Keep Spirit! I Will Fine!

2

Februari 7, 2011 oleh kikisenyo

Keep Spirit! I WILL FINE!

Langkahku dengan mantap terus meniti trotoar. Sebentar lagi aku sampai. Senyumku merekah saat melihat bangunan putih itu sudah tidak jauh lagi. Kira-kira lima menit lagi aku akan bertemu dengan orang yang aku cari disana.

Aku terus melangkah. Tidak ada yang menghalangi langkahku. TIDAK! Niatku untuk cepat sembuh akan segera terwujud.

Sekarang, aku sudah memasuki area rumah sakit. Dan dari kejauhan dapat kulihat DR. Dave Randy Hutapea, atau yang biasa kupanggil Dokter Randy, sedang memainkan jari-jarinya di atas keypad handphone-nya. Dan aku tau kalau dia bermaksud untuk menghubungiku.

Aku setengah berlari mendekati Dr. Randy yang sepertinya sudah lama menungguku disitu, di depan IGD. “Dokter…” sapaku sambil terus berlari mendekatinya dan melambaikan tangan dengan sedikit menyunggingkan senyuman di bibir.

“Daritadi dokter tunggu, kenapa baru datang sekarang?” tanyanya dengan wajah sedikit kesal.

“Ma…maaf Dok… Aku harus cari alasan yang banyak ke kedua orangtuaku…” balasku lirih dan menundukkan kepala tanda penyesalan.

Aku mengangkat kedua kepalaku. Kulihat Dokter Randy menatapku iba dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat aku kembali menundukkan kepalaku.

“Kamu masih belum memberitahu orangtuamu tentang hal ini?!” Pria paruh baya itu memulai penyelidikannya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Aku merasa bersalah. Aku tidak pernah mau menuruti perintahnya untuk memberitahukan kedua orangtuaku tentang penyakit yang kuderita, yang mengharuskan aku untuk datang ke rumah sakit ini sekali dalam dua minggu.

Banyak alasan yang membuat aku tidak ingin memberitahukannya kepada mama dan papa. Aku tidak ingin terus dicap sebagai anak lemah. Aku tidak mau dipandang remeh seperti itu. Cukuplah di SD saja semua orang menganggapku anak lemah!

Aku juga tidak ingin membuat mama dan papa susah mencarikan biaya terapi, obat, dan segala macamnya itu. Aku takut orangtuaku itu mengatakan aku sebagai anak yang selalu membuat susah. biarlah aku sendiri yang mengumpulkan semua biayanya yang aku kumpulkan dari uang belanjaku atau dari kiriman biaya sekolah yang dikirikan tanteku yang lumayan “berada” di Jakarta sana.

Satu hal lagi yang membuat aku tidak pernah mau memberi tahu orangtuaku tentang penyakit berbahaya dan mematikan ini, karena aku tidak ingin mereka mengusahakan uang untuk biaya operasi! TIDAK! Tahu kenapa?! Karena keberhasilan operasinya hanya satu dari lima kasus. Dan kalaupun operasinya berhasil, kemungkinan aku untuk tidak menjadi gila, amnesia, atau meninggal juga hanya ada satu dari lima kasus. Jadi, untuk bisa sembuh dari penyakit ini, aku harus menjadi orang yang paling beruntung di antara orang-orang beruntung. Dan aku tidak mungkin mendapatkan posisi itu!

Selain itu biaya operasi yang mahal ; 1.5 milyar, juga yang membuat aku ingin menyimpan semua ini sendiri. Cukup Dr. Randy yang mengetahui ini. Bahwa aku mengidap Kanker Otak Stadium 2!

“Oke, Dokter bisa ngertiin kamu.” Dokter Randy mengangkat kepalaku. Membuat aku mendongak untuk menatap matanya yang juga ikut berbicara. “Ayo ke ruangan praktek Dokter! Jangan menunda waktu lagi…” sambung pria berjanggut hitam pendek itu menarik tanganku dan membawaku ke ruang prakteknya.

Hanya Dokter Randy yang bisa mengerti aku. Dia seperti bisa merasakan kalau dia ada di posisiku. Dia juga sangat bisa dipercaya untuk menjaga rahasia besar ini.

Kami menjauh dari gedung rumah sakit yang dibuat khusus untuk Instalasi Gawat Darurat itu. Tidak sampai tiga tanganku ditarik olehnya, kami berdua sudah berada di ruang prakteknya, yang di depan ruangan ini terpampang sebuah papan nama yang bertuliskan Prof. DR. Dr. DAVE RANDY HUTAPEA, SPESIALIS ANAK BAGIAN PENYAKIT DALAM.

Sekarang aku sudah duduk berhadapan dengannya di meja dinas berwarna coklat dengan pajangan setifikat-sertifikat membanggakan yang diraihnya.

Dokter Randy menatapku dalam. Lalu mengucapkan kalimat yang membuatku sedikit bingung dan tidak mengerti. “Kamu ingat ucapan terakhir yang Dokter ucapkan?!”

Aku tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku sudah lupa dan tidak ingat lagi tentang hal yang dimaksudkannya itu. Aku memasang wajah kikukku. Menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Lalu membalas ucapannya itu dengan sedikit nyengir. “A…apa Dok?!”

“Kamu benar-benar nggak ingat?!” tanyanya dengan ekspresi kaget. Aku menggeleng. Dan membuat dia menghembuskan nafas karena kalah membalas ucapanku. Dia menghembuskan nafasnya itu dengan berat dan ikut menggaruk-garuk kepalanya.

“Terakhir kali kamu kesini, aku sudah mengatakan dengan jelas, kalau kamu jangan balik lagi kesini kalau belum memberi tahu orangtuamu…”

“Jadi sampai sekarang Dokter belum bisa mengerti dengan keadaan aku?!” balasku meninggikan nada suara.

Dokter Randy seperti kehabisan kata-kata. Dia gelagapan untuk membalas ucapanku. Dia kelihatan panik untuk mencari kalimat yang tidak menyinggung perasaanku, namun dapat mengutarakan maksudnya dengan jelas.

“Bu…bukan gitu! Dokter… dokter sebenarnya kasihan lihat kamu… biaya kemo selalu kamu yang tanggung…” Dokter Randy bingung menjelaskan maksud sebenarnya dari kalimatnya itu. Bisa dilihat dari gelagatnya yang menggaruk-garuk kepala. “Seandainya orangtua kamu tahu tentang kanker yang kamu derita, setidaknya mereka bisa sedikit mengawasi kamu… Dan… dan kamu nggak usah lagi terbebani dengan biaya kemoterapi dan obat yang mahal…” Emosi Dokter Randy sudah netral. Wibawanya kembali bisa kulihat.

“Dok, sebaiknya kita nggak membahas ini deh! Dokter tahu, kalau sampai kapanpun hanya kita berdua saja yang tahu tentang penyakit ini!” ucapku kembali menaikkan nada suara dan berdiri dari kursi. “Maksud aku datang kesini bukan untuk membahas hal nggak penting kayak ini! Tapi untuk kemo!” Aku berjalan mendekati kasur untuk pasien. Setelah itu aku langsung berbaring disana dan kembali melihat Dokter Randy yang masih terdiam di tempat duduknya. “Sekarang layani aku! Aku pasti bisa sembuh!”

Dokter ganteng yang memiliki pipi tirus itu bangkit dari duduknya. Lalu berjalan dengan mantap menuju etalase besar tempat dia meletakkan alat-alat medis dan obat-obatnya. Etalase itu berada di pojok ruangan. Sehingga untuk bisa kesitu, Dokter Randy harus melewati ranjang yang aku tiduri ini. Namun, tidak sedikitpun dia melihatku sampai dia membuka etalase dan mengambil sebuah stetoskop dan suntikan.

Dokter Randy kemudian mendekatiku dengan leher mengalungi stetoskop dan tangan yang memegang suntikan. Dia memberikan sebuah senyuman manis kepadaku. Lalu bertanya dengan tegas. “Sudah siap?”

Aku mengangguk. Dan menjawabnya dengan tak kalah tegas. Dan menunjukkan sebuah senyuman manis untuk dokter ganteng itu.. “Sudah…”

Dokter Randy kembali meninggalkanku dan mengambil sebuah botol kecil dengan cairan bening di dalam etalasenya.

Setelahnya, dia kembali ke samping ranjangku.Dan langsung mengambil tindakan selanjutnya. Memasang banyak peralatan medis di bagian sekitar kepalaku. Benda-benda itu berbentuk bulat dan berukuran kecil. Dan memiliki sebuah kabel panjang di setiap bulatan putih itu yang terhubung ke sebuah alat besar lainnya yang berada di atas meja di samping ranjangku.

Aku hanya bisa diam saat diperlakukan seperti itu. Aku tidak mungkin menolaknya. Karena semua ini dilakukan Dokter Dave demi kesembuhanku.

“Dok…” ucapku lirih.

“Ada apa?” tanyanya memasang wajah tetap serius saat menatap obat bius yang dimasukkannya ke suntikan.

“Aku akan sembuh ‘kan?”

“Kamu hanya butuh keyakinan… Dan terus berdoa… Itu saj!” balasnya dengan dewasa. “Oke, kamu sudah benar-benar siap?” Dia kembali menanyakan persiapanku. Aku mengangguk mantap. Dan kemudian aku menutup mata dengan sangat rapat saat jarum suntik menusuk tanganku.

“Argh…” Aku mengerang.

Setelah jarum itu masuk seluruhnya di tangan kananku, dan Dokter Randy sudah memasukkan cairan bius itu, kemudian mencabut suntikan itu kembali, entah sejak kapan saja aku tidak sadarkan diri.

***

Aku membuka mataku. Menatap sekeliling ruangan. Pandanganku kabur. Namun lama kelamaan kembali jelas sebelum aku dibius tadi. Kemoterapi hari ini sudah selesai. Kepalaku sudah tidak terasa sakit lagi. Sudah menidngan.

“Dok…” aku memanggil orang yang sudah kuanggap sebagai ayah keduaku itu yang sedang menulis di meja dinasnya dengan suara lemah. Aku masih belum bisa bersuara keras.

“Apa?” tanyanya terus melakukan tugasnya.

“Terima kasih…” balasku memberikan senyuman puas untuknya.

“Sama-sama…”

Lama aku hanya bisa terdiam di atas ranjang itu. Menatap orang yang selalu membantuku menjaga rahasia besar ini. Dia masih sibuk menulis. Mungkin memberikanku obat jika seketika aku merasakan pusing yang luar biasa.

“Kamu sudah mendingan?!”

“Sudah…” aku berusaha untuk duduk. Menahan berat kepalaku yang tiba-tiba terasa memiliki bobot yang berat.

Dokter Randy berdiri dari kursinya. Menatapku iba untuk sementara waktu. Lalu mengalihkan pandangannya keatas meja dan mengambil sebuah bungkusan dan sebuahh kertas besar berwarna hitam yang ada di atasnya. Kemudian berjalan mendekatiku yang masih terduduk membatu di atas ranjang. “Ini hasil ronsen otak kamu. Tumornya sudah agak jinak.” Ucapnya memperlihatkanku kertas hitam besar itu. “Dan ini obatmu. Jangan lupa untuk dimakan. Oke boy?” ucapnya dengan nada suara lembut dan memberikanku bungkusan itu. “Biaya obat ini biar dokter saja yang tanggung…” sambungnya dengan nada yang masih sama. Baik. Ramah. Lembut.

Aku mengambil hasil ronsen dan obat itu. Aku menunduk. Menyatakan apa yang ada dipikiranku saat ini. “Dok… sudah berkali-kali aku membuatmu susah karena penyakit bodoh ini… Sudah berkali-kali juga aku membuatmu jengkel karena ulah nakalku yang tidak pernah mau memberitahukan orangtuaku tentang ini semua… Tapi,.. tapi kenapa kau masih baik padaku?! Maaf sudah membuatmu repot…”

Dia mengusap kepalaku lembut. Penuh sayang. Menatapku dalam. Dan kembali angkat suara. “Tidak usah minta maaf. Inilah yang namanya hidup!” balasnya masih setia memberikanku senyuman manisnya. “Setengah dari biaya kemo kamu, biar aku juga yang tanggung. Aku tidak bisa membiarkan anak sekecil kamu untuk membiayai diri sendiri untuk pengobatan dengan tanggungan sebesar ini. Tolong diterima…”

“Te…terima kasih Dok!” aku terharu. Kedua pelupuk mataku sudah agak basah. Namun tidak akan turun untuk meluncur mulus di pipi ini. Dokter Randy memang sangat baik. “Maaf, tapi aku tidak ingin hhasil ronsen ini dibawa pulang. Aku tidak ingin orangtuaku atau yang lain tau tentang hal ini. Mungkin sebaiknya kalau photo ini dokter saja yang simpan…” aku memberikan kertas photo besar itu. Dan dia menerimanya.

“Sekarang kamu boleh pulang. Jaga makanan. Jangan sampai kamu makan pantangan kamu lagi. Biar kamu bisa sembuh!”

“I…iya Dok… Terima kasih…” aku turun dari ranjang. Lalu berjalan berdua bersamanya menuju kasir untuk membayar seluruh biaya kemo ini. Aku hanya mengeluarkan uang 800 ribu. Dan selebihnya ditanggung oleh Dokter Randy. “Terima kasih Dok… Terima kasih!” Aku menyalaminya. Lama kuletakkan tangannya yang lumayan kasar itu diwajahku. Hangat. Penuh dengan naluri seorang ayah. “Aku pulang dulu… Bye Dok!” aku berlari meninggalkannya sambil melambaikan tangan.

“Bye! Kalau ada problem, telpon aja Dokter ya!” balasnya setengah berteriak dan ikut melambaikan tangannya dengan tetap menunjukkan senyum khasnya itu.

“Sip!”

Keluar dari area rumah sakit, aku langsung mengambil tempat di pinggir jalan. Menunggu angkot untuk kembali ke rumah. Dan saat aku sudah menemuinya dan langsung masuk, di tempat dudukku, aku bertekat untuk terus bersemangat menjalani hidup ini. Harus selalu tersenyum. Dan tidak memperlihatkan kepada siapapun tanda-tanda kalau aku sakit.

KEEP SPIRIT! I WILL FINE! GOD ALWAYS BLESS ME!

2 thoughts on “Keep Spirit! I Will Fine!

  1. niezz. icha mengatakan:

    god job Bro!! aku suka yang ini… kembali dlm dunia tulis menulis kah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: