Dia Series, Aku Bukan Pembunuh! Chapter 1

Tinggalkan komentar

Maret 5, 2011 oleh kikisenyo

Cerita ini hanya sebuah karangan. Kesamaan nama,tempat, dan kejadian di cerita ini merupakan sebuah ketidaksengajaan. Mohon dimaklumi, dan terima kasih!

Saran : lebih baik membacanya di malam hari. Agar ada kesan mistik yang kalian rasa! Ckckck. Selamat membaca!🙂

 

Aku Bukan Pembunuh ! Chapter 1,

(Continued Of Dia)

Ayahku adalah salah seorang pengusaha tersukses di Jakarta dalam bidang perhotelan. Ibuku adalah seorang artis sinetron yang juga bisa dibilang sukses dalam kariernya. Karena kesuksesan kedua orangtuaku itu, aku bisa menikmati hidup yang serba berkecukupan. Rumah yang megah. Mobil yang mewah. Kolam berenang di belakang rumahku yang luas. Serta para pelayan yang sedia dua puluh empat jam untuk melayaniku. Namun, semuanya masih terasa kurang saat aku melihat teman-temanku yang orangtua mereka selalu ada di samping mereka. Dan selalu ada disaat mereka butuh. Berbeda denganku. Untuk bertemu dengan orangtua saja, butuh waktu lama agar bisa mendapatkan waktu yang tepat.

Oh ya, perkenalkan, nama aku ALVIN. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak kurang. Mungkin karena terlalu sibuknya orangtuaku, sampai mereka tak ada waktu untuk memberikanku nama panjang. Huft…

Aku bersekolah di Leader School of Jakarta. Sebuah sekolah swasta yang setara dengan SMP dan bertaraf internasional. Sekarang aku berada di kelas 7SBI. Dan memiliki banyak sahabat yang sangat kusayangi. Namun, dari 34 orang siswa di kelas itu, hanya tiga orang yang benar-benar dekat denganku. Mereka adalah Shilla, Dea, dan Ray.

Shilla. Orang pertama di sekolah ini yang berhasil merebut hatiku. Aku menyukainya. Lebih dari rasa suka untuk seorang teman. Namun, karena satu hal, aku tidak mau menjalin hubungan lebih lanjut dengannya.

Dea. Anak itu selalu bisa mendengarkan semua isi hatiku. Dan selalu bisa menjaga rahasia yang kuberitahukan kepadanya. Hanya kepada Dea aku berani untuk curhat. Hanya dia. Aku pernah memberitahunya tentang perasaanku terhadap Shilla. Dan sampai sekarang, sepertinya Shilla tidak pernah tau isi hatiku itu. Dan aku juga pernah memberitahu alasan yang menyebabkan aku tidak mau menjadikan Shilla sebagai pacarku. Dan kelihatannya juga, sampai sekarang tidak ada orang yang tahu mengenai alasan itu. Semuanya karena Dea !

Ray. Cowo berambut gondrong inilah yang selalu pergi bermain bersamaku. Karena satu-satunya cowo yang mau berteman dengan anak seorang artis dan ber-imej sombong ini hanya dia. Hanya dia yang setia ! Haha.

Namun, dibalik itu semua, aku memiliki satu rahasia terbesar di hidupku ini dan juga menjadi alasan aku tidak ingin menjalin hubungan dengan Shilla, sahabat yang kusayangi.

Hmm… rahasia itu adalah tentang hubungan asmaraku dengan seorang gadis remaja yang lebih tua dariku. Aku tidak ingin memberitahu siapapun tentang hubungan ini. Karena, pacarku itu bukanlah manusia. Tetapi, HANTU !

Pacarku itu bernama Dia. Lengkapnya Dia Oktaviani. Aku tahu, kalau Dia dulunya meninggal karena tabrak lari di depan pasar saat dia diminta untuk membeli bahan makanan oleh ibunya.

Hmm… Sulit untuk bisa menjelaskannya. Pasti tidak akan ada yang percaya. Namun, itulah yang terjadi. Aku sudah memiliki pacar. Namun bukan dari kalangan manusia. Tapi, kalangan makhluk gaib !

Entah darimana perasaan ini bermula. Aku menyukainya. Aku menyayanginya. Dan aku juga mencintainya. Menurutku ini salah. Aku memberikan seluruh perasaanku untuk Dia. Bukan untuk Shilla. Terkadang aku juga merasa bersalah karena melakukan hal abnormal seperti ini. Tapi, bagaimanapun juga, aku memang sudah terlanjur cinta dengan makhluk dua alam itu.

Dia kembali ke kehidupanku hanya pada bulan Maret dan bulan September. Hanya pada dua bulan itu Dia datang menemaniku sebulan penuh. Aku tak pernah tahu kemana perginya pacar – dunia – lain – ku itu selama sepuluh bulan yang lainnya. Setiap aku tanya, Dia selalu menjawab “Aku tidak bisa bertahan di satu tempat lebih dari sebulan !”

Apa dia pergi berselingkuh dan mengkhianati cintaku ?! Hal itu mungkin saja benar. Tapi, kenapa dia selalu melarangku untuk menjalin hubungan dengan orang lain ?! Sedangkan dia melakukan apa yang dia sendiri larang?

Bahkan dulu Dia melarangku untuk mencintai dan dicintai. Dia selalu mengancamku untuk membunuh orang yang aku cintai dan yang mencintaiku itu. Tapi, entah kenapa, September kemarin ini, dia tidak mempermasalahkan tentang perasaanku dengan Shilla yang juga diketahuinya.

“Aku nggak mau makan korban lagi…” itu balasannya saat kutanya alasan dia tidak memarahiku. Hmm… Cewe cantik yang aneh…

Pagi hari ini, aku dengan senyuman yang manis pergi ke sekolah diantar oleh supirku, Pak Udin. Di kelas, baru satu orang yang datang. Dialah Ray. Anak yang biasanya terlambat, saat ini datang paling pertama dibanding yang lainnya. Sesampainya di kelas, aku langsung mengambil tempat duduk di samping Ray. Dia terlihat tidak seperti biasanya di hari terakhir bulan Februari ini. Wajahnya pucat. Matanya melotot. Apa dia sakit ? Mungkin.

“Tumben banget elo nggak telat, Ray! Ada apa nih ?! Haha.” Aku meledeknya. Dia diam saja. Biasanya dia selalu merespon apa yang kuucapkan. Apalagi kalau aku mengejeknya.

Dia masih diam. Membisu. Tak menjawab ucapanku. “Hey?!” aku melayangkan tanganku dihadapannya. “Pagi-pagi nggak boleh bengong loh!” sambungku masih berusaha untuk membuatnya jengkel. Tapi, masih tidak berhasil. Dia masih terdiam di atas kursi menatap ke depan. Pandangannya masih kosong.

“Elo baik-baik aja kan Ray?” aku mulai cemas dia kenapa-kenapa di pagi hari ini. “Ray?” aku masih mencoba melayangkan tanganku di pandangannya. Lalu aku berinisiatif untuk memeriksa bagian pergelangan tangannya. Nadinya sudah TIDAK berdetak lagi! Aku masih belum yakin dengan prediksi awalku. Kucoba memegang bagian dadanya. Dan sama, jantungnya juga sudah TIDAK berdetak lagi! Kuperiksa bagian bawah hidungnya, dia juga sudah TIDAK bernafas lagi!

“RAY…!!! Kamu kenapa?!” aku panik. Tak tau harus melakukan apa. Kenapa bisa jadi seperti ini? Apa penyebabnya?! Ya Tuhan… Ray, apa yang terjadi?!

Aku hanya bisa menangis di dalam kelas. Aku tak tau alasan aku menangis. Entah karena aku tak mau kehilangan Ray, entah karena aku takut dituduh menjadi tersangka, atau mungkin karena hal lain yang tidak kuketahui alasannya.

Beberapa temanku yang lain mulai berdatangan satu per satu. Menatapku heran menangis di pagi hari ini. Tak ada yang peduli mengapa aku seperti ini. Mungkin karena imej-ku yang selama ini melekat sebagai anak artis yang sombong, sehingga tak ada yang mau menanyakan apa yang terjadi padaku dan Ray yang ada di sampingku.

Sampai pada akhirnya, Dea, sahabatku yang paling baik, datang dan mendekatiku. Dea mengangkat kepalaku yang tertunduk dan bersimbah air mata. Dea menatapku dalam. “Ada apa, Vin?!” tanyanya cemas.

Aku terus menangis. Tidak menjawab pertanyaan dari Dea itu. Aku masih terus menangis. Terus menangis. Dan semakin keras. Sehingga membuat Dea berbicara lebih tegas terhadapku. “Hei, apa yang terjadi?! Kenapa kamu menangis?!”

Aku berhenti menangis untuk sementara waktu. Mataku sembab. Memerah. Hidungku juga berair. Benar-benar basah. Aku berusaha untuk menahan air mata yang keluar. Walaupun berhasil, tapi isakanku tetap tidak bisa ditahan. Isakan yang keras terus keluar dari mulutku. Aku mengarahkan pandangan kepada Ray yang masih duduk kaku di sampingku. Dengan mata melotot.

Aku hanya menunjuk Ray pendek. Membuat Dea mengerti maksudku. Dia mendekati Ray. Dan dapat kulihat wajah Dea yang benar-benar shock saat juga mengetahui kalau Ray sudah tidak bernyawa lagi. “Di…dia?!” ucap Dea kepadaku sambil memperlihatkan wajah sedihnya.

Aku mengangguk dan kembali menangis. Air mata tak bisa kutahan untuk keluar. Air mata ini begitu mendesak untuk minta keluar menatap dunia.

Dea juga ikut menangis. Dia benar-benar histeris. Tangisannya lebih keras dibandingkan aku. Dea tidak bisa menerima kepergian Ray. Aku tahu, Dea memang memiliki “sedikit” rasa untuk Ray. Dan sebab itulah, Dea berteriak dengan keras yang mengundang teman-temanku yang lain untuk mendekat.

“Ada apa, Dea?!”

“Kamu kenapa?!”

“Kenapa kamu menangis?!”

Itulah beberapa suara yang kudengar dilontarkan untuk Dea. Tidak seperti saat aku menangis tadi. Tak ada yang peduli. Sekarang, sudah hampir satu kelas mengerumuniku yang berada di sebelah Dea yang menangis keras karena kepergian Ray yang entah kenapa.

“Apa yang dilakukan Alvin sama kamu, Sayang?!” Suara itu terdengar sangat jelas di telingaku. Ya, itu adalah suara Rio, pacarnya Dea, yang sekaligus adalah musuhku.

Dea tetap menangis. Tidak menjawab ucapan pacarnya itu. Begitu juga denganku. Menangis dengan menyebut nama “Ray” di tengah isakan kami.

Akhirnya, beberapa dari teman sekelas kami yang mengerti, langsung memeriksakan keadaan Ray. Dan tampak beberapa wajah kaget dari wajah mereka. Mereka juga ikut menangis. Ditinggal Ray.

Sudah beberapa menit kami semua menangis, datanglah Pak Joe, guru biologi kami yang sekaligus menjadi wali kelas kami, kelas 7SBI. Dan cekatan, Rio yang munafik itu, langsung mencari perhatian.

Kuangkat kepalaku sebentar untuk melihat apa yang dilakukan Rio. Dan kudapatkan Rio yang sedang berbisik kepada Pak Joe. Seketika, kulihat juga wajah kaget dari guru berwajah tirus itu. Ia berjalan mendekati kami. Dan bertanya yang terasa menusukku. “Apa benar kamu yang menyebabkannya meninggal, Alvin?” ucapnya menatap mataku dalam sambil memeriksa keadaan Ray.

Rasanya aku ingin berteriak keras mendengar tuduhan itu. Aku pun bahkan tidak mengetahui alasan Ray bisa meninggal. Aku tercengang mendengar apa yang diucapkan Pak Joe kepadaku itu. Kulihat teman-teman yang mengelilingiku. Mereka juga menatapku seperti tatapan Dea yang seketika berhenti menangis mendengar tuduhan guru biologi ku itu. Tercengang. Kaget. Dan tidak menyangka. Namun pandangan berbeda kudapat dari Rio yang tersenyum sinis.

“Apa yang dibilang Pak Joe itu benar, Vin?!” tanya Dea dengan mata sembabnya.

“A…apa?! Tidak!” Aku langsung membela diri dari tuduhan tanpa bukti itu.

Pak Joe kembali menggerakkan bibirnya itu yang di bagian atas ditumbuhi kumis-kumis tipis. Dan bertanya kepadaku dengan keras dan tegas. Yang membuatku sedikit ketakutan. “Lalu, kenapa teman kamu ini bisa meninggal?!” ucapnya sambil menunjuk Ray.

Aku kembali menangis. Psikologisku terguncang. Penyebabnya adalah karena tuduhan ini. Tuduhan yang dilontarkan oleh guru kesayanganku. Aku tidak menyangka kalau Pak Joe akan seperti ini kepadaku. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi disaat kusadari kalau di depan pintu kelas sudah berkerumun teman-teman dari kelas lain yang berusaha melihat apa yang terjadi di dalam kelasku ini. Mereka pasti akan memandangku sebagai anak gila yang berani menyebabkan sahabatnya sendiri meninggal.

“Aku tidak tahu, Pak!” Aku kembali membela diri sambil menghapus air mata yang menggenang di mata dan membasahi pipiku.

“Hmpft…” Pak Joe menghembuskan nafasnya berat. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika dilihat, dia juga merasa panik dengan apa yang dilihatnya di pagi hari ini. “Rio, mengapa kamu mengatakan kalau Alvin-lah yang menyebabkan Ray meninggal?!” Pandangan Pak Joe kali ini mengarah kepada Rio, yang sedikit bersembunyi di antara teman-temanku yang lain.

Rio keluar dari kerumunan itu. Ia menampakkan dirinya dengan ekspresi yang tidak berdosa. Ekspresi yang sejak dulu tidak pernah kusuka darinya. “Siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti itu, Pak?! Alvin adalah orang pertama yang menemui Ray di kelas ini. Dan, karena Ray itu adalah sahabatnya, bukan tidak mungkin Alvin mengetahui segala tentang Ray. Yang memudahkannya untuk melakukan hal seperti ini, Pak!” ucapnya dengan sangat lancar. Ya, itulah Rio, anak yang entah apa alasannya sehingga dia sangat membenciku. Aku merasa, selama aku bersekolah disini, aku tidak pernah membuatnya marah. Tapi, kenapa sikapnya terhadapku seperti ini?! Apa karena aku anak seorang artis?! Huft…

“Vin, tolong, bilang ke aku, kalau semuanya ini bohong!” Dea kembali bersuara. Menangis keras sambil mengguncang tubuhku yang sudah benar-benar lemas ini.

Aku menggeleng. Dengan masih terus menahan isakan dan tangisan. “Aku tidak tahu apapun!”

Tiba-tiba, dari kerumunan teman-teman yang mencoba melihat aku-Ray-Dea dengan dekat, muncullah Shilla, orang yang kusayangi itu. Melihat kerumunan itu, aku dan Dea yang menangis, Ray yang duduk kaku, Rio yang menatap sinis, dan Pak Joe yang terlihat tidak bisa mengatasi situasi, membuat Shilla menjadi panik. “Apa yang terjadi disini?!”

“Alvin menyebabkan Ray meninggal…” balas Gabriel, mantan Shilla langsung mengambil percakapan dengan wajah serius.

“Hah?! Serius?!” Shilla benar-benar kaget mendengar berita dari si ketua kelas itu. “Jangan asal tuduh Alvin! Dia nggak mungkin kayak itu, Yel!”

“Tapi, itulah yang kudengar dari Rio dan Pak Joe!”

Kulihat Shilla mengalihkan pandangannya kepada Rio dan Pak Joe yang berdiri bersebelahan. Dan kemudian, ia langsung bertanya dengan keras dan air mata yang siap jatuh dari matanya. “Rio, Pak Joe, apa yang terjadi dengan Ray?! Dan mengapa kalian menuduh Alvin seperti itu?!”

“Kalau kenyataannya memang seperti itu, gimana lagi Shill?!” balas Rio masih dengan senyuman mautnya itu.

“Rio, diam! Jangan tuduh Alvin yang nggak-nggak lagi! Kamu nggak ada bukti!” Dea mencuri percakapan memarahi pacarnya itu. “Nggak pernah aku nyangka kalau kamu kayak ini, Yo!”

Rio terdiam. Tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia tahu, Dea tidak suka kalau dia melakukan apa yang tidak disukai pacarnya.

“Pak, tolong kasih aku penjelasan tentang hal ini” ucap Shilla memaksa Pak Joe untuk berbicara.

“Bapak tidak tahu menahu tentang hal ini. Kita tunggu saja Pak Kepala Sekolah dan polisi datang kesini. Biar mereka yang urus.” Pak Joe membalas ucapan Shilla dengan sangat datar. Tak ada intonasi.

Sejurus kemudian, dari pintu masuk kelas, datanglah seorang bapak dengan rambut tipis diikuti beberapa orang lainnya. Dia adalah Pak Deri, si Kepala Sekolah, Bu Fatma, Wakil Kepala Sekolah, dan beberapa orang guru bidang studi lainnya. Mereka berjalan mendekati kami, kerumunan manusia yang terlihat panik dan sedang berduka. “Ada apa ini?!” tanya Pak Deri tegas.

Semua dari kami terdiam. Tak berani buka mulut, karena takut salah bicara. Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk angkat suara, mengatakan apa yang sedang terjadi. “Ray meninggal, Pak…” ucapku datar dan menunduk. Masih berusaha menahan isak tangis.

“Apa penyebab meninggalnya Ray?!” tanya Pak Deri lagi.

***

Tiga jam aku diinterogasi di Ruang Kepala Sekolah bersama Shilla, Dea dan Rio sebagai saksi. Kami berempat ditanyai oleh Pak Joe, Pak Deri, Bu Fatma, dan beberapa orang dari kepolisian. Dan di depan pintu, berkerumunlah teman-teman yang ingin mengetahui apa yang terjadi di ruangan ini. Sementara kami disini, jenazah Ray yang sudah dijemput orang tuanya sedang berada di rumah sakit untuk di visum. Aku berharap, hasil visum tidak ada yang mengarah kepadaku sebagai pelaku penyebab Ray meninggal.

Berkali-kali Rio menuduhku sebagai pelaku. Tapi berkali-kali juga Dea serta Shilla membelaku. Mereka tidak ingin aku dicap sebagai anak sejahat itu. Karena kalau sampai nama baikku jadi hancur, tidak hanya aku yang akan dikucilkan. Tapi juga akan berimbas kepada orang-orang dekatku.

Tiga jam itu sudah berakhir. Dan pada akhirnya, aku dibebaskan dari segala tuduhan. Bukan aku yang menyebabkan meninggalnya Ray. Karena dari hasil visum, Ray meninggal karena serangan jantung.

“Hah?! Ray kena serangan jantung?!” Ucap Shilla benar-benar kaget mendengar berita dari pihak keluarga. Selama ini, aku, Ray, Shilla, dan Dea selalu bersama. Dan kami tidak pernah tahu kalau Ray mengidap penyakit itu.

Pada hari itu juga, aku bersama beberapa teman sekelas, pergi berziarah ke tempat dimana Ray dimakamkan. Ya, keluarganya memilih untuk segera mengebumikan anak berambut gondrong itu. Isak tangis terdengar sangat jelas di area pemakaman ini. Dan kesedihan yang teramat sangat dapat dengan mudah dirasakan.

Selamat Jalan Ray, Kami Disini Sangat Mencintaimu!

***

Kepergian Ray di akhir bulan Februari ini begitu menyayat hati. Terlebih lagi karena pada awalnya aku dituduh sebagai pelaku yang menyebabkan kematiannya itu. Hmm… setidaknya sakit hatiku itu akan segera hilang. Karena, tepat pukul 00:00 nanti, pacarku yang sudah lama menghilang akan kembali ke kehidupanku. Dia.

Aku tidak bisa tidur memikirkan seperti apa pacarku itu akan datang nantinya. Kejutan apa yang akan diberikannya nanti, aku juga tidak tahu. Aku benar-benar merindukannya. SANGAT.

Ibuku belum pulang dari lokasi shooting. Ya, inilah kebiasannya. Dia terlalu sibuk di luar sana. Sampai sering pulang lama hingga larut malam seperti ini. Begitu juga dengan ayah. Sekarang sudah pukul 23:30, dan dia belum juga tiba di rumah. Aku hanya bisa menghilangkan kepenatanku dengan mengurung diri di kamar sambil online di laptop. Sebenarnya aku ingin sekali berbagi cerita tentang apa yang kualami hari ini kepada ayah dan ibu. Tapi, mereka terlalu sibuk.😦

Setengah jam lamanya aku chatting bersama temanku yang masih online di Facebook, sampai tepat pada pukul dua belas malam, angin yang lumayan kencang berhasil membuka jendela kamarku dan menerbangkan gordennya. Ya, inilah saatnya Dia untuk datang!

Angin semakin lama semakin kencang berhembus. Dan ikut menerbangkan ornament di dalam kamarku. Buku-buku, pakaian, dan benda-benda kecil lainnya ikut terbang. Beberapa darinya mengenai tubuhku. Pintu lemariku terbuka dan tertutup. Membuat seluruh isinya juga ikut bergabung dengan benda lainnya yang juga terbang. Aku berusaha untuk menghindari semuanya sambil melirik ke arah jendela. Berharap Dia cepat menemuiku. Aku ingin sesegera mungkin untuk menceritakan segala yang kurasakan enam bulan belakangan ini kepadanya.

Udara semakin terasa dingin, dan disaat itulah, Dia datang menampakkan dirinya kepadaku. Wajahnya yang penuh luka tidak lagi membuatku ketakutan. Auranya yang terasa dingin tidak lagi membuatku merinding. Ya, dia pacarku! Pacar yang paling kusayangi. Pacar yang kutemukan di lantai tiga sekolahku, Leader School Of Jakarta. Setelah kutemukan sosok itu sudah ada di hadapanku, jendela yang terbuka tadi dengan cepat dan sangat keras kembali tertutup. Gorden yang sejak tadi tertiup angin malam, kembali tenang. Dan seluruh ornament kamarku yang tadi beterbangan sehingga membuat kamar ini berantakan, kembali ke tempatnya semula dan kembali menjadikan kamarku ini rapi dan bersih seperti sebelumnya.

“Bertemu lagi denganmu, Sayang!” ucapnya agak keras. Menatapku sinis, dan sedikit menyunggingkan senyum dari bibirnya yang ada sedikit bercak darah. “Aku merindukanmu!” lanjutnya.

“I…iya Sayang! Aku juga kangen sama kamu!” balasku menunjukkan wajah bahagiaku.

Setelah kalimatku itu, Dia merubah wujudnya menjadi manusia. Wajah yang selalu muncul di mimpi-mimpiku setelah dan sebelum kedatangannya. Dia – dengan wujud manusianya, berjalan mendekatiku yang sedang menelungkup menatap layar laptop. Dengan segera, kututup laptop itu, dan meletakkan di atas meja yang bisa kuraih dengan jangkauan tangan. Langsung kuambil posisi duduk. Lalu kutatap wajah Dia yang sangat cantik itu. Memberikannya senyuman, dan dia pun membalasnya.

“Aku benar-benar merindukanmu!” Dia memelukku dengan cepat. Memberikan efek kaget yang sangat kepadaku. Namun aku menikmati pelukan itu, dan aku membalasnya. Kupeluk juga cewe itu dengan mesra. Hmm… ini pelukan yang selalu kutunggu-tunggu selama enam bulan terakhir ini. Ya, orang tuaku tidak pernah bisa memberikan waktu untuk memeluk mereka. Aku yakin, teman-temanku tidak akan pernah ada yang menyangka kalau aku bisa melakukan pelukan semesra ini. Karena di sekolah, aku dikenal sebagai anak yang pendiam. Sehingga tidak heran, kalau imej sombong benar-benar melekat pada diriku.

“Apa kabarmu selama enam bulan kutinggalkan?!” Dia melepaskan pelukannya terhadapku. Menatapku dalam. Dan masih tetap tersenyum. “Nggak ada masalah, ‘kan?”

Aku menunduk. Tidak berani memandang wajahnya. Karena bulan Septermber lalu, disaat ia akan pergi meninggalkanku, aku sudah berjanji untuk tidak terlibat masalah selama dia tidak ada. Tapi, kenyataannya, selama enam bulan ini aku benar-benar memiliki banyak masalah. Dan kau akan tahu, seperti apa Dia akan marah besar jika mengetahui semua ini. “Maafkan aku!” ucapku dengan nada menyesal.

“Masalah apa lagi yang kamu buat?!” sepertinya emosi Dia sudah mulai naik. Aku semakin menundukkan kepalaku. Berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi.

Aku pun dengan tetap menunduk menceritakan semua yang terjadi selama enam bulan terakhir aku tidak bersamanya. Dan disaat aku menceritakan hal yang paling sulit untuk kuterima, seperti meninggalnya Ray tadi pagi, dan seperti masuknya ayah ke dalam penjara selama dua bulan karena tuduhan korupsi yang membuatku menahan air mata dan isakan tangis, Dia mengangkat wajahku dan menatap mataku dalam. Seolah memberiku kekuatan untuk tetap berdiri. Lalu, dengan lembut, Dia berkata padaku. “Cowo nggak boleh nangis, lho!”

Ada yang berubah dengan sikap Dia. Biasanya, setiap aku mengeluarkan air mata atau melakukan tindakan yang bodoh, dia akan memarahiku. Menjambak rambutku. Dan mengeluarkan kata-kata kotor yang seakan menusukku. Tidak jarang Dia memanggilku dengan sebutan ‘bodoh’, ‘banci’, ‘anjing’, ‘anak sialan’, dan lainnya yang membuat hatiku sakit. Tapi, mengapa sikapnya terhadapku kali ini berubah? Apa yang terjadi padanya?!

“Di, aku masih mau dipeluk!” ucapku memandangnya dengan penuh harap.

Tanpa menunggu lebih lama, Dia langsung beraksi. Dia kembali memelukku dengan mesra. Ya, Dia menyayangiku. Dan aku pun begitu, sangat menyayanginya.

Malam ini adalah malam yang indah. Bercengkerama dengan Dia semalaman memang mengasyikkan. Bercanda dan tertawa bersama di malam hari ini benar-benar menyenangkan. Apalagi dengan sikapnya yang sudah agak berubah terhadapku. Lebih baik, lebih ramah, dan sangat bersahabat. Sampai tak kusadari, malam ini aku tertidur di pangkuannya yang masih berwujud manusia. Aku tidur di atas paha putih mulusnya. Dan Dia terus membelai rambutku sampai pada pagi hari aku kembali terbangun dari tidur indah itu.

***

Pagi kembali menyambutku. Senyum langsung tersungging dari bibir tipisku saat orang pertama yang kulihat pagi ini adalah pacarku tercinta. Dia Oktaviani (alm). Hmm.. Sungguh, benar-benar menyenangkan disaat orang yang kita sayangi ada di saat hari-hari baru ini akan berlanjut.

“Selamat pagi, pangeran tampanku!” ucapnya tersenyum manis. Ya, Dia memang selalu terlihat manis dan cantik walaupun dalam sosok hantu.

Aku membalasnya dengan sebuah senyuman simpul. “Selamat pagi juga, Putri cantikku!”

Aku yang tertidur di atas pahanya, langsung berusaha untuk bangkit mengambil posisi duduk. Tapi, saat aku dalam posisi setengah duduk, Dia menangkap dan menahanku. Aku yang kaget tidak bisa berbuat apapun. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan pacarku ini. Namun, aku segera mengetahuinya saat wajahnya didekatkannya kepadaku. Ciuman yang sudah lama tidak kurasakan kembali datang. Bibirnya yang hangat kembali bertautan di bibirku. Hangat. Nikmat. Mesra. Aku menyukainya.

Ciuman kami tidak berlangsung lama. Karena Dia yang melepaskan ciuman itu membuat aku harus pasrah. Dia menatap mataku lagi untuk kesekian kalinya. Dan melontarkan sebuah pertanyaan yang agak membuatku kaget. “Nanti pulang sekolah kamu ikut sama aku ya, Say!”

“Kemana?”

***

Tiba di sekolah, pandangan teman-temanku sangatlah aneh daripada yang sebelumnya. Kalau yang biasanya memandangku sinis dan seolah tidak menyukaiku, kali ini terasa lebih. Dari tatapan mata mereka, dapat kurasakan kalau mereka membenciku. Mereka masih menganggapku sebagai penyebab meninggalnya Ray. Dan dari pandangan mereka itu, dapat kudengar suara-suara halus di telingaku.

“Anak sialan itu datang lagi…”

“Sumpah, gue jijik ngelihat wajah dia tiap hari…”

“Gue harus bisa menyingkirkan anak pembunuh itu secepatnya”

Ya, aku bisa membaca pikiran mereka. Entah darimana aku mendapatkan hal seperti ini. Mereka benar-benar tidak menyukaiku. Mereka tidak menginginkan diriku. Argh.

Aku terus melangkah menuju ruang kelas tanpa memperdulikan ucapan-ucapan negative anak-anak itu. Dan saat aku sudah masuk ke kelas baru saja duduk di bangku, Dea dan Shilla memanggilku dengan nada suara yang tidak biasa. “Alvin!” ucap mereka serentak.

Aku menoleh. Mengarahkan pandangan ke arah suara. Dea dan Shilla mendekatiku. Semakin dekat, dan semakin dekat. Dan saat dua sahabatku itu berada tepat di hadapanku, mulut Shilla langsung bergerak mengucapkan kalimat yang membuatku sedikit terhenyak.

“Ternyata kamu masih berani datang ke sekolah ini…”

Apa maksud ucapan Shilla barusan? Mengapa dia menjadi seperti ini? “Ma…maksud kamu apa, Shill?”

“Hmm… Mungkin aku bisa menjelaskan.” Dea memotong pembicaraan. “…untuk apa kamu datang lagi ke sekolah ini, sedangkan kemarin kamu baru saja menyebabkan Ray meninggal?!” nada suara Dea pada akhir kalimat benar-benar keras. Membuat aku sedikit ketakutan melihat sikapnya yang tidak biasa ini. Berbicara sekeras itu kepadaku sambil menunjuk-nunjuk bukanlah kepribadian Dea! BUKAN!

“Aku nggak mau ngelihat wajah kamu lagi! Kamu jahat! Pergi dari hadapanku!” batin Shilla yang tertangkap olehku. Huft. Oke, kalau itu yang dia mau, itu yang akan didapatkannya.

“Jadi…?” ucapku lirih. Menatap nanar kedua sahabatku yang sudah berubah sikap itu. Mata mereka masih melotot. Seperti benar-benar tidak ingin melihatku lagi.

Shilla kembali bersuara. Ia meneriakiku. Sambil menunjuk ke arah pintu keluar. “Aku nggak mau kamu masih memperlihatkan wajah kamu itu di hadapanku! Aku nggak mau! Sekarang, lebih baik kamu balik ke rumah dan pikirkan apa yang membuat kamu dibenci semua orang!”

Aku tak berkutik. Aku hanya diam. Tak bergerak. Sampai Shilla kembali meneriakiku. “Kamu nggak dengar?! Ayo, cepat pulang sana! Sebelum guru datang!”

Dengan menundukkan kepala, kuambil lagi tas yang baru saja terletak di atas bangku itu. Dan kembali meletakkannya di pundakku. Lalu aku berjalan perlahan menuju pintu keluar dengan tatapan panjang dari teman-teman.

“Jangan pernah kembali lagi!”batin Shilla kembali terdengar olehku.

***

“Aku sudah menyangka, hal seperti ini pasti akan terjadi.” Ucap Dia saat aku memasuki kamar. Aku tak menghiraukannya. Langsung kuhempaskan tubuhku ke atas kasur. Aku menelungkup. Menutup wajahku dengan bantal. Dan membuat Dia yang berada di depan jendela berjalan mendekatiku.

“Huft…”

“Sayang, nggak usah terlalu dipikirin! Kan kemarin aku udah bilang, cowo nggak boleh nangis!” Dia membelai rambutku. Berusaha terus menghiburku.

Suasana hening sesaat. Diam. Yang terdengar hanya suara nafas beratku yang berusaha tidak mengeluarkan air mata.

“Di, yang ucapan tadi pagi itu, mau ajak aku kemana?!” aku memulai pembicaraan. Membalikkan tubuhku menatapnya yang masih terus membelai rambutku.

“Hmm… Cuma mau mengajak kamu bermimpi.” Balasnya singkat.

“Maksudnya?!”

“Kamu hanya butuh tidur. Dan kamu pasti akan tahu.” Dia tersenyum manis. Senyumnya selalu membuat hatiku tentram. Nyaman. Lega.

“Tidur?” tanyaku memperlihatkan wajah kikuk. Dia mengangguk. Dan meletakkan tangannya di wajahku. Membuat mataku tertutup, dan entah sejak kapan aku tertidur dan masuk ke alam mimpi.

***

“Dimana ini?” Aku menatap sekeliling. Semuanya hanya putih. Kosong. Tak ada siapapun.

“Ini duniaku, alam gaib. Bagaimana? Indah ‘kan?!”Balas Dia yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku yang membuatku terperanjat.

“Alam ghaib? Kamu membawaku kesini?! Di, apa aku sudah mati?! Bukannya dulu kamu bilang tidak akan melakukan hal ini?” Aku sedikit keras berbicara kepadanya. Aku takut kalau ternyata dia sudah membunuhku. Sehingga aku bisa tiba di tempat seperti ini.

“Haha… Kau sungguh bodoh, Vin!” sosok Dia seketika berubah menjadi sosok yang menakutkan. Dengan luka yang memenuhi wajahnya, kuku dan gigi taring yang panjang, dan bau darah yang sedikit membuatku mual. “Aku memang membawamu kea lam ghaib. Tapi bukan berarti kamu sudah mati! Bodoh! Aku tidak mungkin mengingkari janji kita dulu. Kecuali kalau kamu melanggar perjanjian itu.”

“La…lalu, untuk apa kamu membawaku kesini?!” aku semakin tidak mengerti dan ketakutan dengan sikapnya ini.

“Nggak ada apa-apa kok. Aku tidak tega melihat kamu yang benar-benar stress karena seluruh masalah yang menimpamu ini. Dan kalau kamu masih tetap berada di dunia nyata, aku tidak ingin kedatanganku mengganggumu.”

“Oh. Terima kasih Di.” Aku tersenyum. Akhirnya aku mengerti maksudnya. Dia bermaksud baik. Tidak punya niat jelek sedikitpun. Aku yang sebelumnya ketakutan, seketika seluruh ketakutan itu menghilang.

“Sama-sama. Bagaimana duniaku? Indah?” Dia kembali menanyakan hal yang belum kujawab tadi.

Aku kembali menyapukan pandangan. Semuanya masih sama. Kosong. Sepi. Tak ada siapapun. Yang kulihat hanya putih. “Haha. Indah kok. Hanya saja, sepertinya kurang rame. Hehe.” Aku cengengesan.

“Kalau disini rame, kurang asik ah! Kamu kan tahu kalau aku nggak suka sama tempat rame. Nanti aku nggak nyaman tinggal disini. Haha. Oh ya, Vin, bagaimana kalau kamu menemaniku disini selamanya?! Aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin kamu selalu bersamaku. Aku tidak ingin berpisah denganmu, Vin. Disini kita bisa hidup bersua dengan tenang. Kamu mau, ‘kan, Alvin?” Dia mengucapkannya dengan suara pelan. Namun sambil menatapku dalam. Seolah memintaku untuk menjawab dengan kata ‘iya’.

Aku benar-benar kaget mendengarnya. Apa maksud Dia berkata seperti itu?! Aku tidak ingin disini. Aku masih ingin hidup sebagai manusia. Aku tidak ingin berkeliaran di alam nyata dalam wujud yang tidak jelas. Ya, walaupun aku mencintai Dia, tapi aku tetap tidak ingin tinggal disini. TIDAK!

Aku tidak menjawab. Tepatnya, aku tidak tahu harus menjawab apa. Kalau aku menolak, aku takut Dia akan tersinggung. Kalau aku menerima, aku tidak ingin seluruh orang yang menyayangiku di dunia bersedih karena kehilanganku. Apa yang harus kujawab? Aku benar-benar bingung!

Aku menunduk. Berusaha tidak menatap matanya. Aku takut untuk menjawab. Huft. Ya Tuhan, aku mencintainya! Tapi tak ingin disini selamanya bersamanya! Apa yang harus kujawab?

“Kalau kamu menolak, nggak apa-apa kok. Aku nggak marah.” Dia kembali berubah menjadi sosok manusia cantik dengan senyuman manis. Walaupun tersenyum, raut wajah sedih dapat kulihat dari wajahnya.

Aku mengangkat kepalaku. Menatapnya lagi yang terlihat kecewa. “Maafkan aku, Di.” Ucapku singkat.

“Masih mau bermain disini?! Kamu bebas melakukan apa saja. Aku tidak akan melarang apapun yang akan kamu lakukan.” Dia menatapku dalam. Dan ia kembali tersenyum. Benar-benar manis.

“Apa saja yang bisa kulakukan disini? Tidak ada apapun yang bisa kugunakan untuk bermain!” ucapku.

“Haha. Kamu cukup memikirkan apa yang kamu inginkan. Dan benda itu pasti akan langsung muncul dihadapanmu. Tapi hal seperti itu hanya bisa kamu lakukan di alam ghaib ini.”

Aku menuruti ucapannya. Kupikirkan sebuah lapangan basket lengkap dengan ring-nya. Dan ajaib, sebuah lapangan basket yang besar langsung muncul dihadapanku.

Aku berjalan mendekati lapangan itu. Saat berjalan, kupikirkan sesuatu lagi, mengenakan pakaian basket. Dan saat itu juga, pakaianku langsung berubah. Tiba di lapangan, langsung ku ambil bola basket yang terletak di dekat ring sebelah timur dan menjepitkannya di ketiakku. Langsung kubalikkan badan menghadap Dia yang masih berdiri di belakang. Sedikit tersenyum, kutantang pacarku itu untuk bertanding. “Kalau kamu bisa mengalahkanku, aku akan lebih lama berada disini!” Aku mengadakan pertandingan dengan taruhan seperti itu agar Dia merasa sedikit tertantang dan mau ikut bermain bersamaku.

Dia sedikit tertawa. Wajah kecewanya sudah hilang. Dia yang semula mengenakan baju putih dengan celana jeans pendek hitam, saat berlari mendekati lapangan basket hasil pemikiran itu langsung berubah pakaian menjadi pakaian basket cewe yang membuat dia terlihat sangat sexy dan cantik.

Langsung ku dribble bola basket itu. Dan langsung membawanya ke ring milik Dia. Membuat Dia, lawanku, mengejarku sambil tertawa. Dia berhasil mengambil alih bola. Gantian aku yang mengejar bola darinya yang sedang berlari menuju ring-ku. Permainan ini sangatlah mengasyikkan. Tidak ada yang mengganggu. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang bisa memisahkan aku dan Dia.

Kira-kira satu jam kami bermain tanpa berhasil memasukkan sekalipun bola ke dalam ring, akhirnya kamipun berhenti untuk bermain. Keringat sangat banyak keluar dari tubuhku. Tapi tidak demikian dengan Dia. Pacarku itu hanya terlihat letih tanpa berkeringat. “Haus…” ucapku sambil berjalan ke pinggir lapangan. Aku langsung memikirkan air mineral botol untuk bisa kuminum. Dan air itu langsung muncul di hadapanku. Ku ambil langsung minuman itu dan meneguknya sampai kerongkonganku terasa basah dan hausku hilang. “Sungguh menyenangkan!” ucapku lagi menatap Dia sambil tersenyum.

“Ya, permainan ini sungguh menyenangkan.” Balas Dia saat dia sudah mengambil tempat di sampingku. “Kalau kamu ingin istirahat, kepala kamu boleh bertengger di bahu aku kok. Hehe.” Sambungnya lagi.

Aku menuruti permintaannya itu. Kurebahkan kepalaku di bahunya. Dan dibelainya rambutku dengan sayang. Sesekali kulirik dia yang dengan senyuman masih tetap membelai rambutku. “Aku sayang kamu, Di.” Ucapku.

“Aku juga sayang kamu, Vin.” Balasnya.

***

Aku terjaga dari tidur. Aku masih di atas kasur. Entah sejak kapan aku kembali ke dunia nyata ini. Aku tadi benar-benar terlelap di bahu Dia. Dan saat ini, Dia masih ada di samping ranjangku, memperhatikanku yang sedang menggeliat karena baru bangun tidur.

“Nyenyak?!” tanyanya.

“Haha. Kamu benar-benar iseng, Di! Tadi masih di alam ghaib, dan sekarang tanpa sepengetahuanku kita udah di dunia nyata lagi. Haha.”

“Aku nggak tega ngebangunin kamu hanya untuk kembali ke dunia ini.” Balasnya sambil menutup mulut karena menahan tawa. “Kamu udah tidur lelap di bahu aku sih. Makanya sayang aja kalau kamu bangun dan bahu aku kehilangan kepala indah itu.

“Dasar gombal!” aku mendorongnya sedikit. Dan membuat aku kembali tertawa bersamanya.

“Sekali-sekali nggak apa-apa dong?!”

“Terserah kamu deh sayang!”

Beberapa jenak, hanya suara tawa kami yang terdengar. Entah apa yang kami tertawakan. Padahal menurutku tidak ada yang lucu. Namun, tawaku dan Dia tidak sebentar. Tawa yang membuat perutku sakit itu berlangsung agak lama. Sampai suara dering HP-ku pertanda SMS masuk memecah kegembiraan kami ini.

Ku ambil segera handphone yang kusimpan di bawah bantal itu. Dan saat kulihat screen HP ku itu, nama Rio-lah yang terpampang dan membuat aku sedikit bertanya-tanya tentang apa isi SMS yang dikirimkannya itu.

Daripada membuatku mati penasaran, langsung saja kubuka inbox yang baru saja masuk itu. Dan setelah aku membacanya, benar-benar membuat aku kaget, sedih, dan kembali mengeluarkan air mata.

From : Rio

To : Alvin

Apa salah Pak Joe ke elo sih?! Masih kurang apa dia sebagai wali kelas kita?! Kenapa elo juga ngebunuh dia?! Nggak puas lo udah ngebunuh Ray?! Anak pembunuh nggak punya moral! Sialan lo!

“Di, aku nggak tahan dituduh kayak ini terus! Aku nggak melakukan apapun, tapi diperlakukan kayak ini! Apa salah aku ke mereka?! Kenapa mereka menuduh aku mulu?!” Aku langsung menangis dengan air mata yang deras ke pacarku itu. Mengeluarkan emosi yang sejak kemarin diberikan kepadaku. Aku juga berteriak untuk mencoba mengeluarkan seluruh rasa sakit ini.

Dia yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi padaku setelah membaca pesan masuk baru itu, langsung menatapku yang sedang menangis dengan dalam. Mungkin dia sedang membaca pikiranku. Dan kira-kira setelah dia mengetahui apa yang terjadi, tangisanku diredakan olehnya dengan sebuah senyuman dan belaian lembut. Dia kembali menatapku dalam. dan kembali mengucapkan kalimat yang sama seperti yang kemarin dan tadi pagi diucapkannya. “Udah,… cowo nggak boleh nangis! Malu lho!”

“Gimana aku nggak nangis, Di?! Dituduh kayak ini terus nggak enak! Nama aku jadi jelek di sekolah nantinya! Aku bukan pembunuh! Bukan!”

“Vin, dengarin gue!” Nada suaranya meninggi. Cara bicaranya berubah. Yang biasanya menggunakan kata panggilan ‘aku-kamu’, untuk kali ini berubah menjadi ‘gue-elo’. Jadi, kupikir ini adalah saat dia akan marah. Hal ini membuatku sedikit takut dan mau tidak mau aku harus menuruti permintaannya. Mendengarkan apa yang akan dia katakan sambil menahan air mata yang keluar. “Cowo itu nggak boleh nangis! Ingat ya, gue nggak suka cowo yang banci. Cuma cowo banci dan pengecut yang nangis! Sekarang, tenangin dulu diri elo. Semuanya pasti bakalan baik aja! Walaupun elo dituduh yang nggak-nggak kayak sekarang ini, tapi kalau elo nggak ada di TKP, elo bisa berkelit kalau dituduh jadi tersangka. Bahkan elo aja nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Pak Joe. Iya, ‘kan?! Nggak usah cemas! Gue selalu ada untuk elo kok, Say!” Dia berbicara sangat tegas. Membuat aku hanya bisa menurutinya. Mendengarkan apa yang diucapkannya, adalah satu kewajibanku kalau dia sudah marah.

“I…iya… Aku ngerti, Di! Aku ngerti!” balasku dengan sesenggukan.

***BERSAMBUNG…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: