aku berbicara dengan nada suara yang agak keras. Saking emosinya, kutinju dinding yang ada di sampingku dengan keras. Tapi, tak kurasakan sedikit pun sakit. Aku juga dilanda emosi yang sama besar seperti yang melanda Dia. “Trus, kita harus gimana, Di?! Aku nggak mau ditangkap polisi. Aku nggak mau masuk penjara! Aku nggak mau, Di!” Aku menggoyang tubuhnya dan Dia hanya diam. Mungkin tak tahu harus mengatakan apa.

“Sekarang, tenangin dulu diri lo, Vin. Elo nggak bakalan masuk penjara. Masalah ini pasti bakalan selesai. Yang nggak akan pernah selesai hanya cinta di antara kita. Jadi, sebaiknya kita memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk berbagi kasih. Jangan pikirkan masalah itu. Dunia ini milik kita, Vin!” ucap Dia menatapku dalam. Dia memberiku sebuah senyuman manis. Membuat Dia terlihat sangat cantik. Dia memelukku. Terasa hangat. Penuh kasih.

Thank’s Di…” ucapku pelan saat membalas pelukannya.

“Iya Vin…”

***

Aku sudah berada di kantor polisi saat ini. Ditemani Dia yang tidak tampak oleh siapapun. Sekarang, kami berdua masih terpaku di gerbang depan kantor bernuansa coklat ini. Belum berniat untuk menelisik lebih dalam. Ya, Rio memintaku untuk datang kesini jika ingin masalah ini cepat diselesaikan. Dan Dia menyarankan agar aku menuruti permintaan anak licik itu. Perasaanku tenang. Tak secemas yang tadi. Hmm, siapa lagi yang membuat perasaanku tenang seperti ini kalau bukan pacarku itu.

“Kamu akan baik-baik saja. Polisi tidak akan menangkapmu tanpa alasan. Kamu tidak melakukannya, berarti tidak akan ada saksi dan bukti kalau kamu yang melakukannya. Dan lagi, sepertinya Pak Joe, wali kelasmu itu jatuh akibat kecelakaan. Jadi, nggak usah takut, Vin! Aku selalu disini, disampingmu.”

“Kamu benar, Di. Untuk apa aku harus takut kalau aku memang tidak melakukan apapun?” Akhirnya senyumku mekar lagi. Dia selalu mengerti tentang kegalauanku. SELALU.

Setelah menghela nafas berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa aku akan baik-baik saja, dengan mantap, langsung aku berjalan untuk bertemu dengan Rio. Untuk menyelesaikan masalah pemfitnahan ini.

Baru beberapa langkah aku berjalan, dari kejauhan, kulihat Rio keluar dari sebuah ruangan dan langsung duduk di depan bangku yang terletak di depan ruangan itu. Dia sepertinya sedang menunggu kehadiranku. Dan aku harus segera menunjukkan wajahku dihadapannya jika tidak ingin dikatakan anak pengecut.

Dengan geram melihat wajahnya, aku berjalan lebih cepat ke tempat Rio sekarang berada. Dan saat sudah berada di depannya, aku ingin sekali marah. Aku ingin sekali meluapkan semua isi hatiku. Tapi, mulutku terasa terkunci. Aku tidak bisa mengatakan apapun tentang apa yang kurasakan sekarang. Padahal sebenarnya emosiku benar-benar sudah meluap.

“Wah… wah… wah… akhirnya kamu datang juga, Vin. Aku pikir kamu sedang menangis ketakutan di rumah sambil memanggil-manggil ibumu. Hahahaha.” Dia tertawa begitu lepas melihat wajahku yang memerah karena marah dan tersinggung. Aku berada di depannya. Dan di dalam hati, aku ingin sekali meludahinya. Agar dia sedikit sadar kalau dia sudah keterlaluan. Tapi, AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA!

“Jangan bawa-bawa nama ibu! Ini urusan kita!” Aku menunjuk dagunya. Intonasiku benar-benar mengancam. Membuat mulut Rio sepertinya langsung terkunci karena ucapanku tadi. Tapi, ternyata tidak semudah itu menghentikan ocehannya.

“Oke, oke, oke! Kamu benar! Oh ya, bagaimana rasanya sudah membunuh dua orang yang dekat denganmu dalam dua hari berturut-turut?! Apa kamu senang?! Hahaha. Aku yakin pasti kamu tertawa di dalam hati karena puas akan perbuatanmu ini. Ya, ‘kan?” Rio kembali terpingkal-pingkal.

“Kamu bisa menjadi yang selanjutnya kalau kamu masih melanjutkan ucapanmu itu!” aku sedikit mengeraskan volume suaraku. Aku tidak berpikir matang dengan apa yang baru saja kuucapkan. Aku pun terkaget saat sudah menyadari ucapan itu.

“Ampun Vin! Aku masih mau hidup! Dan aku hanya ingin mati kalau aku sudah melihat kamu menderita di bui sana! Hahahaha. Dan setelah aku puas melihat diri kamu yang hancur!”

“Argh. Sialan!” Kukepal tanganku dan langsung kulayangkan kepada Rio. Namun tanganku ditahan seseorang sehingga tak terjadi pemukulan disitu.

“Sebaiknya Anda tidak mencari perkara di sini, Nak.” Ucap seseorang dengan suara beratnya. Genggaman tangannya yang kuat serta suaranya yang berat itu sontak membuatku kaget. Membuatku menolehkan kepala ke belakang dan tampaklah sosok seorang bapak berpakaian serba coklat dengan janggut dan kumis yang lumayan lebat di sekitar dagu dan bagian bawah hidungnya. Dia memberiku senyuman. Dan melanjutkan ucapannya. “Ada apa ini? Tidak baik bertengkar. Apalagi ini adalah kantor polisi. Kalian bisa langsung di proses karena mengganggu kenyamanan.” Genggamannya terhadap tanganku sedikit demi sedikit semakin mengendor. Membuat aku menurunkan kembali kepalan tangan itu.

“Ma…maaf.” Ucapku lirih dan menundukkan kepala. “Hanya ada sedikit kesalah pahaman.” Lanjutku.

“Sebaiknya dibicarakan secara dewasa. Bukannya seperti ini.” Ucap Pak Polisi yang kuketahui namanya adalah Kompol Pramudya Laksono dari papan namanya.

“I…iya Pak. Maafkan kami.” Ucapku lagi. Sedikit kulirik Rio yang masih duduk di atas bangku berderet itu hanya cecengesan. Tertawa kecil melihat tingkahku yang “sedikit” takut dengan polisi berpangkat Komisaris Polisi tersebut.

“Sekarang, ayo maafan!” ucapnya lagi. Dia mengambil tanganku. Dan juga tangan Rio. Dihubungkannya tangan kami berdua dan disuruh untuk saling tersenyum. Dan setelah itu, dia pergi meninggalkan kami berdua. Namun, dia berhenti dari langkahnya dan kembali melihat kami di belakang. “Kamu, anaknya Bu Ira, ‘kan?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia menanyai ibuku. Untuk apa? Entahlah. Belum sempat aku bertanya maksudnya bertanya tentang itu, dia sudah melanjutkan kembali langkahnya.

“Wajahmu lucu sekali, Vin! Benar-benar ketakutan!” Rio kembali tertawa. Dia benar-benar senang melihat aku seperti itu. Argh!

Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya memalingkan wajah darinya. Setelah agak lama hanya diam, akupun dengan sedikit kesal bertanya kepadanya, “Untuk apa kamu menyuruhku kesini?! Kalau nggak ada urusan yang berarti, sebaiknya aku pulang.”

Rio mendelik. “Jangan terburu-buru. Shilla dan Dea masih menjadi saksi di dalam. tunggu mereka berdua keluar, giliran kamu untuk ditanyai masalah kematian Pak Joe yang banyak disebut anak-anak kalau kamu-lah pelakunya.”

Aku sedikit kaget mendengar pernyataannya itu. “Kenapa aku yang dituduh jadi pelaku? Sedangkan aku tidak ada di sekolah saat terjadinya kecelakaan itu. Aku juga tidak tahu penyebab Pak Joe bisa jatuh dari tangga. Pasti ini semua hanya kebetulan, Yo!”

“Nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Elo harusnya tahu itu, Alvin!” Rio bangkit dari duduknya. Lalu dia berjalan mendekatiku.

“Tapi…” ucapanku terhenti saat telunjuknya diletakkannya di mulutku.

“Jangan dilanjutkan. Sebaiknya kamu simpan dulu semuanya untuk nanti kamu sampaikan di dalam. Oke?”

Aku tidak bisa membalas ucapannya itu. Aku memang harus diam. Tidak boleh banyak bicara. Tidak berapa lama setelah Rio memotong ucapanku itu, Shilla dan Dea yang tadi dibilang Rio sedang dijadikan saksi atas kejadian meninggalnya Pak Joe sudah keluar dari dalam ruang interogasi.

“Wah, pacarku dan Shilla sudah selesai ditanyai! Sekarang giliran kamu, Alvin!”Rio melantangkan suaranya. Mungkin bermaksud untuk memanggil polisi secara tidak langsung yang ada di dalam ruang interogasi. Argh!

Aku menatap Shilla dan Dea terlebih dahulu. Dia tidak memberikanku senyuman seperti biasanya. Wajah mereka berdua sangat kusut. Bahkan mereka tidak mau menatapku. “Tunggu apa lagi kamu, Alvin? Sebaiknya kamu cepat masuk sebelum polisi-polisi itu pulang. Ini sudah sore!” ucap Shilla yang terdengar agak tiba-tiba.

“I…iya.” Balasku pendek dan langsung berjalan perlahan.

“Perlu aku temani?” ucap Rio terdengar licik. Aku menggeleng. Menolak tawarannya.

Langkahku pun langsung kupercepat. Dan setelah berdoa kepada Tuhan, kumantapkan untuk masuk ruang ointerogasi yang sudah diisi oleh dua orang polisi yang berbadan cukup tegap dan duduk di atas sofa berwarna coklat.

“Silahkan duduk. Kamu yang bernama Alvin?!” tanya seorang polisi yang berbadan sedikit gemuk. Aku mengangguk dan langsung mengambil posisi duduk.

Dua orang polisi yang kuketahui namanya Kompol Ari Bustomi dan Kompol Indra Septiawan itu menjabat tanganku tanda sebuah keprofesionalitasan. Mereka tersenyum. Dan aku pun membalasnya dengan sebuah senyuman juga. Walaupun mungkin kelihatan sedikit terpaksa.

“Nggak usah gugup, Vin. Ini akan baik-baik saja.” Sebuah bisikan terdengar di telingaku. Ternyata Dia masih bersamaku. Kupikir sudah pergi meninggalkan kantor polisi ini saat aku berjalan memasuki gerbangnya. “Jawab seperlunya saja. Jangan perlihatkan wajah takutmu. Nanti mereka akan semakin menanyai kamu yang aneh-aneh. Kalau ingin yang mudah, enjoy aja!”

Aku tak menanggapi ucapan pacarku itu. Namun aku mendengar semuanya. Aku mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku tahu kalau Dia pasti akan selalu bersamaku.

“Kamu siap untuk kami tanya seputar kasus meninggalnya Joe Brata Ayuda, wali kelas 7SBI di Leader School Of Jakarta?” tanya polisi yang satunya lagi yang berambut cepak yang mungkin bisa kupanggil Pak Ari kalau dilihat dari namanya. Aku hanya mengangguk. Tidak mungkin aku menolak untuk ditanyai. “Kamu ditunjuk menjadi saksi oleh temanmu yang bernama Rio tadi.” Sambung Pak Ari seakan tahu isi pikiranku.

“Lihat ‘kan, semua akan baik-baik saja? Rio tidak sejahat yang kita kira. Dia tidak menjadikanmu sebagai pelaku, namun hanya sebagai saksi. Posisi kamu tidak separah yang sama-sama kita kira!” Dia kembali memberikan opininya kepadaku dengan cara berbisik. Ya, walaupun dia berteriak sekeras apapun juga tidak akan didengar oleh polisi-polisi ini, tapi dengan berbisik memang bisa membuat aku sedikit tenang.

Aku mulai diajukan berbagai pertanyaan. Mulai dari siapa aku, sangkut paut aku dalam kasus ini, sampai hal-hal lain yang tidak kuketahui apa jawabannya. Dan sesi tanya jawab seperti ini berlangsung selama lebih dari satu jam. Lumayan melelahkan. Untung ada Dia yang selalu mendukungku dan tidak diketahui keberadaannya oleh dua orang polisi dihadapanku ini.

Akhirnya aku diperbolehkan pulang. Aku cukup lega karena Pak Ari dan Pak Indra tidak menunjukku sebagai pelaku pembunuhan. Karena setelah polisi-polisi yang lain menyelidiki kasus matinya Pak Joe di sekolah, didapatkan hasil kalau itu murni kecelakaan. Tidak ada yang bersalah dalam kejadian ini. Aku pun bisa menarik nafas dengan mudah lagi. Tidak seperti sebelumnya yang terasa amat susah karena beban yang kutanggung terasa amat berat. Thank’s God! You are so good! :’)

***

Aku sudah kembali ke rumah. Langsung kuhempaskan tubuh di atas kasur dengan alas berwarna hijau. Senyum masih merekah di bibirku. Benar-benar senang mendapat berita kalau semua ini hanyalah sebuah kecelakaan. Bisa kubuktikan pada Rio kalau aku masih punya moral. Masih tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

“Senangnya…” gumamku sambil memandang langit-langit kamar.

“Aku juga ikut senang, Vin!” Dia tiba-tiba saja muncul di sampingku. Ikut berbaring dan menyunggingkan sebuah senyuman dari bibir tipisnya.

Thank’s Di, kamu udah nemanin aku seharian ini. Hmm… Sebenarnya ini adalah hari yang amat berat buatku. Tapi, karena bersamamu, semuanya serasa hilang!” aku tidur dalam keadaan menyamping. Menatap Dia yang juga berbaring menyamping. Kupeluk pinggangnya. Kami berdua sama-sama tersenyum. “Aku benar-benar sayang kamu, Di!”

“Ya, sama-sama… Aku melakukan ini semua karena aku juga sayang sama kamu Vin. Nggak tahu deh apa jadinya kalau misalnya aku nggak ada disini. Haha.”

Kami berdua tertawa bersama mendengar ucapan Dia yang barusan. Memang tidak terlalu lucu. Tapi, ada sebuah perasaan menggelitik dari ucapan itu yang bisa membuat kami tertawa. Entah apa namanya. Tapi, hidup memang indah kalau ditemani orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.

Lagi, sebuah SMS mengganggu acara tawaku dan Dia. Dan lagi-lagi, SMS itu berasal dari Rio. Apa lagi ini? Kuambil posisi duduk dan membelakangi Dia sambil memegang HP dengan screen bertuliskan “New Message From Rio

Kubuka inbox itu dan setelahnya sebuah pertanyaan besar menyeruak dipikiranku. KENAPA?

From : Rio

To : Alvin

Seharusnya tadi aku memberitahu juga ke polisi-polisi itu kalau kamu punya teman dari alam lain yang memungkinkan terjadinya peristiwa ini! Hanya saja, aku lupa! SIAL!

“Darimana Rio mengetahui keberadaan Dia? Kenapa dia bisa tahu tentang hal ini?” pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari benakku. Dari isi pesannya, bisa dilihat kalau Rio mengetahui keberadaan Dia. Tapi, darimana? Mungkin sebaiknya aku tanyakan langsung ke Dia. Tapi saat aku membalikkan tubuh dan mengarahkan pandangan ke tempat dimana Dia berbaring tadi, pacarku itu sudah tidak ada. Kemana Dia?! Apa yang sebenarnya yang terjadi? Kenapa Rio mengetahui keberadaan Dia, dan Dia seakan menghindar dari pertanyaanku tentang hal ini. “Di… Kamu dimana?” Kusapukan pandangan ke sekeliling kamar. Tapi Dia tak kunjung menampakkan dirinya. “Dia… Apa yang terjadi?!” Aku bertanya dan berteriak sendiri di kamarku yang lumayan besar itu.

Disaat aku berteriak-teriak memanggil Dia yang menghilang begitu saja, pintuku diketok dari luar. Kudengar namaku disebut-sebut. Aku tahu siapa itu. Orang yang mengetok pintuku ini pasti Bi Resti, salah satu pelayanku. “Alvin, ada apa Nak?! Kamu kenapa?! Buka pintunya Sayang…” Ya, Bi Resti sudah kuanggap sebagai ibu keduaku yang selalu ada untukku. Dan Bi Resti juga sudah menganggapku sebagai anaknya. Dia selalu menjagaku. Mengkontrol waktu makanku. Dan dia juga pasti akan selalu bertanya kemana aku pergi jika terlalu lama pulang dari sekolah.

Aku sedikit panik. Tidak tahu harus bersikap seperti apa. Disaat aku masih berpikir apa yang harus kulakukan, Bi Resti masih terus memanggilku. Tampak jelas kalau diluar sana Bi Resti sangat mencemaskanku. Mungkin dia berpikir aku demam tinggi sehingga mengigau sebegitu kerasnya.

Lama Bi Resti terus mengetok pintu dari luar, kuputuskan saja untuk membuka pintu dan menemuinya. Kubuka pintu dan tampak wajah tua Bi Resti sangat cemas. Dia juga kelihatan sangat panik. Diusapnya pipiku. Dibelainya rambutku. Dipegangnya tanganku. “Kamu kenapa, Nak?!” tanyanya menatapku cemas.

Aku tertawa kecil. Lalu tersenyum. Kupegang tangan lusuhnya yang sudah terasa keriput itu. Kuyakinkan padanya kalau aku ini baik-baik saja. “Tidak apa-apa kok Bi. Bibi nggak usah cemas.” Ucapku tenang. Berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi yang mencurigakan atau terlihat aneh di depannya.

“Tapi tadi Bibi ngedengar kamu teriak-teriak. Makanya cepat-cepat Bibi kesini untuk lihat kamu. Benar nih, kamu baik-baik aja?!” Bi Resti benar-benar peduli kepadaku. Aku mengangguk. Dipeluknya aku dengan hangat. Penuh kasih. Aku berharap ibu atau ayah yang memberikan pelukan seperti ini. Bukan orang lain seperti Bi Resti. Ya, walaupun aku sudah menganggap Bi Resti sebagai ibuku juga. Kubalas pelukan itu. Aku tidak ingin pelukan sehangat ini dilepaskan. TIDAK! “Jangan buat Bibi cemas lagi ya Vin…” ucapnya pelan.

“Iya, Bi. Janji deh. Maaf ya!” Kulepaskan sebentar pelukan itu untuk menatap matanya. Untuk memberikan jawaban yang meyakinkan kalau aku benar-benar berjanji untuk tidak membuatnya cemas lagi. Setelah itu, kembali kupeluk ibu kedua-ku ini.

Benar-benar tampak kalau Bi Resti sangat mencemaskan aku. Maaf Bi. Bibi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikiran aku benar-benar kacau Bi. Terimakasih pelukannya.

Setelah pelukan itu lepas dan Bi Resti kembali ke dapur memasak makanan, aku kembali ke dalam kamar. memanggil-manggil Dia namun dengan volume yang kukecilkan. Tapi, berkali-kali nama “DIA” kusebut, tak kunjung si pemilik nama menampakkan sosoknya kepadaku.

“Kenapa Rio bisa tahu keberadaan Dia?! Apa Dea memberitahu semuanya?! Nggak mungkin Dea ngebocorin rahasia ini. Dea kan bisa dipercaya. Tapi, masa’ dia berubah?! Ya Tuhan, apa lagi ini?!”

***

Lagi, pagi hari yang baru. Sekarang adalah hari Minggu. Berarti saatnya untuk aku beristirahat dan menenangkan seluruh tubuh yang sudah dilanda stress seminggu ini. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi ini aku tidak menjumpai sosok Dia, pacar dunia lain yang sangat kucintai. Sosok yang selalu menyemangatiku, memberikanku senyuman, dan menghiburku disaat sedih, menghilang pagi hari ini. Kemana dia? Hari terasa begitu berbeda saat ini.

Setelah selesai mandi dan berpakaian lengkap, aku langsung keluar kamar untuk sarapan pagi. Para pelayan yang dipekerjakan ibu di rumah ini yang jumlahnya lima belas orang sudah menungguku di meja makan. Bukan seperti di film-film kerajaan yang para pelayannya hanya berdiri melayani si tuan rumah yang dengan lahap makan sendirian dengan begitu banyak makanan dan hidangan yang enak, di rumah ini, kami semua sama. Ya, karena aku adalah si tuan rumah, yang berkuasa di saat ibu dan ayah tidak ada, jadi aku berhak menentukan peraturannya. Aku tidak mau mereka hanya melihatku disaat aku melahap makanan dengan santainya. Aku merasa segan untuk melakukan hal itu. Jadi, kubuat sebuah peraturan agar aku dan pelayan-pelayanku itu makan bersama di pagi hari. Awalnya mereka memang segan dan merasa tidak enak. Tapi, aku memaksanya, sehingga, seperti inilah yang kulihat setiap pagi. Lima belas orang pelayanku sudah menunggu di meja makan dan memberikanku senyuman.

“Selamat pagi, Tuan Muda…” ucap mereka semua serentak.

Aku membalasnya dengan senyuman manis. Lalu berjalan dengan mantap menuju kursiku. Dan setelah aku duduk, akhirnya kami makan bersama dengan lahap.

***

Pagi ini aku tidak pergi ke sekolah. Pikiranku masih “sedikit” kacau karena permasalahan di kantor polisi kemarin. Dan juga, aku merasa ada yang tinggal jika tidak melihat Dia pagi ini. Karenanya, dengan beralasan sakit perut setelah makan pagi tadi, aku beristirahat di kamar diantar oleh Bi Resti.

Aku berbaring di atas kasur menatap kosong langit-langit kamarku. Tak ada yang bisa kukerjakan. Tak ada yang bisa kuajak untuk bercengkerama. Dan tak ada yang bisa kuajak untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Dia masih belum menampakkan sosoknya. Dia masih menghilang dan sepertinya menghindar untuk bertemu denganku. Aku yakin, pacarku itu pasti belum siap untuk menceritakan yang sebenarnya tentang alasan mengapa Rio mengetahui kalau aku memilikinya.

Daripada aku bermenung seperti ini, kuambil laptop yang kuletak di atas meja belajar dan menelungkup di atas kasur menatapnya. Kutancapkan flash dan kukoneksikan ke internet. Kutulis di address bar sebuah situs jejaring sosial yang paling terkenal, facebook. Dan setelahnya, langsung aku log in dan saat ini, aku sudah berada di dunia maya.

Entah kenapa, untuk kali ini aku merasa bosan menatap layar laptop yang didominasi warna biru dari jejaring sosial facebook itu. Setelah log out, langsung kututup layar laptop itu dan mengembalikannya ke tempatnya semula, di meja belajar. Lalu aku kembali berbaring di atas kasur sambil berharap Dia kembali menemuiku.

Dan bagaikan pesulap yang baru saja mengucapkan simsalabim abracadabra, tiba-tiba saja, harapanku itu menjadi kenyataan. Dia, pacar dunia lain ku itu sudah berdiri di samping ranjang dan memperhatikanku. Aku baru menyadari kedatangannya yang memiliki sosok hantu itu setelah dia berdehem beberapa kali, yang membuat aku menoleh.

“Di…Dia?! Darimana saja kamu?” Aku bangkit dari baringanku. Aku menatapnya dengan perasaan yang benar-benar senang. Melihat Dia kembali ke hidupku adalah salah satu hal yang aku sukai. Aku yang menunggunya selama beberapa jam ini sama halnya seperti saat aku menunggu datangnya bulan Maret dan September setiap tahunnya, namun dalam waktu yang lebih singkat.

Dia menunduk. Untuk beberapa jenak, dia diam. Saat aku ingin bertanya apa yang terjadi, Dia langsung memotong pembicaraanku sambil sedikit terisak. “Maafkan aku, Alvin! Maaf!”

“Apa yang terjadi?” Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pacarku ini. Tingkahnya saat ini bukanlah seperti Dia yang biasanya kukenal. Biasanya Dia adalah sosok yang kuat, riang, dan “lumayan” pemarah. Tapi, kenapa sekarang dia terisak?

“Maafkan aku, karena tidak pernah menceritakan apapun tentang Rio. Maafkan aku, karena meninggalkan kamu dengan pertanyaan yang sangat besar bersarang di otakmu. Dan maafkan aku, sudah membuatmu kecewa! Maafkan aku, Alvin!” Tangis Dia pecah. Ya, walaupun Dia tidak pernah memiliki air mata, tapi ekspresinya begitu menyiratkan sebuah penyesalan.

“Memangnya ada apa dengan Rio?!” Aku makin tidak mengerti dengan semua ini. Dia benar-benar aneh.

“Oke, aku akan ceritakan semuanya. Tapi aku harap kamu tidak marah.”ucapnya kemudian sambil menatapku dalam. Ekspresi penyesalannya masih tampak jelas di raut wajahnya. Aku mengangguk. Dan Dia mengambil tanganku dan membimbingnya hingga kami berdua duduk di atas kasur. Dia duduk di sebelah kiriku. Dia menerawang. Dan mulai menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Rio.

“…Sebenarnya, aku dan Rio pernah juga berpacaran. Rio itu adalah mantanku… Rio juga pernah merasakan pacaran dua dunia seperti yang kamu rasakan ini. Tapi, disaat dia dicintai oleh orang yang bernama Agni dan aku tidak bisa menahan emosi hingga aku membunuhnya, dengan paksa Rio meminta agar hubungan kami putus saat itu juga. Awalnya aku menolak. Tapi, Rio sudah benar-benar marah kepadaku. Sehingga, putusnya hubungan kami itu tidak bisa lagi untuk dihindari. Sungguh, aku menyesal sudah menghabisi nyawa Agni. Aku sungguh menyesal sudah membuat Rio kecewa. Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan ini terjadi. Tapi, aku benar-benar cemburu karenanya. Agni benar-benar mencintai Rio. Dan Rio juga mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap Agni. Aku benar-benar tidak tahan untuk melakukan hal yang membuat Rio marah besar itu, Vin! Aku benar-benar menyesal!” Suara Dia menggema di kamarku ini. Tangisannya sangatlah keras. Dia benar-benar meluapkan seluruh emosinya. Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Kuusap-usap punggungnya berusaha untuk membuatnya tetap sabar. Dan Dia kembali melanjutkan kalimatnya setelah aku mengatakan satu kata : “lalu?”

“…Dan kini, saat kita berdua menjalin hubungan ini, Rio yang sudah kuberikan kemampuan untuk melihat dunia ghaib atau six sence mengetahuinya. Dia tahu kalau kamu itu pacarku. Dia tahu kalau aku adalah pacarmu. Dia tidak menyukai hubungan kita. Maka dari itu, Rio tidak pernah menyukaimu. Dia tidak ingin jika tetap melihatmu, berarti akan tetap berada didekatku, orang yang sudah membunuh orang yang disukainya. Maafkan aku, Vin, sudah membuatmu ikut di dalam urusanku dan dia. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa! SUNGGUH!”

Oke, ini adalah pertama kalinya aku melihat Dia menangis tersedu-sedu dan penuh penyesalan di hadapanku. Sehingga, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa kepadanya. Aku tidak pernah bisa mengerti seseorang. Aku tidak memiliki adik. Aku tidak memiliki kakak. Dan bahkan aku juga bisa dibilang tidak memiliki orang tua. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk bisa mengerti keadaan seseorang. Pelayan-pelayanku juga tidak pernah mengajarkanku tentang hal itu. Hanya Bi Resti yang pernah memberiku perhatian dan pengertian. Namun aku tidak pernah memberikan hal yang sama kepadanya. Apa yang harus kuperbuat untuk menghibur Dia?! Aku tidak tahu!

Aku hanya bisa terdiam tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku juga tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku masih terus mengusap-usap punggung Dia yang kurasa semakin panas. Entah apa penyebabnya.

“Kamu nggak marah, Vin?!” Dia kembali bersuara. Dia sedikit melirikku yang berada di samping kanannya. Kuberikan dia sebuah seenyuman. Dan menggeleng. Dan setelah itu, baru kutahu harus berlaku apa.

“Untuk apa aku marah?! Bukan hak-ku untuk melarang kalian menjalin hubungan. Dan masalah keterkaitanku dengan hal ini, hmm… mau tidak mau, aku memang harus ikut masuk dalam permainan yang diberikan Rio ini. Kita bisa jadi tim yang hebat untuk melawan anak itu. Kamu pernah bilang kalau aku tidak boleh menangis. Sekarang adalah giliranku untuk mengatakan hal yang sama kepadamu. Hanya pengecut yang menangis. Kau ingat ucapanmu itu ‘kan, Di? Semuanya pasti akan baik-baik saja kalau kamu berpikir ini adalah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan. Benar?! Sekarang, jangan nangis lagi, ya, Sayang?! Kamu jelek tahu kalau kayak ini! Haha. Kamu bukan seperti Dia Oktaviani yang selama ini aku kenal!”

Dia sedikit tertawa kecil mendengar apa yang kuucapkan barusan kepadanya. Dia kembali menatapku. Kuberikan dia sebuah senyuman. Senyumanku itu akhirnya dibalas. Sebuah senyuman manis juga merekah dari bibir Dia yang tipis yang berada tepat dihadapanku. “Terima kasih, Sayang.” Ucapnya sambil mencolek nakal daguku.

“Kewajibanku sebagai pacarmu untuk menenangkan pikiranmu, Di. Sekarang lupakan masalah Rio. Aku tahu cara mengatasinya!” kupasang ekspresi yakin agar Dia sedikiit tenang. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu cara mengatasi anak berkulit sawo matang itu.

Dia kembali tertawa kecil. Dan memberikan sebuah kecupan manis di pipi kiriku, bagian wajahku yang paling dekat dengan bibir tipis beraroma darah-nya.

***

Berita terbaru. Ternyata aku yang kemarin diperiksa di kantor polisi sebagai saksi diketahui oleh beberapa wartawan. Gambar aku di dalam ruang interogasi yang dimiliki Rio dikirimkannya ke media massa. Dan di sebuah tabloid, dapat kulihat aku yang sedang duduk di depan dua orang polisi sedang ditanyai perihal kasus meninggalnya Pak Joe. Di tabloid itu, dengan sangat besar tertulis tajuk “Alvin, Anak Ira Devantina Diperiksa Polisi Perihal Kasus Pembunuhan”.

Karena satu berita itulah, sontak membuat wartawan dari tabloid-tabloid lain meminta keterangan ke rumahku tentang tulisan yang dimuat oleh Rio itu. Baru pagi hari, disaat aku dan seluruh pelayanku sedang menikmati sarapan, suara riuh dari luar begitu jelas terdengar. Beberapa ada yang berani mengetok pintu untuk bertemu denganku. Wartawan – selalu mencari sesuatu yang agaknya harus disembunyikan oleh si artis, orang yang jadi incarannya.

Aku sudah mengetahui tentang kedatangan wartawan-wartawan ini sehari sebelum mereka datang. Kemarin. Dengan ke-indigo-an yang diberikan Dia kepadaku, aku bisa melihat masa depan dan mengetahui apa yang akan terjadi. Sehingga, pada pagi hari itu, aku yang sudah tahu tentang ini bisa sedikit tenang. Aku melarang seluruh pelayanku untuk membukakan pintu. Dan mereka menurut. Kami melanjutkan sarapan dengan khidmat walaupun diluar sana sungguhlah ribut.

“Tuan, ada apa mereka datang kesini? Nyonya mencari sensasi lagi, ‘ya?!” tanya Pak Udin, pelayanku yang mengurusi bagian kebun. Aku hanya menggeleng sambil terus melahap nasi goreng enak buatan Bi Salamah.

“Benar-benar berisik. Apa tidak ada salahnya jika salah satu dari kita untuk menemui mereka, Tuan?!” Sambung Bi Ijah, pelayanku yang mengurusi bagian dapur, seperti ketersediaan makanan, kebersihan dapur, dan lain sebagainya. Aku kembali menggeleng sambil mengatakan “tidak usah!”

“Kita bisa mengatakan pada wartawan-wartawan itu kalau Nyonya Ira sedang tidak berada di rumah. Dan mereka pasti akan pergi.” Imbuh pelayanku yang lain, Bi Surti. Aku masih saja menggeleng dan meneguk habis susuku.

“Tidak usah. Yang dicari para wartawan itu bukan Ibu. Tapi, aku!” ucapku santai dan menatap satu per satu pelayanku itu.

“Tuan membuat masalah apa?! Kenapa bisa jadi seperti ini?!” Bi Resti langsung menanggapi ucapanku. Dia takut terjadi apa-apa dengan aku, yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

“Bukan masalah besar. Biarkan saja mereka tetap disitu. Palingan nanti kalau sudah cape’ mereka akan pergi juga. Dan mungkin mereka akan berpikir kalau aku sudah pergi sejak pagi tadi ke sekolah. Dan kalian aku larang untuk membukakan pintu bagi wartawan. Mudah, ‘kan?!” ucapku santai sambil berjalan ke tangga yang menuju kamarku di lantai dua. “Aku tidak mau pergi ke sekolah hari ini. Dengan banyaknya wartawan, aku pasti akan terganggu. Dan itu berarti sama saja menghabiskan waktuku bersama mereka, yang pastinya akan mengorek habis apapun yang pastinya akan membuat aku semakin terpuruk. Aku balik ke kamar ya…” Kulambaikan tangan  dan langsung berlalu ke kamar.

Agaknya langkahku diikuti oleh Bi Resti. Dia terlihat sangat cemas dengan adanya banyak wartawan di depan sana. Dia sepertinya ingin mengetahui apa yang terjadi kepadaku. Dia takut amanah yang diberikan Ibu kepadanya gagal dilaksanakannya. Dia tidak ingin membuat Ibu kecewa. Sangat tidak menginginkannya. “Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?!” tanya Bi Resti terlihat benar-benar penasaran.

Aku terus melanjutkan langkah menuju kamar diikuti oleh Bi Resti. Dan saat aku sudah duduk di atas kasur, tepat disamping tabloid yang diantarkan loper koran pagi ini tergeletak, dan Bi Resti masih mengikutiku sampai didalam ini, tanpa banyak berbicara lagi, langsung kubuka besar-besar tabloid itu tepat dihalaman beritaku dimuat. “Bibi baca aja yang ini.” Ucapku sambil menunjuk sebuah kolom di bagian kiri bawah.

Kuberikan tabloid itu dan Bi Resti menerimanya dengan pertanyaan besar di otaknya. Aku yakin, pasti dia tidak mengerti dengan maksudku. Tapi setelah dia membaca berita yang disajikan di kolom itu sampai selesai, tampaklah wajah kaget tergambar di mukanya.  “Yang disini, benar adanya Nak?!” tanyanya dengan renta. Aku tidak menjawab. Berita yang mengatakan kalau aku ada di kantor polisi memang benar. Tapi, berita yang mengatakan kalau aku membunuh Pak Joe sangatlah salah. Aku bukan pembunuh! Bukan!

“Si penulis berita tidak mengetahui apapun tentang hal yang sebenarnya terjadi, Bi. Aku hanya dijadikan saksi atas meninggalnya wali kelasku, Pak Joe. Dan setelah diselidiki, kematian Pak Joe yang jatuh dari tangga itu murni kecelakaan. Tidak ada pihak lain yang berperan. Seharusnya si penulis berita itu mengkonfirmasinya terlebih dahulu kepadaku. Bukan asal membuat berita!” balasku panjang lebar yang didengar dengan baik oleh Bi Resti.

“Mungkin sebaiknya kamu mengatakan apa yang baru saja kamu ucapkan itu kepada para wartawan yang ada diluar sana. Daripada nanti mereka juga membuat berita seperti yang ada di tabloid ini. Membuat berita yang tidak benar, yang tidak pernah kamu konfirmasi kebenarannya. Ayo, keluar, dan katakan pada mereka sebelum semuanya terlambat!”

Aku ingin sekali menjawab ucapan orang yang sudah kuanggap sebagai ibuku itu. Namun saat mulutku akan bergerak mengucapkan apa yang ada di dalam pikiranku saat ini, Bi Resti memotong pembicaraanku dengan nada tegas.

“…Sebaiknya kamu memikirkan apa yang Bibi katakan tadi dengan matang. Dan lakukanlah tindakan yang kamu anggap paling bijak. Ini masalah nama baik.” Ucapnya sembari meletakkan tabloid yang dibacanya tadi di atas kasurku dan berlalu begitu saja meninggalkanku. Ia berjalan mendekati pintu. Langkahnya sempat kuhentikan saat aku bertanya “Haruskah aku melakukan itu?!” Namun dia tidak menjawab. Bi Resti terus melenggang keluar dari kamarku.

Apa yang dikatakan Bi Resti tadi memang benar. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini sejak tadi?! Aku memang harus mengklarifikasi rumor yang beredar. Aku tidak ingin namaku buruk karena fitnah buruk yang disebarkan Rio itu. Aku harus mengklarifikasinya!

Dengan tekad bulat dan kuat, aku melangkah dengan mantap ke pintu kamar. Kubuka pintu yang tadi sengaja ditutup Bi Resti itu dan setelahnya, aku melanjutkan langkah ke bawah. Kulihat beberapa pelayanku ada yang bingung dengan sikap para wartawan yang sepertinya benar-benar menginginkan aku. Namun yang lain tetap bekerja seperti biasanya. Pelayan-pelayanku itu tidak tahu harus melakukan apa. Aku yakin, mereka pasti beranggapan seperti ini : “Sedangkan satpam yang jumlahnya banyak itu aja bisa kalah melawan wartawan yang seperti anjing gila ini. Apalagi kami, yang tidak pernah dihadapkan pada kondisi seperti ini.”

“Tuan… mereka semakin membabi buta!” ucap Pak Udin was-was.

“Tenang saja, Pak. Semua pasti akan baik-baik saja!” balasku sambil berjalan menuju pintu utama. Disana kulihat para wartawan langsung diam memandangku yang bagaikan uang dan berlian di mata mereka. Uang dan berlian yang akan mereka dapatkan jika berhasil mengorek informasi mengenai aku yang dijadikan saksi di kantor polisi kemarin dan sebagai tertuduh pembunuh Pak Joe.

Kubuka pintu itu dan sontak cahaya dari kamera-kamera wartawan itu bersinar-sinar dihadapanku. Mereka memotretku. Mengambil gambar yang pas untuk referensi mereka. Mataku sedikit pedih dibuatnya. tidak berselang lama, ocehan-ocehan para wartawan itu terdengar sangat ramai ditelingaku. Pertanyaan mereka yang begitu banyak dan cepat membuat aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya terdiam. Tidak mampu menjawab pertanyaan mereka. Apalagi cahaya dari kamera-kamera yang memotretku itu seakan semakin banyak dan membuat mataku semakin pedih.

Untuk menghentikan semua ini, aku berteriak dengan keras. “DIAM…!!!!” Dan seketika, riuhnya pertanyaan dari para pencari berita itu dan sinar-sinar menyilaukan dari para cameraman itu berhenti. Mereka melongo melihatku. Mungkin wajahku terlihat begitu marah. Namun, aku berhasil menguasai diri. Aku tahu apa yang selanjutnya harus kulakukan. Kuhirup nafas sekali dan langsung kujelaskan semuanya.

***

Pada hari itu juga, seluruh infotainment gossip di televisi hanya menayangkan berita tentang aku yang mereka katakan sebagai seorang pembunuh. Sial! Mereka tidak mengatakan yang sebenarnya seperti yang kukatakan pada mereka tadi! Argh! Ini sudah menjadi pencemaran nama baik nih! Aku nggak bisa terima! Karena aku bukan pembunuh!

B.E.R.S.A.M.B.U.N.G.

Nantikan kelanjutannya di Dia Series, Aku Bukan Pembunuh! Chapter 3!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: